Mutiara

Pak Muh Alias Mad Gambar

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kiai dan guru tasawuf yang juga dijuluki Mad Gambar ini pernah menggelandang di Jakarta dan nyaris dibunuh nenek sihir. Mengapa dia tidak mengikuti aliran tarekat tertentu?

Kiai Haji Muhammad Zuhri adalah sosok ulama nyentrik, seorang guru sufi dari desa Sekarjalak, Pati, Jawa Tengah. Ia juga dikenal sebagai pelukis dan budayawan. Ia juga populer dengan panggilan Pak Muh atau Mad Gambar. Panggilan terakhir ini diberikan, karena keahliannya dalam melukis. Sebenarnya ia keberatan dipanggil kiai, tetapi masyarakat telah telanjur menyebutnya kiai.

Zuhri dilahirkan di Kudus, Jawa Tengah, pada 21 Desember 1939. Ia dan keluarganya hijrah ke Pati, sambil menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Guru Bawah (SGB). Pada tahun 1957 ia menjadi guru Sekolah Dasar sampai 1964. Ia juga aktif di Muhammadiyah. Setelah mundur, ia mengembangkan bakat seni lukisnya. Pilihannya menjadi pelukis ini mengantarkannya merantau ke Semarang dan kemudian ke Jakarta.

Waktu menggelandang di Jakarta, konon ia bertemu seorang nenek sihir yang berusaha membunuhnya. Namun, sebuah doa yang diperolehnya dari sufi zaman silam mampu menolongnya mengalahkan penyihir tersebut. Pertemuan dan pengalamannya dengan nenek sihir itu kemudian membuka jalan baginya untuk menempuh jalan sufi, dan mengantarkannya untuk bertemu ke beberapa guru tasawuf dan pemuka tarekat. Salah satu di antaranya adalah Kiai Hamid Pasuruan. Seorang guru sufi tingkat tinggi pada zamannya, dan yang mengangkatnya menjadi guru sufi.

Di rumahnya di Sekarjalak, Pati, ia membentuk halaqoh diskusi tasawuf yang diberi nama Pesantren Budaya Barzakh. Halaqoh ini mengadakan pengajian dua minggu sekali. Di samping mengisi pengajian dalam forum tersebut, setiap bulan sekali ia mengunjungi murid-muridnya di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Kebanyakan dari mereka adalah intelektual muda yang sudah menganggapnya sebagai orangtua. Murid-muridnya di Jakarta membentuk sebuah organisasi sosial Islam bernama Yayasan Barzakh, dan yang di Bandung membentuk forum kesenian Islam bernama Keluarga Budaya Barzakh.

Tidak seperti kebanyakan guru sufi yang mengikuti aliran tarekat tertentu, Kiai Zuhri tidak mengikuti aliran tarekat mana pun dan juga tidak berniat untuk mendirikan sebuah tarekat baru. Ada seorang ilmuwan pernah memanggilnya dengan sebutan sufi revolusioner, dikarenakan pemikiran-pemikirannya yang revolusioner tentang tasawuf. Konsep dasar tasawuf Pak Muh adalah sintesis dari kenabian Musa Alaihis Salam dan kenabian Isa Alaihis Salam yang berwujud kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.

Aktualisasinya berupa kreativitas yang positif (amal shalih) yang merupakan eksistensi manusia menurut ajaran Islam. Amal shalih di sini merupakan pertemuan antara makhluk dan Sang Pencipta, maka di dalam amal shalihnya-lah letak ‘transedensi spiritual’ umat Islam (pengikut Nabi Muhammad SAW). Para pendahulunya ada yang mempraktikkan penyucian diri dengan cara-cara ekstrem, misalnya uzlah dan khalwat, sedangkan Pak Muh dalam penyucian diri dengan cara beraktualisasi diri dalam kehidupan lewat kreativitas yang dapat mengembangkan umat pada zamannya.

Kesadaran dan paradigma semacam ini tampak jelas dalam kehidupan dia sehari-hari. Ia selalu setia menerima dan melayani tamu-tamu dari berbagai pelosok desa dan penjuru kota. Mereka datang meminta nasihat atau pertolongan spiritual darinya untuk mengatasi berbagai masalah pribadi, keluarga, atau sosial. Ia tidak berani menolak setiap tamu yang datang, baik tamu orang baik-baik maupun dari golongan orang tidak baik.

Suatu ketika misalnya, sekelompok PSK yang dulu disebut WTS itu datang meminta penglarisan. Setelah lama berbincang-bincang, ternyata mereka memasuki ke dunia gelap tersebut karena terjepit keadaan dan tidak ingin selamanya menekuni profesi tersebut. Mereka juga ingin seperti wanita biasa yang mempunyai suami dan menjalani rumah tangga dengan baik. Di akhir perjumpaan mereka itu, ia memberikan mereka sepotong kertas berisi doa yang harus dibawa setiap saat, dengan harapan doa itu membuat mereka cepat diambil istri oleh pria baik-baik, bukan sebagai penglaris. Dengan menggunakan taktik tersebut, PSK yang minta penglarisan tersebut akhirnya mendapatkan jodoh dan berhenti melacur. Ia tidak menolak kehadiran para pelacur tersebut, karena ia menyadari bahwa di balik kedatangan mereka itu terdapat perintah Allah untuk mengarahkan mereka menuju jalan yang benar.

Kiai Zuhri alias Pak Muh juga punya kemampuan spiritual. Yakni menyembuhkan berbagai penyakit dengan menggunakan metoda Sufi Healing. Di samping memberikan wejangan dan arahan spiritual, beliau banyak menyembuhkan pasien yang datang dari berbagai daerah. Bahkan, ada pasien dapat sembuh hanya dengan menuruti petunjuk yang diberikan melalui surat-menyurat, tanpa tatap muka. Kanker, leukemia, lumpuh, impotensi, dan bermacam jenis penyakit telah dapat disembuhkannya.

K.H. Muhammad Zuhri wafat pada 18 Oktober 2011. Wejangan-wejangan Pak Muh di telah diterbitkan dalam bentuk buku, di antaranya Qasidah Cinta, Langit-langit Desa, Lantai-lantai Kota, Menggenapi Nama Allah yang ke Seratus, dan Hidup Lebih Bermakna. Semasa hidupnya Muhammad Zuhri kerap mengirimkan artikel-artikelnya ke majalah Panji Masyarakat. Dan beberapa di antaranya kami tayangkan di PM versi online ini.***

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda