Muzakarah

Salat di Gereja dan Tempat Ibadah Bersama

Salah satu sudut bandara Changi Singapura (unsplash.com)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Baru-baru ini saya transit di Bandara Changi Singapura. Ini adalah bandara, menurut saya, dengan pelayanan yang cukup prima, dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Pertunjukan film dan penginapan pun tersedia di dalamnya. Tapi, adayang kurang, yaitu mushalla (jadi kita masih menang dalam hal ini). Ketika saya tanya kepada petugas informasi, mereka bilang, meeka menyediakan satu tempat ibadah yang bisa dipakai siapa saja. Boleh dari Hindu, boleh dari Buddha, boleh dari Kristen, boleh pula dari Islam. Mendengar penjelasan seorang ustadz, beberapatahun lalu, ketika berada di Amerika Serikat, saya diberi tahu oleh pemimpin kelompok muslim di sana bahwa mereka biasa menyewagereja untuk salat Id. Gereja itu masih dipakai, tapi jarang-jarang. Kita tahu kan, banyak gereja di negara-negara Barat yang sekarang ini kosong saat hari kebaktian tiba. Ustadz, bagaimana hukumnya salat di dua tempat itu?

Ketika berada di Amerika, dalam program homestay, saya menginap di rumah orang Kristen yang cukup taat. Di kamar yang saya tempati terdapat salib digantung di atas dinding. Waktu itu, saya tak peduli. Saya salat saja di situ. Ustadz, bolehkah kita salat di rumah orang Kristen? Bagaimana kalau di situ ada salibnya?

Heru, Jakarta

Jawaban Tim Muzakarah:

Pertanyaan Anda cukup menarik. Ada cerita yang dituturkan Aslam, mantan budak Umar ibn Khattab. Katanya, ketika Umar tiba di Syam (Suriah), seorang uskup Kristen setempat  membuatkan makanan untuknya. “Saya mohon Baginda singgah ke tempat kami,” katanya. Umar menolak. “Kami tidak akan masuk ke gereja Anda karena ada patung (salib, red) di dalamnya, “ katanya. Menurut Imam Al-Bukhari, Ibnu Abbas juga tidak mau salat di sinagog yang ada patungnya.

Ahli-ahli fikih berpendapat tidaksampai mengharamkan kita salat di tempat-tempat ibadah agama lain. Sebagian besar,  seperti halnya Ibnu Abbas, memakruhkan, kecuali dalam keadaan darurat seperti menghindari panas, hawa dingn, hujan, binatang buas, dan musuh. Alasan mereka, dengan adanya patung-patung di dalamnya, tempat itu merupakan tempat setan yang mengggoda kita. (Makanya kita dilarang pula salat di kamar mandi, meski kamar mandi itu bersih).

Ada pula kelompok  lain yang membolehkannya. Antara lain, mazhab Hambali, Imam Hsan  Al-Bashri, Umar ibn Abdil Azuz, Asy-Sya’bi, dan said ibn Abdil Aziz. Alasan mereka, Nabi toh pernah salat di sekitar Ka’bah, padahal di sana banyak patungnya. Beliau juga bersabda, “Kapan saja datang waktu salat, maka salatlah karena (tempat itu) masjid bagimu.” Jadi, berbeda dengan agama lain, Islam membolehkan kita salat di mana saja. “Dijadikan untukku bumi seluruhnya sebagai masjid,” Nabi bersabda.

Kami sendiri cenderung kepada pendapat pertama. Kalau Nabi mau salat di sekitar Ka’bah yang ada patung-patungnya,  maka itu karena darurat. Sebab, saatdi Mekah, beliau memang tidak punya kekuatan untuk menghancurkan patung-patung tersebut. padahal, itulah satu-satunya masjid saat itu.

Di rumah Orang Kristen

Jadi, salat di gereja Amerika itu pada dasarnya makruh. Hanya saja, kalautidak ada tempat lain, itu darurat namanya, jadi dibolehkan.  Misalnya, sistem hukum yang berlaku di Amerika tidak memungkinkan kita salat Id di tempat umum yang tidak diperuntukkan bagi ritual agama, sementara masjid belum ada, atau yang ada tidak memadai lagi. Sepanjang yang kami tahu, di Washington DC ada masjid yang terletak di perkampungan diplomatik. Pada hari Jumat jamaah meluber hingga halaman. Nah, mungkin saja pada suatu hari Saudara Heru salat di rumah orang Kristen atau penganut agama lain itu sih tidak apa-apa. Hanya saja, sebaiknya Anda menggelar sajadah. Karena ada kemungkinan lantainya terkena najis, dan mereka tak membersihkannya sesuai dengan tuntunan Islam.

Namun, kalau di kamar itu terpampang patung salib, maka hukumnya makruh salat di situ. Jadi sebaiknya anda mencari tempat lain, kalau memungkinkan. Kalau tidak ada, apa boleh buat, anda salat di situ, tapi usahakan anda tidak menghadap langsung salib itu. Pertama, itu bisa memecah konsentrasi anda. Kedua, untuk menghindari kesan anda tidak menyembah salib tersebut.

Tempat bersama

Yang tidak boleh adalah mendirikan satu tempat yang secara permanen diperuntukkan bagi ritual berbagai agama—dengan alasan toleransi misalnya. Sebab, ini bisa menimbulkan kekacauan akidah. Tempat ibadah di Bandara Changi tidak bi digolongkan ke sini karena di sana tidak dilangsungkan  upacara rutin agama. Itu hanya fasilitas yang disediakan buat kaum musafir.

Tapi, justru karena sifatnya yang tidak rutin, bisa saja saat anda salat, ada pemeluk agama lain yang melakukan ritual di sana. Menurut satu riwayat, pernah saat sedang salat asar di Masjid Nabawi, Nabi kedatangan sekelompok orang Kristen Najran. Lantas, saat itu juga para tamu itu berbalik ke arah timur dan melakukan kebaktian bersama di dalam masjid itu juga. Saat para sahabat hendak mencegah, Nabi menyuruh membiarkan.       

Sumber: Panji Masyarakat, 23 September 1998

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda