Tafsir

Hanya Kepada-Mu Kami Menyembah (Bagian 2)

Written by Panji Masyarakat

Setiap anugerah adalah dari kemurahan-Nya, dan setiap kemurkaan adalah dari keadilan-Nya. Lalu apa yang kita dapati dari ‘ibadah (peribadatan) dan ‘ubudah (kehambaan), yang hanya kepada Allah?

Memandang Dzat Allah

Adapun ungkapan na’budu (kami menyembah) mengandung asal dari ‘ibadah’ berarti peribadatan, sementara  ‘ubudah berarti kehambaan (‘abd: hamba), demikian Burusawi. Dari ‘ibadah kita dapati “sembahyang tanpa keteledoran, puasa tanpa pembolosan, sedekah tanpa pengharapan, ibadah haji tanpa semangat pameran, jihad fisik tanpa maksud kemasyhuran, pembebasan budak tanpa pengungkit-ungkitan, zikir tanpa kebosanan, dan seluruh bentuk ketaatan tanpa keterlewatan. Sedangkan dari ‘ubudah adalah keridhaan tanpa permusuhan, kesabaran tanpa pengaduan, keyakinan tanpa kesamaran, kehadiran tanpa kemangkiran, penghadapan tanpa pembelakangan, dan penyambungan tanpa pemutusan.”

Adapun pembagian ibadah, seperti yang dinukilkan dari Hujjatul Islam dalam Al-Arba’in, adalah sepuluh, sebagaimana simpul-simpul keyakinan (i’tiqad) yang berada dalam kedudukan sebelumnya juga sepuluh. Yang pertama, dari butir-butir yang diyakini (al-mu’taqadat), adalah Dzat yang azali (di luar waktu) dan abadi, yang disifati dengan sifat-sifat keluhuran dan kemuliaan, yang adalah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Lahir, Yang Batin, yakni awal dalam wujud-Nya, akhir dengan sifat-sifat dan perbuatan (af’al) Nya, yang lahir dengan alam-Nya  yang kasat mata dan bentukan-bentukan-Nya, serta yang batin dengan hal-hal gaib-Nya dan semua yang berada dalam ilmu-Nya.

Yang kedua adalah pengkudusan-Nya dari semua yang tidak layak dengan kesempurnaan-Nya  atau menodai keindahan-Nya, yakni segala kekurangan dan segala yang rendah.

Ketiga adalah kudrat yang melingkupi seluruh mumkinat (alam tentatif). Keempat adalah ilmu yang mengepung semua yang bisa diketahui, sampai pun tentang langkah semut yang hitam di karang yang legam di malam gulita, dan yang lebih tersembunyi dari itu seperti hal-hal yang melintas dalam nurani, gerak-gerik di perasaan dan segala yang disembunyikan oleh rahasia.

Yang kelima adalah iradat sehubungan dengan seluruh alam nyata. Maka tidak terjadi sesuatu  di dalam Kerajaan yang kasat maupun alam rahasia, sedikit maupun banyak, kecuali dengan keputusan-Nya dan kemauan-Nya.

Yang keenam adalah sami’ dan bashar: tidak terhalang pendengaran-Nya oleh kejauhan dan penglihatan-Nya oleh kegelapan.

Yang ketujuh adalah kalam azali, berdiri pada Dzat-Nya, tanpa suara seperti omongan makhluk, dan bahwa Alquran memang dibaca dan dituliskan dan dihafalkan, tapi  bersama dengan itu bersifat kadim berdiri pada Dzat Allah Ta’ala, dan bahwa Musa mendengar kalam Allah tanpa suara maupun huruf, sebagaimana mereka yang salih memandang Dzat Allah tanpa bentuk maupun warna.

Yang kedelapan adalah perbuatan (af’al) yang digambarkan dengan keadilan mutlak … maka setiap anugerah adalah dari kemurahan-Nya, dan setiap kemurkaan adalah dari keadilan-Nya.

Yang kesembilan adalah hari akhirat. Dan yang kesepuluh adalah kenabian, yang meliputi pengiriman malaikat dan penurunan kitab-kitab

Adapun ibadat yang sepuluh adalah salat, zakat, puasa, haji, membaca Alquran, zikir kepada Allah di tiap keadaan, menuntut rizki yang halal, menjaga hak-hak sesama muslim dan hak-hak persahabatan, yang kesembilan amar makruf dan nahi mungkar, dan yang kesepuluh adalah mengikuti sunah Nabi, dan itulah kunci kebahagian dan tanda-tanda kecintaan Allah, seperti difirmankan Allah Ta’ala,  “Katakan, ‘Kalau kalian mencintai Allah ikutlah aku, maka Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu” (Q. 3:31). Berkata Maula Al-Jami:

Ya Nabi Allah, salam padamu

Keberuntungan dan kemenangan hanya padamu.

Bersambung…..

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panjimas, 27 November-12 Desember 2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda