Mutiara

Islam di Balik Tabir

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Haji Agus Salim sudah mewanti-wanti kalangan terpelajar Islam untuk membedakan mana yang adat kebiasaan orang Arab dan mana yang ajaran Islam. Dan memisahkan laki-laki dan perempuan di tempat umum termasuk adat-istiadat yang dianggap perintah Tuhan itu.

Bagi saya tabir itu simbol perbudakan, yang tidak dikehendaki oleh Islam. Saya ingat bahwa dulu Haji Agus Salim pernah merobek tabir di salah satu rapat umum—ia merobek terang-terangan! Di dalam pandangan saya, perbuatan beliau itu adalah salah satu perbuatan yang lebih besar misalnya daripada menolong pahlawan dari air laut yang sedang mendidih atau masuk penjara karena delik sekalipun. Sebab, perbuatan demikian itu minta keberanian moril yang besar.

Demikian antara lain Bung Karno menulis dari beberapa tempat pembuangannya di Endeh kepada A.Hassan di Bandung. Tapi benarkah Agus Salim merobek tabir itu, dan merobeknya secara terang-terangan? Kita mafhum, itu memang style-nya Bung Karno yang provokatif.

Pada kongres Jong Islamieten Bond (JIB) pertama di Yogyakarta, 1926, tempat duduk perempuan dan yang laki-laki dipisah tabir kain putih. Peserta perempuan, di bagian belakang, hanya mendengar suara laki-laki. Dan sebaliknya. Ini sebenanya kebiasaan perkumpulan Islam jika mereka menyelenggarakan kegiatan semacam kongres. Tapi dalam kongresnya yang kedua di Solo (1927), Agus Salim dengan persetujuan pengurus JIB, membuka tabir itu.

Sesudah “merobek” tabir (yang sebenarnya tidak), Salim memberikan pidato berjudul De Sluiering en Afzondering der Vrouw

(Pemakaian Kerudung dan Pemisahan Perempuan). Menurut Mohammad Roem, pada kesempatan itu Salim menyinggung kecenderungan di kalangan JIB untuk mencari “yang Islam itu”—kebalikan dari “yang biasa” di kalangan pelajar. Ini tentu saja keliru, kata Salim. “Salah satu kecondongan ialah memisahkan laki-laki dan perempuan di rapat-rapat. Orang perempuan disimpan di pojok dengan ditutup kain putih (tabir). Meniru-niru bangsa Arab ini, lebih menonjol karena perempuan datang bebas, dengan kendaraan umum dan terbuka, tanpa kepala ditutup, seperti pada kesempatan-kesempatan lain, di mana orang perempuan tidak dihindarkan dari penglihatan orang laki-laki.”

Salim mengatakan, JIB bertujuan mempelajari Islam dengan sebaik-baiknya dan, jika sudah yakin, melaksanakan perintahnya.  “Perlu sekali anggota-anggota JIB menyadari yang benar-benar menjadi perintah Tuhan, sebagaimana sudah dicontohkan oleh Nabi. Tidak termasuk di dalamnya, bahwa orang perempuan harus dipisahkan (afzondering) apalagi harus disendirikan (afsluiting). Bahwa memisahkan orang perempuan itu adat kebiasaan Arab, kenyataan itu tidak menyebabkan pemisahan orang perempuan menjadi perintah Islam. Adat kebiasaan itu mungkin termasuk kepercayaan golongan Yahudi dan Kristen, menurut kepercayaan mana kedudukan perempuan lebih rendah, tapi terang tidak sesuai dengan ajaran dan semangat Islam, yang dengan Quran nya mempelopori emansipatie perempuan.”

Agus Salim kemudian menyitir Quran surah An-Nur ayat 30 dan 31 (Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman. Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara malu mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka… Katakanlah kepada orang-orang perempuan yang beriman. Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara malunya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya…)  “Peraturannya sudah jelas-jelas mengenai keluarnya orang perempuan di hadapan umum, di hadapan orang laki-laki dan perempuan di hadapan umum, di luar batas-batas keluarga dan mereka yang dekat, dalam lingkungan mana orang dapat bergaul dengan akrab. Adanya perintah ini berarti tidak adanya keharusan orang perempuan dipisahkan, apalagi menutup muka.”

Dalam organisasi yang didirikan Samsuridjal ini Salim memang punya kedudukan khusus. Selain sebagai penasihat JIB, dia sering diminta para anggota untuk memberikan kursus agama Islam. Salim sendiri menyambut keinginan para pemuda itu sebagai terlaksananya harteens, idaman hati.

Pada kongres pertama, Salim menegaskan:  “Ketahuilah, masa muda saya sama saja dengan masa muda Anda. Meskipun dilahirkan dari keluarga yang beragama, dan dibesarkan dengan mendapat didikan agama, dalam waktu singkat saya kehilangan kepercayaan. Kepandaian sekolah menggantikan kepandaian hidup. Penghidupan pelajar, tanpa tanggung jawab sungguh-sungguh memudahkan pergantian itu. Dan keadaan itu akan berlangsung selama waktu singkat sesudah kita meninggalkan bangku sekolah.”“Orang Tua Kita’ ini juga menyatakan bahwa Islam memberikan pengertian yang terang tentang penghidupan dunia, tentang penghidupan kemanusiaan pada umumya, dan tentang manusia sendiri. “ Ia memberikan sarana-sarananya untuk meningkatkan penghidupan yang mungkin dicapai.” Salim seperti dikatakannya, memang tidak ingin Islam selalu dipandang sebagai pusaka yang menghalang-halangi kemajuan, tidak lagi sebagai tempat Iri karena kita takut ancaman akhirat. Pandangan Salim ini tidak berbeda dengan Bung Karno punya, yang melihat Islam is progress. Makna ini pulakah yang diadopsi Muhammadiyah yang mengumandangkan “Islam Berkemajuan” di abad ke 21 ini?

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda