Tafsir

Hanya Kepada-Mu Kami Menyembah (Bagian 1)

Written by Panji Masyarakat

Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin

Hanya kepadamu-Mu kami menyembah

Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan

    (Q.  1:5)

Siapakah ‘kami’, dalam ayat di atas? Syekh Isma’il Haqqi al-Burusawi, ulama tasawuf dari Bursa, Turki,   (w. 1137 H.), memberi jawaban: ‘kami’ adalah si pembaca Fatihah, dan mereka yang bersamanya dari para penghafal (hafiz) Alquran, hadirin salat jamaah, dan seluruh ahli tauhid yang ibadatnya di sini dimasukkan untuk melipatkan nilai ibadah mereka.

Mengapa dikhususkan penyembahan itu hanya kepada Allah Ta’ala? Karena ibadah adalah puncak tindakan pengagungan, dan karena itu tidak layak kecuali untuk sang penganugerah maksimal. Firman Allah Ta’ala,  “Sedangkan kamu mati (sebelum hidup), maka Ia hidupkan kamu” (Q. 2:27), dan “Dialah yang menciptakan untuk kamu yang ada di bumi kesemuanya” (Q. 2:29).

Juga karena keadaan-keadaan yang dihadapi para hamba terdiri dari masa lampau, masa kini, dan masa depan. Di masa lampau, Allah Ta’ala telah memindahkan si hamba dari ketiadaan, kematian, ketidakmampuan, kebodohan, kepada wujud, kehidupan, kekuatan, dan ilmu, berkat kodrat-Nya yang azali. Di masa kini, membukalah di hadapan hamba pintu-pintu kebutuhan dan menjadi niscaya bagi sarjana-sarjana keperluan yang mendesak. Maka Dialah Tuhan Pengasih Penyayang. Sedangkan di masa depan Dialah Penguasa Hari Pembalasan, yang memperhitungkan diri si hamba untuk segala perbuatannya. Karena itulah tiada yang  memiliki kelayakan peribadatan kecuali Allah Ta’ala. (Al-Burusawi, Tafsir Ruhul Bayan, I:17-18).

Dan di situlah, dalam iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, terdapat pemberitahuan mengenai yang dijelaskan Islam dalam hal pembebasan jiwa kita bagi Allah Ta’ala, dan pengikhlasan ibadah kepada-Nya semata-mata. Yakni, tidak sesuatu pun boleh disekutukan dengan Diri-Nya—tidak dalam hal kecintaan, atau ketakutan, pengharapan, atau sikap tawakal, tidak pula sebagai tujuan atau motif tindakaan perendahan diri atau pengagungan, atau sujud, atau usaha mendekat-dekat (taqarrub). Sebab yang berhak untuk semua itu hanyalah sang pencipta bumi dan seluruh langit sendiri. Demikian Muhammad Jamaluddin al-Qasimi (w. 1914 M) dalam Mahasinut Ta’wil.

Itu ditunjukkan, kata mufasir angkatan baru dari Syam ini, oleh bentuk ungkapan ayat yang mendahulukan objek—“hanya kepada-Mu”—sebelum kata kerja (“menyembah”). Di situ terdapat peringatan mengenai kewajiban hamba untuk mengkhususkan penyembahan hanya kepada tuhannya, dan menyerahkan dirinya kepada Allah Sendirinya. Bukan seperti kaum musyrikin, yang berpecah-pecah dalam peribadatan dan centang perenang dalam tujuan penyembahan: sebagian memuja matahari dan bulan, sebagian memuja malaikat, sebagian arca-arca, ada pula yang memuja para pendeta dan rahib-rahib, ada pula yang menyembah pepohonan dan batu-batuan, seperti yang banyak diberitakan dalam Alquran (Q. 3:80; 5:116; 34:40,41; 41:38; 53:19,20).

Langkah-langkah semut

Ibadah itu sendiri berjenis-jenis. Tapi tidak sempurna iman seseorang kecuali dengan menyatukan kesemuanya hanya untuk Allah SWT. Adapun Hadis sudah menerangkan bahwa doa juga satu bentuk ibadah, yakni rukunnya yang penting dan paling besar. Asal pengertian itu sendiri dari Alquran,  ketika Allah Ta’ala berfirman, “Berkata tuhan kalian, ‘Berdoalah kepada-Ku, Aku kabulkan kamu. Mereka yang menyombong ibadah kepada-Ku…’.” (Q.40:60). Di sini Allah menanamkan doa ibadah.

Dalam pada itu hadis lain menyebut masalah syirik.  “Wahai manusia,” kata Nabi dalam pidato beliau, seperti dituturkan Abu Musa al-Asy’ari r.a., dalam riwayat Ahmad,  “Peliharalah diri kamu dari syirik ini. Karena ia lebih tersembunyi dari langkah-langkah semut.” Ada saja orang yang bertanya,  “Bagaimana cara menjauhinya kalau dia lebih ringan dari langkah-langkah semut, ya Rasulullah?” jawab Nabi, “Bacalah, ‘Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau dengan sesuatu yang kami ketahui dan mohon ampun kepada-Mu untuk yang tidak kami ketahui  (Allahumma inna na’uudzu bika min an nusyrika bika syai-an na’lamuhuu wa nastagfiruka limaa laa na’lam)’.’’

Berkata Syamsuddin ibn Al-Qaiyim: Karena itulah seorang hamba diperintahkan dalam salat membaca iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.  Masalahnya syaitan memerintahkan syirik. Sedangkan nafsu mematuhinya. Tidak lepas-lepasnya nafsu menoleh kepada yang selain Allah, mungkin karena takut, atau karena berharap. Maka tidak putus-putusnya seorang hamba membutuhkan melepaskan tauhidnya dari noda-noda syirik.

Karena itu Allah SWT memberitakan betapa kaum musyrikin tidak menghargai-Nya dengan penghargaan yang layak di tiga tempat dalam kitab-Nya. Dan bagaimana mereka akan menghargai-Nya dengan benar kalau mereka menjadikan untuk-Nya padanan dan bandingan yang mereka cintai, mereka takuti, mereka jadikan tumpuan harapan, mereka hinakan diri sendiri di depannya, lari dari kemarahannya, mendahulukan keridaannya, sementara Allah yang dikebelakangkan, tidak meridai perlakuan itu? Demikian Ibnul Qaiyim.

Berkata sebagian ulama generasi awal: Al-Fatihah adalah rahasia Alquran, dan rahasian Fatihah adalah adalah kalimat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan).  “Pertama adalah berlepas diri dari syirik yang sudah disebut. Dan kedua, dari daya dan kekuatan sendiri, lalu menyerahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Al-Qasimi, 10-13). Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panjimas, 27 November-12 Desember 2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda