Tasawuf

Wirid Hidayat Jati : Mensenyawakan Nafsu, Kalbu dan Akal

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Di dalam Suluk Kidung Kawedar yang menjadi pokok bahasan buku Islam Mencintai Nusantara, Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, manusia yang masih berupa ruh dan berada di alam ruh digambarkan kekuatan dan perjalanannya sampai ditiupkan ke rahim ibu.  Kidung Kawedar juga bisa disebut Kidung Hartati, yaitu Kidung yang memiliki karsa yang utama. Karsa adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak. Ruh ini dianugerahi arta daya, yakni kebijaksanaan dan kekuatan batin termasuk rasa belas kasih. Inilah rahsa.

Demikianlah Wirid Hidayat Jati menggambarkan, Gusti Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, membekali manusia dengan hakikat kediamannya, dan bukan kediaman dalam gambaran rumah tinggal secara fisik. Hakikat kediaman itu adalah Baitul Makmur di kepala dan otak, Baitul Muharram di dada dan kalbu, serta Baitul Muqaddas di dalam kemaluan berupa inti sari benih kehidupan.

Para penganut spiritual non muslim terutama Barat yang diilhami oleh aliran spiritual Mesir Kuno juga mengenal hakikat energi dari unsur-unsur alkimia, yang berada di tubuh manusia dengan posisi seperti itu, yakni hakikat energi pikiran yang dilambangkan sebagai garam berada di kepala; hakikat energi  nabati atau perasaan yang dilambangkan sebagai merkuri berada di sekitar ulu hati; serta hakikat energi hewani yang dilambangkan dengan sulfur berada di wilayah organ seks.

Di Mesir dengan peradaban Mesir Kuno yang diperkirakan telah berkembang semenjak 5000 tahun Sebelum Masehi, dan tumbuh pesat 2000 an tahun kemudian, juga ada mitologi tentang burung Phoenix dengan bulu-bulunya yang berwarna merah dan keemasan sangat indah. Burung ini melambangkan keabadian, simbol kehidupan dan kebangkitan setelah mati.

Pengolahan yang sempurna atas dimensi energi dari unsur-unsur alkimia tersebut menghasilkan emas, suatu logam mulia yang luar biasa. Tetapi dalam kehidupan spiritual, proses alkimia dari unsur-unsur tadi akan menghasilkan emas spiritual, yang berupa kesadaran yang berubah, yang tidak sebatas logam atau pesona duniawi. Pesona duniawi, bagi spiritualis yang mencapai tahap tersebut tidak lagi menarik (Jonathan Black, The Secret History oh the World, edisi Indonesia oleh Pustaka Alvabet).

Apabila kita berhasil mensenyawakan secara sempurna berbagai kehendak dan energi seksual dengan energi perasaan dan pemikiran, serta membentuk keinginan-keinginan yang bersifat spiritual dengan kekuatan yang besar, maka burung kebangkitan, Phoenix, akan muncul. Burung ini melambangkan keabadian, simbol kehidupan dan kebangkitan setelah mati.

Selain di Mesir, tamzil burung seperti itu juga ada dalam mitologi Cina, Arab dan Indonesia. Di Cina, burung Phoenix  disebut burung Hong atau Fenghuang, guna melambangkan keagungan sekaligus kecantikan. Legenda burung Hong dikenal semenjak 2.600an tahun Sebelum Masehi.

Dalam mitologi Arab Kuno, ada seekor burung yang disebut Anqo. Burung itu disebutkan namanya dalam buku karya Zakariya al- Qazwini yang berjudul ʿAjā’ib al-Makhlūqāt wa-Gharā’ib al-Mawjūdāt (Makhluk-makhluk Ajaib dan Hal-hal Aneh yang Ada). Burung raksasa ini dikisahkan oleh al-Kisa’i, yang hidup pada pada zaman Nabi Hanzhalah dengan umatnya yang disebut Ashab ar-Rass. Nabi Hanzhalah terpaksa membunuh burung tersebut karena berubah sifat menjadi pemangsa manusia. Ia memohon ijin Tuhan untuk mematikan dan memutuskan keturunannya. Burung ini sering di identikkan dengan burung Simurgh dari Persia dan Phoenix dari Mesir kuno.

Di Indonesia, kita juga mengenal mitologi burung yang kita kenal dengan burung Garuda yang kini kita jadikan sebagai lambang Negara.

Dalam tasawuf, manusia juga memiliki tiga komponen dasar kehidupan yaitu nafsu, kalbu dan akal, yang ketiganya juga harus disenyawakan secara baik. (Bertasawuf di Zaman Edan halaman 54 dan seterusnya). Sementara itu pengikut Islam Kejawen melambangkan ketiga komponen kehidupan tersebut yaitu akal sebagai Baitul Makmur yang berpusat di kepala, kalbu sebagai Baitul Muharram berpusat di hati sanubari yang secara fisik berada di sekitar uluhati dan nafsu sebagai Baitul Muqaddas berpusat di organ kemaluan (Islam Mencintai Nusantara, Jalan Dakwah Sunan Kalijaga halaman 200).

Pada Bab Mendayagunakan Kalbu, penulis sudah kemukakan  bahwa nafsu dan syahwat yang dilandasi oleh energi hewani, dalam olah batin orang Jawa disebut karsa. Nafsu, syahwat atau karsa diperlukan dalam kehidupan, namun sebagaimana energi hewani, ia perlu dikendalikan oleh rahsa yang merupakan inti dari kalbu. Agar karsa yang sudah dikendalikan oleh rahsa tadi mewujud menjadi buah karya maka harus dibuatkan gambarannya oleh cipta atau akal, tetapi agar perwujudan hasil sinergi karsa dan cipta tadi memberikan kemaslahatan besar bagi sesama makhluk Allah, maka kalbu juga harus tetap terus mengawal dan menyertainya. Subhanallah. 

(Wirid Hidayat Jati : 12 dari 14, dalam Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

1 Comment

  • Dimas Wie, apakah ketiga hal dalam pemahaman Islam Jawa dapat diasosiasikan dengan : id, ego dan super egonya Freud ttg teori psiko_analisa ?Sepertinya ada kemiripan nggih. Suwun, nyuwun pangapunten.. Wassalam

Tinggalkan Komentar Anda