Tasawuf

Wirid Hidayat Jati : Syahadat Sebagai Mantera

Ditulis oleh B.Wiwoho

Seorang teman bertanya tentang sasahidan yang diajarkan oleh guru spiritualnya yang berasal dari Jawa Tengah, yang dipercaya dan diyakininya sebagai mantera sakti. Mengapa  demikian?

Kata sasahidan berasal dari bahasa Arab syahida atau syahadat, yang berarti kesaksian atau pengakuan iman. Jadi sebagaimana yang kita pahami selama ini, sasahidan atau syahadat adalah ikrar yang menunjukkan bukti bahwa orang yang mengucapkan kesaksian tersebut telah beriman atau menjadi mukmin.  Bagi orang Islam Jawa tempo dulu, dua kalimat syahadat sering disebut Kalimasada (kalimat syahadat), atau juga Sasahidan Taukid dan Sasahidan Rasul. Sasahidan Taukid, ada juga yang mengucapkan Tokid yaitu  “Asyhadu allaa ilaaha illallaah (saya bersaksi bahwa tiada sesembahan – yang haq – selain Allah)”. Sedangkan Sasahidan Rasul yaitu, “Wa asyhadu anna Muhammadarrosulullah (dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”.

Kata sasahidan juga sering dipakai untuk mengawali wirid sifat 20 (dua puluh) Gusti Allah, sebagai penegasan pengakuan keimanan atas keduapuluh sifat tersebut. Misalkan, “Asyhadu Allah kang tanpa wiwitan, tanpa wekasan, urip tan kena pati ( Aku bersaksi bahwa Allah tidak bermula dan tidak berakhir, lagi hidup kekal selamanya)”.

Dalam perkembangannya, setelah ulama sekaligus pujangga Keraton Kasunanan Surakarta yang tersohor, R.Ngabehi Ronggowarsito menulis  kitab atau serat “Wirid Hidayat Jati”, muncul sebuah ajaran  Sasahidan versi Syekh Siti Jenar. Dari kitab Wirid Hidayat Jati ini pula,  lahir  ajaran untuk tidak menyebut atau pun memanggil asma Tuhan dengan Allah saja, tetapi dianjurkan dengan menambah gelar yang amat sangat terhormat yaitu Gusti, sehingga menjadi Gusti Allah; atau ditambahkan sebutan Pangeran di depan asma Allah yang menunjukkan sifat dan kebesarannya, misalkan Pangeran Kang Maha Agung, Pangeran Yang Maha Agung.

Dari Syeh Siti Jenar yang misterius dan legendaris tadi dipercaya lahir  ajaran Wirid Sasahidan yang terkenal sampai sekarang, yang pada umumnya diajarkan secara lisan dari mulut ke mulut oleh para guru spiritual, kebatinan atau pun penganut tasawuf Jawa aliran Syeh Siti Jenar. Padahal siapa sesungguhnya Syeh Siti Jenar, belum ada bukti sejarah yang kuat yang menyebutkan. Bahkan apakah benar itu ajaran Syeh Siti Jenar ataukah Ronggowarsito? Ataukah pujangga-pujangga penulis kisahnya pada empat abad kemudian? Waallahualam.

Kisah tentang Syeh Siti Jenar, pun ajaran-ajarannya, ditulis sekitar tiga atau empat abad kemudian. Beliau konon berkiprah pada masa kejayaan Wali Songo dan Kesultanan Demak pada awal abad ke 15, namun kisahnya baru ditulis dalam “Serat Centini” (periode 1814 – 1823),  kitab “Wirid Hidayat Jati” sebagaimana di atas dan dalam “Serat Siti Jenar” gubahan Raden Panji Notoroto pada abad ke 19, bersumber dari Babad Demak karya Pangeran Wijil, Trah Sunan Kalijaga dari Kadilangu.

Perihal Sasahidan, Serat Wirid Hidayat Jati mengajarkan dalam dua seri wejangan, yaitu Wejangan Ketujuh yang berjudul Panetep Santosaning Iman (Penetap Kesentosaan Iman) yang disebut diberikan oleh Sunan Gunung Jati dan Wejangan Kedelapan atau terakhir  oleh Syeh Siti Jenar berjudul Sasahidan (Persaksian).

Pengantar Penetap Kesentosaan Iman, menyatakan, Wejangan dimulai dengan membaca  syahadat sebagai penguat keyakinan demi melaksanakan kebenaran hidup, sebagai sarana melihat Tuhan Yang Maha Suci. Syahadat itu adalah sebagai berikut: “Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun , lan anekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan-Ingsun.” Artinya, “Aku bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan selain Aku, dan Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku.”

Wejangan menyatakan lebih lanjut, yang dinamakan Tuhan itu adalah Zat hidup kita sendiri, sebab sesungguhnya segenap asya itu dihukum nafi semuanya. Maksud asya adalah tunggal, hanya satu. Sedangkan arti nafi adalah tidak ada.

Selanjutnya disebutkan, yang dinamakan Muhammad itu adalah sifat cahaya kita. Oleh sebab itu dikatakan utusan, karena menjadi pegangan rahasia Zat. Hidup kita sendiri inilah yang menjadi wahana anugerah Tuhan. Anugerah itu adalah Zat Tuhan. Mendapatkan anugerah itu adalah sifat makhluk. Tunggal tanpa batas berada di dalam diri kita. Sedangkan Tuhan dan Muhammad itu ibarat pedang dengan sarungnya. Tuhan sebagai sarung dan Muhammad sebagai senjatanya.

Adapun wejangan terakhir atau kedelapan dari Wirid Hidayat Jati seperti berikut:

“Wejangan ini dinamakan Sasahidan (Persaksian), yang mengajarkan kita bersaksi kepada sanak saudara dan semua makhluk seperti bumi, langit, bulan, bintang, api, angin, air dan lain sebagainya. Saksikanlah bahwa kita sekarang sudah mengakui Dzat Tuhan Yang Maha Suci, sebagai sifat Allah yang sejati.

Tersebut di dalam kiyas ajaran para pandita (dalam hal ini ulama), yang menyebarluaskan nukilan dari hadis makdus, pada bab maklumatul huluhiyah. Isinya menegaskan kesentausaan  iman, sebagai penuntun tauhid menjadi itikad. Juga menjadi cipta sasmita  Rasulullah Kanjeng Nabi Muhammad yang disampaikan kepada Sayidina Ali sebagai berikut:

Ingsun anekseni ing datingsun dhewe
Satuhune ora ono pangeran amung ingsun
Lan nekseni satuhune Muhammad iku utusaningsun
Iya sejatine kang aran Allah iku badaningsun
Rasul iku rahsaningsun
Muhammad iku cahyaningsun
Iya ingsun kang urip tan kena ing pati
Iya ingsun kang eling tak kena lali
Iya ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati
Iya ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji
Iya ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerti
Byar
Sampurna padhang terawangan
Ora kerasa apa-apa
Ora ana katon apa-apa
Amung ingsun kang nglimputi ing alam kabeh kalawan kodratingsun.

Artinya:

Aku bersaksi di hadapan Dzat-ku sendiri
Sesungguhnya tiada tuhan selain Aku
Dan Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku
Sesungguhnya yang disebut Allah itu badan-Ku
Rasul itu rahsa-Ku
Muhammad itu cahaya-Ku
Akulah yang hidup tidak terkena kematian
Akulah yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
Akulah yang kekal tanpa terkena perubahan di segala keadaan
Akulah yang selalu mengawasi dan tidak ada sesuatupun yang luput dari pengawasan-Ku
Akulah yang maha kuasa, yang bijaksana, tiada kekurangan dalam pengertian
Byar sempurna terang benderang
Tidak terasa apa-apa
Tidak kelihatan apa-apa
Hanya Aku yang meliputi seluruh alam dengan kodrat-Ku

Ajaran penutup ini memperkuat dan menambah jumlah aliran kebatinan Jawa, termasuk sebagian Islam Kejawen. Meskipun demikian bagi sebagian pemerhati dan pengamal Islam Kejawen yang memperoleh sentuhan ulama-ulama pesisir dan pesantren-pesantren tidak demikian halnya, karena mereka juga memperoleh meskipun sedikit, ajaran-ajaran Al Ghazali seperti Ihya Ulumiddin dan lain-lain serta  Al Hikam dari Ibnu Athaillah Askandary. 

(Wirid Hidayat Jati: 13 dari 14, dalam Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda