Cakrawala

Agama dan Kontrol Sosial

Written by Panji Masyarakat

Tidak ada penjelasan dan definisi yang memuaskan semua pihak mengenai pengertian dan asal-usul agama. Bahkan, wujud agama pun tidak riil karena agama lebih merupakan realita simbolik. Entitas
agama merupakan bangunan makna-makna yang bisa asyik didiskusikan, tetapi wujudnya tidak bisa diraba. Namun begitu, dampak dan pengaruh agama dalam kehidupan individu maupun sosial
sangat nyata. Ada kalanya agama hadir bagaikan angin ribut yang wujudnya tidak kelihatan, tetapi pengaruh kekuatannya bisa mengobrak-abrik dan menggoyahkan bangunan sosial. Namun sekali waktu kehadiran agama dirasakan bak air hujan yang menyirami bumi yang kering sehingga pepohonan menjadi segar dan menghijau.

Demikianlah, agama yang wujudnya abstrak itu, pengaruh dari keberadaannya sangat dirasakan baik oleh individu maupun sosial sepanjang sejarah manusia. Sampai-sampai agama telah mendorong
mereka yang membencinya untuk menulis buku, membangun teori filsafat, dan melakukan propaganda untuk mengubur agama. Para intelektual Barat anak kandung Abad Pencerahan berpandangan optimistis, progresif, dan linier serta berkeyakinan bahwa ketika ilmu pengetahuan modern makin berjaya, demokrasi terwujud, ideologi kapitalisme berhasil, maka agama tak akan lagi dibutuhkan masyarakat. Tidak usah disingkirkan, agama akan tenggelam dengan sendirinya sebagaimana matahari menghilang pada sore hari. Namun rupanya pandangan progresivisme-positivisme ini tidak mampu melenyapkan eksistensi agama dalam peradaban manusia.

Para politikus, ekonom, filsuf, ilmuwan, dan para teolog, harus mengakui akan kelebihan dan kekurangannya sekaligus dalam mewujudkan ambisinya untuk melayani dan menyejahterahkan hidup manusia. Proses rekonsiliasi dan kooperasi antarkekuatan tersebut mudah diamati dalam berbagai seminar maupun literatur yang bermunculan akhir-akhir ini. Baik ideologi dan agama besar dunia, semula masing-masing menawarkan janji-janjinya untuk menyejahterakan masyarakat dunia. Masing-masing ingin mewujudkan bayang-bayang sorga di muka bumi. Kemiskinan, pengangguran, penindasan, kekerasan, dan kejahatan lainnya hendak dieliminasi dan kemudian akan digantikan oleh kehidupan sorgawi.

Sudahkah cetak biru sorgawi terwujud? Sebagian menjawab, sudah. Bukankah tata kehidupan manusia sekarang ini jauh lebih beradab, lebih nyaman, dan lebih bermartabat dibanding ratusan tahun yang lalu? Yang lain berpandangan, idealisme dan romantisme ideologi dan agama besar dunia itu harus ditinggalkan. Kita harus berganti kacamata paradigmatik dalam melihat realita sejarah dan masa depan manusia.

Bayangan sorgawi itu hanyalah sebuah persepsi dan proyeksi yang selalu muncul pada setiap semangat zaman. Bukankah tiap-tiap abad memiliki cita dan citranya sendiri sebagai the spirit of the age? Bukankah kehidupan akan terasa sesak akan sesak kalau kita tidak memiliki persepsi dan harapan sorgawi pada hari esok? Mazhab lainnya berkata, panggung sejarah adalah tempat bagi Tuhan untuk menampakkan sifat kasih dan kekuasaan-Nya, sementara manusia adalah agen Tuhan yang paling representatif. Jadi, alur kehidupan itu sesungguhnya bergerak linierkah, memutarkah, spiralkah, loncat-loncatankah, atau bagaimana? Kita sulit menjawabnya karena usia manusia hanyalah setitik dari misteri panjangnya menerka-nerka dan membuat kalkulasi untuk mengendalikan masa depan. Entah sudah berapa ribu filsuf, ilmuwan, teolog, dan futurolog yang menawarkan visi, solusi, dan harapan mengenai masa depan kemanusiaan. Entah sudah berapa juta judul buku dan laporan penelitian yang hendak menjelaskan arah masa depan peradaban manusia. Semua itu menunjukkan kegelisahan, harapan, dan keunggulan manusia dibandingkan penghuni lain di planet ini.

Matahari terus berputar. Hari-hari terus berlalu. Problem kehidupan setiap saat hadir menyapa kita. Kegelisahan dan harapan memeluk kita silih berganti. Lalu, sesungguhnya apa yang tengah kita cari dan kita tunggu? Kehidupan ini absurd, kata filsuf skeptisisme-nihilisme. Hidup ini rangkaian ujian dan cobaan, kata ustadz, tetangga saya. Dunia ini tempat bersenang-senang, kata Epikurus.

Lalu, jawaban apa yang ditawarkan agama? Mengapa dan untuk apa kita beragama? Para mistikus menjawab, kehidupan adalah jalan mendaki dan memutar untuk kembali kepada Tuhan. Ia adalah pusat gravitasi dan orientasi, ibarat bangunan Ka’bah menjadi kiblat kaum muslimin ketika bertawaf atau melakukan salat. Fungsi agama kita adalah menghubungkan jati diri manusia dengan Sang Khalik, Sang Kekasih yang senantiasa dirindukan.Agama adalah rambu-rambu dan bimbingan praktis untuk mengatur kehidupan agar martabat manusia tak terjatuh menjadi hina dan lalu lintas kehidupan menjadi tertib dan aman. Agama adalah manifestasi kasih dan ilmu Tuhan agar manusia mengetahui peta hidup dan tahu kepada siapa harus berterima serta berkonsultasi ketika menghadapi musibah.

Banyak ragam jawaban pengalaman orang mengenai makna dan fungsi agama. Para aktivis LSM umumnya lebih dekat dengan istana dan penguasa, dengan alasan ingin berdakwah dan mengubah dari dalam. Bukankah bersikap lemah lembut, ramah, dan bersahabat dengan penguasa, dakwah kita lebih didengar ketimbang kritik dan caci maki di mimbar masjid yang tidak terdengar oleh telinga penguasa?

Akhir-akhir ini bumi Indonesia terasa makin panas meski hujan telah tiba dan kebakaran hutan sudah berakhir. Kegelisahan, pesimisme, dan eskpresi kesal serta umpatan pada keadaan, mudah kita jumpai di mana-mana. Kita waswas sekali jika bara api ini mencuat dan membakar permukaan sosial sebagaimana ganasnya api yang membakar permukaan bumi di Kalimantan dan Sumatera belum lama ini. Lalu bisakah agama ikut berperan mengatasi gejolak ini ketika para politikus dan ekonom juga ramai-ramai menunjukkan kebingungannya?

Di sini agama bisa mengambil peran ganda meski agak paradoksal. Para tokoh agama bisa membantu memberikan suasana sejuk, anjuran sabar, memperbanyak istigfar bahwa ini semua adalah cobaan Tuhan. Namun saya khawatir keberagamaan dan dakwah yang serba sejuk itu menggembirakan penguasa penguasa karena tidak diimbangi dakwah yang lantang dan melakukan kritik sosial-politik, yang kemudian ikut andil mengantarkan suasana seperti tengah terjadi.

Bukankah, korupsi, kolusi, nepotisme, keangkuhan biroksi, dan semacamnya merupakan sasaran kritik dan dakwah yang sangat ditekankan oleh para pendiri agama besar dunia? Meski terlambat, mendesak untuk segera mengubah orientasi dakwah dan pemikiran keagamaan selama ini. Persoalan bangsa ini sudah berkait antara variabel yang satu dan yang lain.

Jika pemikiran agama, ormas-ormas keagamaan, dan para da’i tidak ikut memikirkan dan merespons persoalan politik, ekonomi, dan etika berbangsa, maka apa maknanya semboyan bahwa kehadiran agama adalah untuk ikut serta membangun masyarakat adil, sejahtera lahir-batin, menegakkan kebenaran, meskipun penuh risiko sebagaimana telah dicontohkan para Rasul dan para pejuang?

Penulis: Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, pernah menjabat rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, selama dua periode. Kini rektor Universitas Islam Internasional Indonesia.

Sumber: Panji Masyarakat, 5 Januari 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda