Mutiara

Nahkoda Kaum Tradisi

Written by A.Suryana Sudrajat

Persatuan Tarbiyah Islamiyah atau Perti tak bisa dipisahkan dari Buya Rusli Abdul Wahid. Ulama asal Minangkabau ini pernah menjadi pejabat tinggi negara, dan pengurus MUI. Dari manakah nama belakangnya?

Buya Haji Rusli Abdul Wahid adalah “ulama tradisi”, yang turut mendirikan dan kemudian memimpin Persatuan Tarbiyah Islamiyah atau Perti. Nama belakang Abdul Wahid, bukan diambil dari nama orang tuanya H. Djohar Dt. Parpatiah.Tetapi berasal dari nama salah seorang gurunya dan sekaligus mertuanya: Syekh Abdul Wahid.

Rusli lahir pada 9 November 1908 di Koto Tangah, Suliki, Luak Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ia belajar kepada Syekh Abdul Wahid atas rekomendasi Syekh Ahmad Abdul Latif, guru Rusli sebelumnya. Setelah menunaikan ibadah haji pada 1926, namanya menjadi Engku Muda Haji Rusli Abdul Wahid atau Buya Haji Rusli.

Bersama Syekh Abdul Wahid, Buya Rusli membina dan membesarkan pondok pesantren milik guru sekaligus mertuanya itu. Berawal dari keikutsertaannya dalam lembaga persatuan ulama-ulama Minangkabau yang kemudian bertransformasi menjadi partai politik, karier dakwah Buya Rusli juga merambah ke ranah birokrasi. Jabatan tertinggi Buya Rusli dalam pemerintahan adalah Menteri Negara Urusan Papua Barat, dan anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI.

Pada 1928, rapat ulama “Kaum Tua” Minangkabau di Candung, Bukittinggi, memutuskan untuk memperbarui sistem surau menjadi pelajaran berkelas (klasikal) dan menyeragamkan nama menjadi “Madrasah Tarbiyah Islamiyah” serta membagi kelas pelajaran menjadi tujuh tahun. Keputusan ini disambut baik oleh ulama-ulama yang hadir, termasuk Syekh Abdul Wahid dan Buya Rusli. Surau Tabek Gadang milik Buya Abdul Wahid kemudian bermetamorfosis menjadi sebuah madrasah yang kemudian dikenal dengan “Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tabek Gadang”. Dua madrasah lainnya yang berdiri periode awal, yaitu Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang pimpinan Syekh Sulaiman Ar-Rasui, dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho pimpinan Syekh Muhammad Jamil Jaho.

Setelah perubahan itu, urang siak (santri) Tabek Gadang bertambah banyak. Pada tahun 1940, santri Madrasah Tabek Gadang tercatat 800 orang yang berasal dari Minangkabau, Jambi, Bengkulu, Medan, Aceh, bahkan dari Malaya. Keistimewaan lain yang menarik minat santri adalah spesialisasi tasawuf. Adapun Madrasah Tarbiyah Candung dikenal dengan spesialisasi fikih, dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho dikenal dengan spesialisasi ilmu alat (nahwu, sharaf, dan balaghah).

Rapat ulama Minangkabau tahun 1928 di Candung juga mengeluarkan kesepakatan untuk membentuk sebuah wadah organisasi ulama-ulama tua yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan sosial keagamaan. Organisasi ini dinamakan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PTI). Salah satu asas persatuan ini ialah membentengi Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i di Minangkabau.

Ketika dipimpin Syekh Abdul Majid Koto nan Gadang Payakumbuh, PTI sempat mati suri akibat terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda. Golongan muda ingin mengarahkan PTI bercorak politik, sementara golongan tua anti-politik. Buya Rusli yang ketika itu menduduki jabatan penting dalam organisasi PTI berinisiatif untuk membina kembali hubungan ulama-ulama PTI ke dalam organisasi At-Tarbiyah As-Saufiyyah yang dipimpin Syekh Abdullah, paman Buya Rusli. Dengan memakai nama organisasi lokal ini, Buya Rusli mengundang ulama-ulama Minangkabau yang telah menarik diri dari PTI untuk mengadakan rapat di Suliki.

Rapat ini membuahkan keputusan untuk mengembangkan At-Tarbiyah AS-Saufiyyah menjadi organisasi regional dengan memakai nama Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang disingkat Perti. Organisasi ini semula berkedudukan di Suliki sebelum dipindahkan ke Candung. Organisasi ini kemudian berkembang menjadi partai politik dan ormas Islam besar di Indonesia. Buya Rusli kemudian menjadi pimpinan tertinggi Perti, disamping Buya H. Sirajuddin Abbas (w. 1980).

Pada November 1945, Buya Rusli diangkat menjadi Wedana di Sijunjung atas permintaan Residen Sumatera Barat, Datuak Parpatiah nan Baringek. Selama menjabat wedana Sijunjung, Buya Rusli aktif dalam usaha perjuangan kemerdekaan. Di antaranya membentuk Markas Pertahanan Rakyat Kewedanaan (MPRK) Daerah Sijunjung. Untuk membiayai usaha pertahanan wilayah dari pihak Belanda, Buya Rusli berinisiatif memungut sumbangan sukarela dari masyarakat. Pada satu kesempatan hasil sumbangan tersebut terkumpul sebanyak 130 ekor kerbau. Hasil sumbangan ini diserahkan langsung oleh Buya Rusli kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta di kantor Bupati Solok dengan disaksikan para penghulu. Selain itu, konferensi PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pernah dilaksanakan di Sijunjung. Konferensi ini juga disokong oleh masyarakat Sijunjung yang ketika itu dipimpin Buya Rusli. Sehingga konferensi tersebut terlaksana dengan lancar.

Setelah masa Kemerdekaan, atas anjuran Bung Hatta, organisasi keagamaan Perti yang ketika itu telah melebarkan sayap ke berbagai daerah memapankan diri menjadi Partai Politik Perti. Karena bermetamorfosis menjadi partai politik, kedudukan Perti yang mulanya di Candung Bukittinggi, kemudian dialihkan ke Jakarta. Pada tahun 1954, Buya Rusli terpilih menjadi anggota Parlemen Sementara Republik Indonesia dan kemudian terpilih menjadi anggota DPR RI pada pemilihan umum tahun 1955. Pada tahun 1956-1957, Buya Rusli terpilih menjadi Menteri Negara Urusan Irian Barat dalam kabinet Ali Sastroamidjojo.

Pada era 1960-an, ketika hangat-hangatnya pemberitaan tentang Nasakom, Partai Politik Perti mengalami badai cobaan. Kubu Buya H. Sirajuddin Abbas dekat dengan Nasakom, sedangkan Buya Rusli tidak setuju dengan hal itu. Hal ini membuat dualisme dalam Partai Perti dan menjadi batu sandungan yang sampai saat ini belum terobati. Konflik antara KH Sirajuddin Abbas dan Buya Rusli ini berujung pada pemecatan Buya Rusli pada 1962. Ia pun membuat DPP tandingan dan mejadi ketuanya. Sementara itu ia juga diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) oleh Presiden Soekarno.

Pada 1973 Buya Rusli menjadi Wakil Ketua Majelis Syura DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebagai konsekuensi berfusinya Perti ke dalam PPP bersama partai politik Islam lainnya. Pada era 1980-an dan 1990-an Buya Rusli aktif di MUI baik pusat maupun DKI Jakarta. Ia wafat pada 25 Februari 1999, dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • hamka
  • tabloid-panjimasyarakat