Tafsir

Segala Puji bagi Allah (Bagian 1)

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. Ar-rahmaanir rahiim

Segala puji bagi Allah, tuhan sekalian alam, Maha Pemurah, Maha Pengasih (Q. 1:2-3)

Sabda Rasulullah s.a.w., dari sumber Anas ibn Malik r.a.: “Sekiranya dunia seluruhnya, dengan segala isinya, berada di tangan seseorang dari umatku, kemudian dia mengucapkan ‘alhamdu lillah,’  itu ‘alhamdu lillah’ lebih baik dari yang tadi itu.” Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi (tafsirnya, Al-Jami’ li-Ahkamil Quran) mencoba mencari alasan mengapa demikian. Dan jawabannya: “Karena dunia fana, sedangkan kalimat itu abadi”

Pujian (al-hamd) dan syukur (asy-syukr) itu satu. Demikian bagi At-Thabari  dan Al-Mubrid. Kita sendiri, di indonesia, mengenal ungkapan ‘puji syukur’. Kata Ibn ‘Atha, “Maknanya syukur juga”, Ibn Abbas r.a. juga berkata, “Alhamdulillah itu kalimat semua orang yang bersyukur. Adam a.s, ketika bersin, mengucap ‘ahamdu lillah’. Allah berfirman kepada Nuh As, ‘Maka ucapkan “Segala puji bagi Allah (alhamdu lillah) yang telah menyelamatkan kami dari kaum yang zalim”.’ (QS Al-Mukminun 28). Berkata Ibrahim a.s.,  ‘Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepadaku, di usia tua. Isma’il dan Ishaq.’ (QS Ibrahim 39).

Berfirman pula Allah dalam kisah Dawud dan Sulaiman, ‘Mereka berdua berucap, “Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami di atas banyak hamba-Nya yang mukmin”.’ (QS An-Naml 15). Berfirman pula Allah kepada Nabi-Nya s.a.w.,  ‘Dan ucapkan, “Segala puji bagi Allah yang tidak mengambil seorang putra”.’ (QS Al-Isra 111). Berkata pula penduduk surga penduduk surga, ‘Segala puji Allah yang telah menghilangkan duka cita kami’. (QS Fathir 34). ‘Dan akhir doa mereka adalah, “Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin”.’ Maka dia adalah kalimat kalimat semua orang yang bersyukur.”

Itu benar. Semua orang yang bersyukur mengucapkan ‘alhamdu lillah’. Tetapi ada perbedaan: alhamd adalah pujian berdasarkan sifat-sifat dari yang puji, pada dasarnya tanpa didahului perbuatan baik oleh yang dipuji kepada yang memuji. Sedangkan syukr (terimakasih) adalah pujian berdasarkan perbuatan baik dari yang memuji. Karena itu, hamd (pujian) lebih umum dibanding syukr (ucapan terimakasih). (Qurthubi, I:31-134, passim).

Muhammad Thabathaba’i  (Al-Mizan fi Tafsiril Qur’an) menerangkan poin  “pujian berdasarkan sifat-sifat yang dipuji” itu dengan mengingatkan kita kepada sifat-sifat dan perbuatan (af’al) Allah yang memang dengan sendirinya harus dipuji. Firman Allah: “Yang membuat indah segala yang ia ciptakan” (QS As-Sajdah 7). Ayat ini memberi pemahaman kepada kita bahwa tidak ada ciptaan yang tidak cantik, berkat tindakan Allah menciptakan keindahan ciptaan itu, dan tidak ada keindahan yang  bukan merupakan makhluk-Nya dan yang tidak ternisbatkan kepada-Nya. Itu dari segi perbuatan-Nya.

Dan berdasarkan itu (belum lagi berdasarkan kebajikan-Nya yang eksplisit kepada kita;pen.) ia dipuji. Dan tidak satupun pujian yang diucapkan seseorang untuk suatu hal yang terpuji yang tidak ada pada Allah Subhanahu secara hakikat, karena kebagusan menjadi gantungan pujian itu datang dari Allah Subhanahu. Maka bagi Allah Subhanahu seluruh jenis pujian.

Pujian itu sebenarnya penyifatan. Sedangkan Allah Subhanahu sudah melepaskan Diri-Nya dari berbagai penyifatan para hamba-Nya ketika Ia berfirman, “Mahasuci Allah dari yang mereka  gambarkan—kecuali hsmba-hamba Allah yang sudah dibersihkan” (QS Ash-Shaffat 160). Untuk hamba-hamba jenis ini Allah Ta’ala menjadikan pujian mereka pujian-Nya sendiri dan penyifatan mereka penyifatan-Nya sendiri, begitu ia membuat mereka para hamba yang ikhlas kepada-Nya.

Jelaslah, yang dituntut oleh adab peribadatan adalah bahwa seorang hamba memuji tuhan dengan cara yang  dipakai-Nya memuji Diri-Nya, dan tidak menyebranginya, sebagaimana dalam pujian Nabi: “Tidak bisa kuhitung pujian pada-Mu, Engkau, sebagaimana Engkau memuji Diri-Mu sendiri”. Maka firman Allah di awal surah, “Alhamdu lillah (Segala puji bagi Allah)”, dan seterusnya, itu merupakan pemberian pelajaran peribadatan, sesuatu yang memang menjadi kelayakan bagi si hamba untuk mengucapkannya. (lih. Thabathaba’i, Mizan, I:18). Bersambung.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat Sumber Sumber: Panjimas, 30 Oktober-12 November 2002

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda