Adab Rasul

Menutup Kemarahan Allah

Foto ilustrasi : Herriest/pixabay.com
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Rasulullah s.a.w. bersabda, “Siapa menahan marah, padahal ia mampu melampiaskannya, Allah akan mengisi hatinya dengan rasa aman dan iman.” (Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, I:464). Karena itu pula sabda beliau, menurut Abu Hurairah r.a.: “Orang perkasa bukanlah dia yang hebat dalam berkelahi, melainkan yang menguasai dirinya sewaktu marah.” (Al-khazin, Lubabut Ta’wil, I:283).

Suatu hari, pelayan Aisyah r.a. membuatnya marah. Apa kata Aisyah? “Alangkah bagusnya takwa itu – obat yang ditinggalkannya untuk orang murka.” (Zamakhsyari, loc.cit)/

Thabari (Jami’ul Bayan, IV:94) meriwayatkan kata-kata Al-Hasan, “Diserukan, pada hari Kiamat: ‘Supaya berdiri siapa yang punya pahala pada Allah’. Tetapi tidak ada yang berdiri – kecuali orang yang memafkan.” Lalu Al-Hasan membaca ayat Q.3:133-136. Ibn Uyainah (Zamakhsyari, loc.cit) juga menuturkan  riwayat ini, dan membacakannya kepada Harun ar-Rasyid ketika khalifah itu sedang marah kepada seseorang. Lalu Khalifah membiarkan orang itu.

Dari Razi, ada satu hadis mengenai sedekah – yang di masa Nabi biasanya beliau anjurkan untuk biaya perang maupun bantuan kepada orang yang lemah. Nabi sendiri tidak menerima sedekah untuk diri dan keluarga besar beliau. Suatu hari beliau bersabda: “Bersedekahlah kalian.” Maka para sahabat bersedekah – dengan emas, perak, makanan… Ada yang datang kepada Nabi dengan sejumlah kurma masih dalam kulitnya, dan menyedekahkannya. Lalu datang seseorang. Berkata: “Demi Allah saya tidak punya sesuatu untuk disedekahkan. Tetapi saya bersedekah dengan harga diri saya: saya tidak akan menghukum seseorang untuk yang diucapkannya dalam pembicaraan. Pada kali lain, datang perutusan dari kaum orang itu kepada Nabi. Lalu Nabi memberitahu: “Di antara kalian sudah ada yang bersedekah, dan sudah diterima Allah. Ia bersedekah dengan kehormatan dirinya.”

Hadis lain: “Tidak ada seorang hamba yang mencapai keutamaan sampai ia menjalin hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan dengan dia, memaafkan orang yang menzaliminya, dan memberi orang yang mengharamkan pemberian kepadanya.”

Diriwayatkan dari Isa ibn Maryam, shalawatullah ‘alaih: “Bukanlah kebajikan itu kalau engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu. Itu seimbang saja. Kebajikan itu kalau engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.” (Razi, At-Tafsirul Kabir, IX:8).

Qurthubi (Al-Jami’, IV:207) memuat penuturan Anas ibn Malik r.a., tentang sahabat yang bertanya: “Ya Rasul Allah, apakah yang paling dahsyat dibanding segalanya?”

“Kemarahan Allah,” jawab Nabi.

“Lalu apa yang bisa menyelematkan?”

“Jangan marah.”

Penulis: Syu’bah Asa; Sumber: Panji Masyarakat, 9 Februari1998.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda