Mutiara

Kiai Idris Brebes Membangun Lumpur

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Membangun pesantren di bekas rawa-rawa, kiai asal Cirebon ini minta dikubur di kedung sungai. Warisan masjid dan pesantrennya yang dibangun pada akhir abad ke-19 masih berdiri sampai sekarang.

Kiai Haji Idris Brebes adalah pendiri Pondok Pesantren Lumpur, Limbangan, Losari, Brebes, Jawa Tengah.Pesantren ini sekarang bernama Yanbu’ul Ulum, dan membuka sekolah umum. Kiai asal Cirebon ini juga tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Islam di kota penghasil bawang dan telur asin itu.

Ia anak pasangan Nyai Musyarafah dan Kiai Ahmad Sholeh. Kakeknya, Kiai Nasim, adalah ulama yang dihormati di wilayah Desa Kalirahayu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon. Kyai Idris anak kedua dari lima bersaudara yaitu Kiai Ismail, Kiai Nuruddin, Nyai Maimunah, dan Kiai Muhammad. Mula-mula ia belajar agama kepada ayahnya. Setelah itu ia belajar selama beberapa tahun di Mekah,

Dikisahkan, ketika baru sampai Desa Mundu Pesisir -berada di kabupaten Cirebon-Bandung dalam perjalanan menuju Mekah, ia mampir di sebuah langgar di pinggir jalan untuk shalat dan istirahat. Ketika bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Cirebon, ia mendengar orang sedang membaca Alquran dengan suara yang merdu, makhraj dan tajwid yang sempurna. Akhirnya ia berhenti sejenak untuk mendengarkan bacaan Alquran tersebut. Kemudian laki-laki setengah baya datang menghampirinya. Ia adalah ayah dari pemilik suara merdu yang membaca ayat suci Alquran itu. Orang tua itu kemudian menikahkan Kiai Idris dengan anaknya, Soimah, yang kemudian menemaninya ke Mekah.

Di Mekah, Idris belajar kepada sejumlah ulama besar seperti Syaikh Abu Bakar bin Syattha, penyusun kitab l`ānatuţh-Ţhalibīn, dan Syaikh Zaini Dahlan. Ia belajar berbagai disiplin ilmu termasuk aurad dan tarekat, sehingga ia menjadi salah seorang mursyid tarekat Qadiriah-Naqsabandiyah dan menjadi mujiz Dalailul Khairat yang pertama di Pulau Jawa.

Sepulang dari Mekah, Kiai Idris tinggal di rumah mertuanya di Mundu Pesisir sampai lahir dua anak, Umar dan Amir. Yang terakhir ini kelak dikenal sebagai KH Amir Idris, pendiri pesantren pertama di Pekalongan. Di sini Kiai Idris mengadakan pengajian untuk penduduk setempat. Melihat kedalaman ilmunya, sang mertua menganjurkan Idris pergi ke arah timur mencari tanah rawa yang dilingkari sungai.

Sesampainya di tanah rawa yang dimaksud, Kiai Idris membersihkan tanah tersebut dan menebang pohon-pohon, semak-semak, kemudian membangun masjid, pondok, dan rumah. Kiai Idris pun tinggal di kampung barunya itu yang semula bernama Kampung Jatisari yang kemudian berganti nama menjadi Lumpur. Tidak berapa lama kemudian, Pesantren Lumpur menjadi sebuah pesantren yang ramai oleh para santri yang datang dari berbagai daerah.

Demi memenuhi keinginan kedua anaknya belajar di Mekah, Kyai Idris berangkat ke Mekah menemani kedua putranya. Ketika itu, usia Kiai Idris sudah sangat lanjut, maka urusan Pesantren Lumpur diserahkan kepada menantunya dan keponakannya yaitu Kiai Abdullah Mura’i dan Kiai Dahlan bin Mas’ud. 

Selama bermukim di Mekah, Kyai Idris berteman akrab dan seperguruan dengan Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, keduanya sama-sama murid Sayyid Abu Bakar Syatha (w. 1310 H) dan Sayyid Zaini Dahlan (w. 1304 H). Karena kedekatan itu maka kedua anak Kiai Idris dititipkan kepada Syaikh Mahfudz untuk dididik.

Setelah beberapa tahun mereka bermukim di Mekah, Kiai Idris dan Umar pulang ke kampung halaman, sementara Amir tetap tinggal di Mekah. Sesampainya di kampung, keduanya kembali mengajar di pesantren dibantu oleh menantu dan keponakan Kiai Idris. Kiai Umar memimpin tarekat, sementara itu Kiai Abdullah Mura’i mengajar tauhid, fikih, dan tasawuf. Adapun Kiai Dahlan yang bergelar shahibush shaut (sang empunya suara merdu) mengajar Alquran, tafsir, dan hadits. Kai Idris juga dibantu oleh Kiai Kadnawi yang mengajarkan Alquran dan tuntunan shalat di masyarakat.

Semakin lama, Pesantren Lumpur makin semarak. Santrinya berdatangan mulai dari Cirebon sampai Indramayu, Subang, Karawang, Kuningan, Brebes, Tegal, Pekalongan, dan lainnya. Kampung Lumpur pun dikenal sebagai tempat menuntut ilmu syariat dan juga menjadi pusat kegiatan tarekat Naqsabandiyah dan wirid Dalailul Khairat.

K.H. Idris wafat pada tahun 1915. Sesuai dengan pesannya, ia dimakamkan di bawah kedung yang ada di tengah-tengah sungai di sebelah utara kediamannya.***

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda