Tasawuf

Wirid Hidayat Jati : Mengolah Cipta – Rahsa – Karsa

Ditulis oleh B.Wiwoho

Ranggawarsita berpesan kepada para guru agar dalam menyampaikan ajaran, berikanlah semua yang kita ketahui, namun harus secara bertahap, sesuai dengan tingkatan murid masing-masing. Sedangkan kepada para murid hendaknya berlatih pula bertapa dalam tujuh jenis dan tingkatan. Mempelajari ilmu batin haruslah dengan tatacara yang tepat, sebab apabila tidak kita justru bisa tersesat ke alam para demit dan jin.”

Betapa luar biasa kekuasaan Dzat Allah, sehingga dalam banyak doa dan sabdanya, Kanjeng Nabi Muhammad sering mengawali dengan kalimat seperti: “ Demi Dzat yang jiwaku senantiasa dalam genggaman-Nya”, atau “Demi Dzat yang membolak-balikkan hati”, atau “Demi Dzat yang Maha Pengasih” dan lain-lain. Semuanya menggambarkan betapa seluruh nasib, kehidupan dan jiwa raga kita senantiasa di dalam genggaman kekuasan Gusti Allah.

Oleh sebab itu maka kita harus senantiasa berserah diri sekaligus bergantung kepada Yang Menghidupkan dan Menghidupi kita, dengan usaha atau ikhtiar yang sesuai dengan aturan-aturan dari Yang Maha Hidup, senantiasa berdoa memohon perkenan, perlindungan dan pertolongan-Nya, serta meniatkannya demi bekal ibadah dan amal saleh. Yang Maha Hidup dengan kuasa dan kehendak-Nya akan menghidupi serta mengatur kehidupan kita sesuai persepsi atau persangkaan kita kepada-Nya. Dalam rangka itu kita diijinkan membulatkan cipta dan karsa kita, mengungkapkan cita-cita dan keinginan kepada-Nya, yang dikawal ketat dengan rahsa atau nurani dengan diniatkan serta ditekadkan sebagai bekal ibadah dan amal soleh kita. Sesudah itu selanjutnya, berserah diri akan kuasa dan kehendak-Nya.

Demi menggalang penghayatan yang seperti itu, kita dianjurkan untuk membiasakan pada setiap saat dalam berbagai keadaan dan di mana pun berada, berzikir menyebut setidaknya dua asma Allah yakni Yaa Hayyu Yaa Qayyuum  (Yang Mahahidup – Yang Mahaberdiri Dengan Sendiri-Nya), dengan segenap pemahaman, keyakinan dan penghayatan sebagaimana uraian di atas. Yakinilah, “hasbunallah wa nikmal wakil,” cukuplah Allah yang menjadi penolong kita. Inilah maqam mulia yang diidamkan para salik, yang bersuluk mengenal Gusti Allah dengan sebenar-benarnya mengenal. Dalam lidah orang Jawa tempo dulu, Yaa Hayyu – Yaa Qayyuum terucap menjadi Ya Kayu – Yaa Kayumu, namun dengan keyakinan penuh pada Sing Urip-Sing Nggawe Urip–Sing Nguripi. Maafkanlah.

Keempat, seperti halnya mengaji sastra suluk dan serat wirid lainnya, mengaji serat Wirid Hidayat Jati sama dengan mempelajari tasawuf. Oleh sebab itu  sebelum mempelajari lebih dalam khususnya yang ingin memahami dan mengamalkan hakikatnya, hendaklah terlebih dulu mempelajari dasar-dasar serta pemahaman yang baku dan berlaku umum tentang tasawuf dan tarekat antara lain maknanya, adab pergaulannya, pengertian tentang uzlah, zuhud, wara, berzikir, mengatasi berbagai penyakit hati, takhali, tahalli dan tajali.

Belajar tasawuf menurut guru besar ilmu fikih Prof K.H.Ali Yafie (buku Bertaswuf di Zaman Edan), bagaikan masuk ke rumah sakit atau masuk ke salon kecantikan jiwa. Bila diibaratkan masuk ke rumah sakit, seorang salik, bagaikan pasien yang  harus terlebih dulu melakukan pemeriksaan menyeluruh atau general check-up. Dalam bahasa tasawuf ini disebut tahliil al-qalb atau tahliil an-nafs. Setelah itu ditentukan terapinya yang disebut  dawaa’ al-qalb atau dawaa’ amraadhh al-qalb. Proses terapi ini disebut pelatihan atau riyaadah antara lain berpuasa dan melakukan wirid, yakni melatih berzikir secara istiqomah.

Jika diibaratkan masuk ke  salon kecantikan, maka kita mengenal tahapan awal yang berupa pembersihan wajah dari berbagai kotoran termasuk debu-debu kehidupan. Sesudah bersih, tahap berikutnya adalah membuat pondasi tata rias, baru sesudah itu dilakukan tata rias seperti bedak, celak mata, merapikan alis dan bulu mata, bayangan hidung, pemerah bibir dan lain sebagainya.

Tahap awal lazim disebut takhalli atau pembersihan dan pengosongan jiwa dari sifat-sifat tercela. Tahap kedua disebut  tahalli atau mengisi kembali dengan sifat-sifat terpuji. Hasil kedua tahapan ini adalah tajalli, yaitu manusia baru dengan wajah batin yang indah dan sempurna, yang mampu meresapi rasa ketuhanan dan memiliki sifat, moral serta perilaku mulia sebagaimana diajarkan dalam asmaul husna. Apakah kita sudah menjalaninya, atau sudah siapkah kita menjalaninya?

Kelima, untuk mempelajari tasawuf ataupun ilmu batin, termasuk halnya Wirid Hidayat Jati ini, Ranggawarsita dalam Suluk Pamoring Kawula-Gusti  berpesan melalui tembang Dandanggula bait 7, 8 dan 9 bahwa seorang murid harus sabar, tekun, tidak boleh terburu-buru apalagi sangat bernafsu untuk segera bisa berhasil.

Selanjutnya dalam bait-bait yang lain, Ranggawarsita berpesan kepada para guru agar dalam menyampaikan ajaran, berikanlah semua yang kita ketahui, namun harus secara bertahap, sesuai dengan tingkatan murid masing-masing. Sedangkan kepada para murid hendaknya berlatih pula bertapa dalam tujuh jenis dan tingkatan. Mempelajari ilmu batin haruslah dengan tatacara yang tepat, sebab apabila tidak kita justru bisa tersesat ke alam para demit dan jin. Naudzubillah.

                                                                               Semoga dengan ridho, rahmat dan berkahNya, kita dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mengenal-Nya, dengan sebenar-benarnya mengenal. Amin. (Wirid Hidayat Jati: 9 dari 14, dalam Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda