Mutiara

Bukan Fisikawan Biasa

Written by A.Suryana Sudrajat

Menurut Baiquni kita sulit memahami pesan Tuhan yang terkandung dalam ayat-ayat kauniyah tanpa bantuan sains. Bagaimana kaum Muslim bisa memperoleh kejayaannya kembali di bidang ilmu pengetahuan?

Tidak sedikit di kalangan muslimin yang melihat gejala alam, seperti banjir besar di Jakarta dan beberapa saerah di Jawa Barat dan Banten beberapa waktu lalu, secara teologis. Bukan dari kacamata sains atau ilmu pengetahuan. Misalnya, Allah murka karena pada malam tahun baru langit ditembaki kembang api seraya dibisingi bunyi terompet, plus pesta hura-hura dari kaum mubadzirin yang sarat maksiat. Atas laku maksiat umat manusia itu lalu Allah menurunkan azab, sebagai peringatan akan laku maksiat yang mendatangkan siksa itu. Jadi bertobatlah segera agar kita terbebas dari azab-azab bencana alam yang setiap saat bisa ditimpakan. Tidak salah memang, karena seharusnya perbuatan maksiat harus diakhiri dengan taubat. Yang jadi soal, apakah dengan demikian bencana alam bisa dihindari, dicegah, atau paling tidak dikurangi risikonya?

Menghadapi fenomena alam seperti itu, baiknya kita mengingat kembali apa yang pernah dikemukakan fisikawan kita almarhum Prof Achmad Baiquni tentang pentingnya memahami teks-teks Kitab Suci tentang alam dan berbagai fenomenanya.
Menurut Baiquni, pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah dengan fenomenanya tidak bisa dilepaskan dari sains. Kita tidak akan dapat memahami dengan baik ayat-ayat kauniyah tanpa adanya bantuan sains. Sebagai contoh, Surat Al-Anbiyā ayat 21, “Dan tidaklah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa sama’ (ruang waktu) dan ardh (energi materi) itu dulu sesuatu yang padu, kemudian kami pisahkan keduanya itu.” Kata dia, sulit kiranya dipahami pesan Ilahi ini kalau tidak ada bantuan dari sains. Oleh karena itu, atas dasar ilmu fisika, ruang banyak mempengaruhi ilmu astronomi dan kosmologi, diperolehlah pengetahuan evolusi ruang-waktu dan energi-materi yang ditempati oleh manusia ini sebagai hasil dari “ekspansi kosmos” dan “radiasi gelombang” yang pada mulanya berada pada satu titik “singularitas”. Berdasarkan pemahaman ini maka kemudian diketahui makna ayat tersebut di mana samā’ dan ardh pada mulanya merupakan suatu yang padu. Dalam buku Alquran, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Baiquni memang mengusulkan enam istilah baru dalam terjemahan Alquran, yaitu kata samā (langit) diterjemahkan sebagai ruang, Ardh (bumi) menjadi materi, Qalām (pena) menjadi karya tulis, Dukhan (asap) menjadi embunan, Arsy (singgasana) menjadi pemerintahan (Allah), dan Māa’ (air) menjadi zat alir.

Profesor Achmad Baiquni memang bukan fisikawan biasa. Selain fisikawan atom pertama di Indonesia dan termasuk dalam jajaran ilmuwan fisika atom internasional yang dihormati, Baiquni punya obsesi bagaimana kaum Muslim meraih kembali kejayaan peradaban mereka. Bagiamana bangsa Indonesia bisa memasuki abad teknokratis seperti sekarang.

Lahir di Surakarta, 31 Agustus 1923, sejak kecil Baiquni sudah memperoleh pendidikan agama. Pada usia kanak-kanak, ia sudah mampu membaca Alquran sebelum ia bisa nembaca huruf Latin. Ia belajar madrasah, setelah paginya belajar di sekolah dasar. Ia melanjutkan pelajarannya di sekolah yang dibangun oleh Pakubuwono X di Solo, Madrasah Tinggi Mambaul Ulum. Di sini, ia sekelas dengan Munawir Sjadzali, mantan Menteri Agama. Setelah lulus dari SMAN I Surakarta, ia melanjutkan pendidikan tingginya di FIPIA (Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam) Universitas Indonesia di Bandung sampai memperoleh gelar sarjana dan menjadi lulusan terbaik pada tahun 1952. 

Setelah tiga tahun menjadi asisten dosen fisika di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), ia mendapat tugas belajar di School of Nuclear Science and Engineering di Argonne, Amerika Serikat.

Pada tahun 1950, ilmu fisika atom masih menjadi monopoli Amerika Serikat yang lima tahun sebelumnya menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Baru pada 1954, Presiden Eisenhower mengizinkan fisika atom diajarkan secara terbuka di perguruan tinggi. Tahun itu Baiquni memang sedang memperdalam ilmu fisikanya di Amerika Serikat. Mula-mula, ia belajar di Laboratorium Nasional di Argonne selama tujuh bulan. Kemudian, ia mempelajari “bidang baru” itu di Universitas Chicago hingga meraih gelar master (M.Sc.) pada 1956 dan doktor (Ph.D.) pada 1964. Ia adalah orang Indonesia pertama yang mendapat bimbingan dari Edward Teller dan Leo Szilard.

Kembali ke Tanah Air, ia mengajar dan kemdian menjadi guru besar fisika UGM dan berkali-kali menjadi anggota delegasi khusus pemerintah Indonesia di forum-forum international, seperti International Atomic Agency, Japan Atomic Industrial, Asian Regional Nuclear, dan lain-lain. Ia juga pernah menjadi komite ilmiah PBB untuk dampak radiasi atom, dan aktif di Third World Academy of Sciences (TWAS) yang digagas oleh fisikawan asal Pakistan peraih nobel, Prof. Dr. Abdussalam. Ia juga menjadi anggota Scientific Council dari International Centre for Theoretical Physic, International Atomic Energy Agency, yang bertugas sebagai Associate Member pada lembaga tersebut pada 1968-1970. Sebagai timbal baliknya, ia juga ikut merintis pembentukan reaktor riset dan program studi fisika nuklir di UGM.

Selain di UGM, ia juga mengajar di Pascasarjana IAIN (sekarang UIN) Jakarta dan Universitas Paramadina, serta menjadi Rektor Universitas Nasional Jakarta (1992-1997), anggota Dewan Kurator Universitas As-Syafi’iyah Jakarta, ketua Dewan Pakar ICMI, dan anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional selama (1989-1996).

Di lembaga pemerintahan, ia diangkat menjadi saintis senior BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), kepala Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) tahun 1973-1984, staf ahli Kementerian Riset dan Teknologi, dan Duta Besar RI untuk Swedia dan Perancis (1985-1998).

Baiquni punya perhatian besar terhadap dunia pendidikan, masalah lingkungan dan persoalan umat Islam. Kata dia, kaum Muslim dapat meraih kembali kejayaan peradaban Islam jika mereka punya keinginan yang keras dan bekerja keras untuk mencapainya. Ia berpendapat, menjelang berakhirnya abad ke-20, umat manusia akan masuk jauh ke dalam zaman teknokratis. Menurut dia, bangsa Indonesia tidak akan dapat berkembang maju dengan cepat serta masuk ke zaman industri, jikalau masih hidup dalam teknologi yang pseudo-technology atau borrowed technology saja. Apabila perkembangan serta kemajuan bangsa ini tetap seperti sekarang dalam pemanfaatan sains dan teknologi, maka masa depannya akan suram.

Prof. Achmad Baiquni wafat pada 21 Desember 1998, dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.***

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat