Tafsir

Hanya Kepada-Mu Kami Menyembah (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Maksud “hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” Menurut Syekh Nawawi al-Jawi, ulama asal Banten abad ke-19, itu berarti  “hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan dalam hal ibadat kepada-Mu. Tidak ada daya menghadapi semangat pembangkangan kecuali dengan penjagaan-Mu, dan tidak ada kekuatan menjalani ketaatan kecuali dengan taufik-Mu.”

Satu Jengkal dan satu hasta

Maka ketika Allah menganugerahkan kepada hamba-Nya kenikmatan salat, Ia membaginya untuk Diri-Nya dan untuk hamba-Nya, seperti difirmankan-Nya melalui lidah Nabi-Nya a.s.,  “Aku membagi salat antara Diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua, separuhnya untuk-Ku dan separuhnya untuk hamba-Ku. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta.”

Maka dengan yang separuh itu hamba mendekat ke haribaan kesempurnaan-Nya dengan puja dan puji terima  kasih atas sifat –sifat keindahan-Nya dan keluhuran-Nya, dan Tuhan pun mendekat sesuai dengan kedermawanan-Nya dan kepenganugerahannya—seperti firman-Nya,  “Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta”—dengan yang separuh lagi, dengan melepaskan hamba-Nya dari belenggu perbudakan oleh yang lain, dengan mengeluarkannya dari kegelapan yang lapis dan berlapis, dari hawa nafsu manusia, kehendak hati dan ketergantungan ruh pada yang bukan kebenaran, kepada cahaya keesan-Nya dan penyaksian ketunggalan-Nya.

Maka bersinarlah bumi jiwa dan seluruh langit kalbu dan arasy sukma dan mahligai sirr dengan cahaya tuhan mereka. Maka berimanlah mereka keseluruhannya kepada Allah yang telah menciptakan mereka, sedangkan Dia pemilik mereka dan raja mereka, dan ingkarlah mereka kepada berhala-berhala mereka yang mereka sembah, dan berpeganglah mereka pada tali yang andal. Semua menjadikan mereka satu—dan berkata,  “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”  (Burusawi, I:18-19).

Ada satu lirik lagu dari seorang cendekiawan muslim Kanada, yang juga menggambarkan bersatunya berbagai unsur untuk satu muara yang sama, meskipun unsur-unsur itu adalah berbagai agama dan sistem kepercayaan, dan kesatuan itu dibayangkan terjadi pada hari kiamat. Petikannya:

    The yogi, swami, rishi too

Bow to Allah the One

And the christian, budhist, hindu too

Unite when Day is done

Semuanya bersatu, dan semuanya menghaturkan sembah:  “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Tetapi apa maksud “hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”?  Menurut Syekh Nawawi al-Jawi, ulama asal Banten abad ke-19 yang hidup di Mekkah dan menulis dalam bahasa Arab, itu berarti “hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan dalam hal ibadat kepada-Mu. Tidak ada daya menghadapi semangat pembangkangan kecuali dengan penjagaan-Mu, dan tidak ada kekuatan menjalani ketaatan kecuali dengan taufik-Mu” (Marah Labid, Tafsir An-Nawawi, I:3).

Burusawi juga menyebut pertolongan “dalam hal ibadah kepada-Mu”  Tapi juga, “dalam hal yang kami tidak mampu menanggungnya, atau dalam memerangi syaitan yang menghalangi ibadat kepada-Mu, atau dalam hal-ihwal kami yang memberikan maslahat kepada kami dalam urusan dunia kami dan agama kami.”  Di atas segalanya, “Kami mohon kepada-Mu untuk menolong kami dalam melaksanakan hal yang benar, menegakkan yang fardu, menanggung hal-hal yang tidak disukai, dan menuntut hal-hal yang bermanfaat.”

Ibrahim dan Nemrod

Adapun disebut ibadah lebih dahulu sebelum memohon pertolongan, dalam ayat, adalah untuk menyesuaikannya dengan pangkal-pangkal ayat, juga untuk diketahui bahwa mendahulukan sarana atau jalan bagi pemenuhan suatu hajat lebih membawa kemakbulan. Berhimpunnya ibadah dan memohon pertolongan itu sendiri berarti berhimpunnya kebanggan (iftikhar) dan perendahan hati (iftiqar). Kebanggaan disebabkan kedudukan kita sebagai hamba yang menyembah (hamba Allah, status yang sangat tinggi), dan perendahan diri demi kebutuhan akan pertolongan, akan taufik dan pemeliharaan-Nya. Diriwayatkan bahwa Sufyan at-Tsauri, rahimahullah, suatu hari mengimami salat magrib. Ketika membaca  “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepad-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan)”, ia jatuh pingsan. Ketika siuman, dan orang bertanya, jawabnya, “Aku khawatir sekali akan dikatakan:  ‘Jadi mengapa kamu pergi ke pintu-pintu para tabib dan sultan?’” (padahal kamu mengaku hanya Allah tempat kamu memohon pertolongan?)

Begitulah. Bagi para ulama yang “normal”, meninggalkan sarana duniawi, khususnya seperti tabib (dokter), dalam usaha penyembuhan penyakit, berarti meninggalkan ikhtiar, dan itu tercela menurut agama. Tapi bagaimana bila sudah menjadi pekerti orang-orang tasawuf tertentu bahwa, saking ridhanya mereka kepada semua keputusan Allah mencobai mereka dengan suatu bentuk penderitaan, mereka tidak ingin penderitaan itu pergi kecuali Allah Sendiri yang menghendakinya? Termasuk dalam hal penyakit. Yang juga mereka jadikan alasan ialah yang juga dituliskan Burusawi selanjutnya, tanpa sanad (rantai periwayatan), sebagaimana kebiasaan kalangan sufi, mengenai ujian bagi Ibrahim a.s. Diikat tubuhnya oleh Raja Nemrod (Namrudz), Ibrahim konon ditanya Jibril: “Ada suatu keperluan?”

“Kalau kepada kamu, tidak,” jawab Ibrahim.

“Mintalah kepada-Nya” kata Jibril lagi.

Jawab Ibrahim,  “Aku cukupkan permohonanku pada pengetahuan-Nya mengenai keadaanku.”

Jadi, ia tidak memohon—karena tahu bahwa Allah tahu. Nemrod kemudian melemparkan nabi besar ini ke nyala yang berkobar-kobar. Lalu, belakangan, kita menghafal firman Allah dalam kasus itu: “Wahai api, jadilah kamu sejuk dan damai buat Ibrahim” (Q. 21:69). (lih. Burusawi, I:20).

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panjimas, 27 November-12 Desember 2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda