Tafsir

Penguasa Hari Pembalasan (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Maaliki yaumid diin

Penguasa hari pembalasan (Q. 1:4)

Allah ‘Azza wa Jalla penguasa seluruh perkara. Ia melingkupi segenap makhluk di dunia maupun akhirat, memberi pahala mereka yang setia dan mereka yang beramal, menundukkan para pembangkang dan merendahkan mereka yang sewenang-wenang, terkadang di dunia, terkadang di akhirat, terkadang di kedua-duanya.

Alasan Alhamdu lilah

Syahdan, kita melihat bahwa Allah Ta’ala, dalam surah Fatihah ini, menyebutkan lima nama Diri-Nya: Allah, Ar-Rabb, Ar-Rahman, Ar-Rahim, dan Al-Malik. Seakan-akan Allah berkata,  “Aku ciptakan engkau mula-mula, maka Akulah ilah (Tuhan sesembahan). Kemudian Aku asuh engkau dengan segala jenis karunia-Ku, maka Akulah rabb (tuhan pemelihara). Engkau membangkang, tapi Aku tutupi engkau (di dunia), maka Akulah rahman. Tapi engkau bertobat, lalu Aku ampuni dirimu, maka Akulah rahim. Kemudian, tidak boleh tidak, akan ada perhitungan dan balasan kepadamu, sebab Akulah malik yaumid diin (penguasa/raja/pemilik/ hari pembalasan).”  (Razi, I:245).

Begitulah Allah ‘Azza wa Jalla penguasa seluruh perkara. Ia melingkupi segenap makhluk di dunia maupun akhirat, memberi pahala mereka yang setia dan mereka yang beramal, menundukkan para pembangkang dan merendahkan mereka yang sewenang-wenang, terkadang di dunia, terkadang di akhirat, terkadang di kedua-duanya. Dengan itu lengkaplah sudah pendidikan dan aturan alam:  sifat-sifat ini, yang telah mengepung rahmat dan kemaharajaan di dalam Dzat Allah, dan bahwa Dia adalah pengasuh dan pendidik (murabbi) alam-alam seluruhnya, dan pemiliknya, meliputi hati siapa saja yang membaca dan yang sembahyang, dan berzikir mengingat Allah Ta’ala, dan memunculkan pujian khusus kepada-Nya Sendiri … Dan di atas pujian-pujian adalah ibadah, yang tak lain pernyataan maksimal di dalam ketundukkan.  (Thanthawi, I:18).

Sifat-sifat yang dimaksudkan itu, yang dikenakan pada Allah Subhanahu, dari kenyataan-Nya sebagai tuhan pemelihara yang menguasai segenap alam, tidak keluar suatu apa pun dari kemaharajaan-Nya, dan pemeliharaan-Nya, dan dari kenyataan-Nya sebagai pemberi anugerah keseluruhannya, yang lahir sampai yang batin, yang besar-besar sampai yang lembut, dan dari kenyataan-Nya sebagai penguasa seluruh perkara, dengan seluruh akibatnya pada hari pengganjaran dan penghukuman … dan adalah hakiki bahwa di dalam firman-Nya “alhamdu lillah (segala puji bagi Allah)”  terdapat bukti bahwa Dzat yang seperti itu sifat-sifat-Nya tidak satu pun yang akan lebih berhak dari pada-Nya atas pujian yang dimaksudkan. (Zamakhsyari, I:59-60).

Kemudian, sekitar 150 tahun sesudah Zamakhsyari, Baidhawi menuliskan kembali ide dalam kalimat-kalimatnya di atas secara lebih mudah. Adapun pengenaan sifat-sifat ini pada Allah Ta’ala, katanya, bahwa Dialah yang mewujudkan segenap alam, menjadi rabb yang mengasuh dan mengembangkan kesemuanya, memberi mereka anugerah seluruhnya, yang lahirnya maupun batinnya, yang instan maupun yang berjangka waktu, yang menguasai semua ihwal mereka pada hari pengganjaran dan penghukuman, semua itu untuk menunjukkan bahwa Dialah yang berhak atas pujiaan dan tidak satu pun lebih berhak dibanding Dia. (Baidhawi, I:29-30).

Dengan kata lain, sekali lagi, semua sifat Allah yang diterakan dalam surah ini—rabb, ar-rahman, ar-rahim, dan maliki yaumid diin—semuanya adalah alasan mengapa ada alhamdu lillah (segala puji bagi Allah). Itulah intinya. Dan dengan ini selesailah pertiga pertama surah Al-Fatihah, yakni empat ayat awal yang, untuk bagian ini, memberikan kepada kita pengenalan di sekitar Dzat Allah yang Pengasih-Sayang. Wallahu walliyut taufiq.***

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panjimas, 13-26 November 2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda