Tafsir

Penguasa Hari Pembalasan

Maaliki yaumid diin

Penguasa hari pembalasan (Q. 1:4)

Bila seseorang berbuat zalim kepada sesama , kemudian yang dizalimi tidak menuntut balas, itu hanya bisa terjadi karena salah satu dari tiga sebab ketidakmampuan, kebodohan, atau memang ia merelakan dirinya mendapat perlakuan seperti itu.

Pendidikan selalu mempunyai dua sisi kebijaksanaan. Yakni kasih sayang dan ketegasan. Demikian dituliskan tafsir Quran abad ke-20. Al-Jawahir fi Tafsiril Quranil Karim dari Syekh Thanthawi Jauhari. Bila tak ada kasih sayang, atau tak ada sanksi  dan reward, dalam pendidikan ada yang kurang. Adapun Allah menjadikan dalam hidup ini seorang ibu yang lebih dekat kepada kasih sayang, sementara ayah lebih dekat kepada ketegasan dan pembalasan. Bila salah satunya hilang, buruklah pendidikan.

Demikian pula dengan pendidikan Allah sebagai rabb yang memelihara seluruh alam. Maka ia menunjuk yang pertama dengan firman-Nya ar-rahman ar-rahim, dan kepada yang kedua dengan firman-Nya maaliki yaumid din. Yang tersebut pertama adalah sifat pemurah pengasih, sementara yang kedua adalah kedudukan-Nya sebagi penguasa hari kebangkitan dan pembalasan (lih. Thantawi, Al- Jawahir, I:17).

Dalam hal pembalasan, yang bisa dipikirkan pertama kali adalah kemestian adanya perbedaan antara pembuat kejahatan, antara orang yang patuh dan yang membangkang, antara yang menuruti perintah dan menyelisihi. (Razi, At-Tafsirul Kabir, 1240). Dan berhubung peraturan manusia (di dunia) tidak terlepas dari kesalahan, sehubungan dengan celah-celah di situ atau karena sesatnya para kadi dan para hakim, ataupun karena kebodohan mereka, Allah menjadikan pembalasan yang lebih sesuai  pada hari kiamat, “agar terganjar setiap setiap jiwa menurut yang ia perbuat, dan mereka tak dizalimi” (Q.45:22) (Thanthawi, I:17).

Dengan kata lain, itu tidak menyata kecuali di hari pembalasan kelak. Firman Allah,  “Agar Ia membalas para pembuat kejahatan menurut apa yang telah mereka kerjakan dan mengganjar mereka yang berbuat kebajikan dengan kebajikan”  (Q. 53:31). Dan, “Apakah Kami perlakukan orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan secara sama dengan perusak di bumi? Apakah Kami perlakukan orang-orang yang takwa secara sama dengan para pendosa?”  (Q.38:28). Juga, “Kiamat itu akan datang—hampir-hampir Kusembunyikan—agar diganjar setiap jiwa menurut apa yang diperbuatnya” (Q.20-15). Itu pertama.

Kedua, bila seseorang berbuat zalim kepada sesama , kemudian yang dizalimi tidak menuntut balas, itu hanya bisa terjadi karena salah satu dari tiga sebab ketidakmampuan, kebodohan, atau memang ia merelakan dirinya mendapat perlakuan seperti itu. Dan ketiga-tiga hal itu mustahil pada Allah yang Mahatinggi. Maka wajiblah, menurut hak Allah, menuntut balas kepada yang zalim untuk kepentingan  yang dizalimi. Dan berhubung, sudah diketahui, pembalasan setimpal umumnya tidak terjadi dalam kehidupan dunia. Ia harus terjadi di alam akhirat sesudah alam dunia, dan itulah yang dimaksudkan dengan firman-Nya, “Maka barangsiapa berbuat kebajikan seberat biji zarah ia akan melihatnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat biji zarah ia pun akan melihatnya juga” (Q. 99:7-8).

Teladan Imam Hanafi

Al-Fakhrur Razi (w.604 H.), yang menuliskan kalimat-kalimat di atas dalam kitabnya (At-Tafsirul Kabir wa Mafatihul Ghaib), memuat satu riwayat tanpa sanad (rangkaian pembawa berita) tentang seseorang yang dibawa di hari kiamat, diperiksa, dan tidak didapati pada dirinya kebaikan sama sekali. Tiba-tiba terdengar seruan,  “Hai si Anu, masuklah ke dalam surga karena perbuatanmu.” Maka ia pun bertanya, “Ilahi, apa yang sudah aku kerjakan?” Berfirman Allah Ta’ala, “Bukankah engkau, ketika tidur, dan berbalik dari sisi ke sisi, pada malam anu, di sela-sela itu engkau mengucapkan ‘Allah’, tapi kamu dikalahkan kantuk seketika itu juga, dan lupa? Tetapi Aku tidak disentuh kantuk maupun tidur dan tidak lupa.” Itu kedua.

Ketiga, kewajiban itu terdiri dari dua macam: yang berhubungan dengan hak Allah dan yang berhubungan dengan hak hamba. Adapun hak Allah berdiri pada alas kemungkinan pemanfatan, mengingat sifat Allah Yang  Mahakaya di hadapan seluruh alam. Tetapi hak-hak hamba, itulah yang wajib kita pelihara. Ada satu riwayat tentang Imam Abu Hanifah:

Imam itu punya satu piutang pada seorang majusi. Maka ia pun pergi untuk menagih. Ketika ia sampai di gerbang rumahnya, ternyata sandalnya karena najis. Maka, ia pun mengibaskan sandal itu—tapi najis itu rupanya melayang dn hinggap di dinding luar rumah majusi.  Menjadi bingun glah sang imam. Katanya, “Kalau aku biarkan, itu menyebabkan jeleknya dinding ini. Tapi kalau aku kikis, tanah akan berjatuhan dari tembok ini”. Imam lalu mengetuk pintu. Keluar budak perempuan. Kata Imam, “Bilang sama tuanmu sana, Abu Hanifah ada di gerbang.”

Maka keluarlah si pemilik rumah. Dengan pikiran bahwa si tamu datang untuk menagih, ia pun mulai mengemukakan alasan untuk minta penundaan. Tapi kata Abu Hanifah.  “Ini ada yang lebih penting.” Lalu beliau menceritakan kisah dinding itu, dan bagaimana kira-kira cara membersihkannya. Tiba-tiba si majusi berkata: “Sayalah yang akan mulai, dengan membersihkan diri saya sendiri.” Waktu itu juga ia masuk Islam. (Razi, I:240-241).

Abu Hanifah, fakih besar yang juga seorang pemborong dan ahli bangunan (ia pernah memborong pembangunan dinding Kota Bagdad, dan diceritakan sebagai orang yang menganjarkan cara membuat ubin tertentu kepada penduduk kotanya, Kufah, Irak), adalah salah satu contoh ulama besar yang hidup sangat bersih. Ketika, ia suatu hari, mendengar kabar mengenai terjadinya pencurian kambing besar-besaran, dan bahwa kambing-kambing itu sudah masuk pasar-pasar Kufah, ia bertanya, berapa biasanya umur seekor kambing. Dijawab, sekian tahun. Maka sekian tahun itu ia menolak menyantap daging kambing. Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panjimas, 13-26 November 2002.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda