Mutiara

Yang Langka dari Yang Langka

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kiai Abul Fadhol adalah ulama multitalenta. Tidak hanya mengarang kitab, tapi juga mampu memproduksi barang-barang berdayaguna dari balsem sampai sepeda ontel.

Ulama tergolong manusia langka, dan lebih langka lagi yang punya multitalenta seperti KH Abul Fadhol Senori. Tak hanya mengarang kitab ulama NU yang satu ini gemar bereksperimen dengan keterampilannya menciptakan produk-produk daya guna, misalnya membuat radio amatir, mendirikan pabrik balsem, pabrik rokok dan bengkel motor. Ia tercatat sebagai pengurus PBNU pada masa kepengurusan KH Idham Chalid. Kitab termasyhur karangannya adalah  Al-Kawakib Al-Lamma’ah yang direkomendasikan PBNU pada Muktamar NU ke-23 untuk ditelaah di pesantren.

Akan tetapi, Kiai Abul Fadhol tidak suka popularitas. Bahkan cenderung ‘bersembunyi’ dari publik. Ia lahir dari pasangan Kiai Abdul Syakur dan Sumiah. Silsilah ayah dan ibunya, konon nyambung sampai ke Sayid Abdurrahman Sambu, alias Eyang Sambu, salah seorang penyebar agama Islam di daerah Rembang, Jawa Tengah.

Sewaktu berumur 9 tahun, Abul Fadhol sudah hapal Alquran 30 juz. Beberapa kitab yang dihapalnya antara lain Alfiyyah, Jauhar Al-Makmûn, Zubad Alfiyah, Uqud Al-Juman. Ia juga mengarang beberapa kitab dalam berbagai disiplin ilmu ketika baru berusia belasan tahun. Pada tahun 1942 dia ke Tebuireng untuk nyantri dan berguru kepada K.H. Hasyim Asy’ari. Baru tujuh bulan mondok, terpaksa pulang karena Hadratusy Syekh ditahan tentara Jepang.

Kitab Kawâkib al-Lamma`ah, dan Kasyf al-Tabârih adalah kitab pertama yang ditulisnya pada tahun 60-an. Pada muktamar NU ke 23 di Solo kitab tersebut menjadi pembahasan khusus, sehingga menghasilkan rekomendasi untuk menjadikan kitab tersebut sebagai kitab pegangan warga NU.

Kiai Abul Fadhol sangat fasih berbahasa Arab dan menguasai khasanah keilmuwan klasik. Ia juga menguasai bahasa Inggris, Cina dan Belanda, walaupun beliau tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Ia juga dikenal pandai mengobati orang sakit, selain dengan ayat-ayat Quran serta doa-doa, juga mahir meramu obat. Konon ia mengamalkan ilmu kedokteran seorang ilmuwan sekaligus filosof muslim terkenal, Al-Farabi.

Untuk menghidupi keluarga, Abul Fadhol membuka usaha berupa toko kelontong yang menjual berbagai macam kebutuhan pokok termasuk beras, gula, minyak dan sebagainya. Ia juga pernah menjadi seorang penjahit baju sekaligus berdagang pakaian. Hal itu tentu saja dilakukan tanpa pernah melupakan tugasnya untuk tetap mengajar, selain menulis kitab.

Kitab yang disusun Kiai Abul Fadhol meliputi berbagai bidang. Yang terkait dengan tauhid antara lain Tahqîq al-Musammâ bi ahlis-Sunnah wal-Jamâah; Syarah Kawâkib;; Ad-Dar al-Farîd fî Sarh Nadzm Jauhâr at-Tauhîd; Manzhûmah al-Asmâul Husnâ.  Karya di bidang Bahasa Arab: Tashîl al-Masâlik. Kitab ini merupakan syarah terhadap kitab Alfiyah Ibnu Malik. Idlôh al-Masâlik; Zubad Syarh Alfiyah; Kaifiyyah al-Tullab; Mandlor al-Muwâfi; Al-Jawâhir al-Saniyyah; Syarh Uqûd al-Jumân. Dalam bidang hadis atau tepatnya ilmu hadis, Kiai Abul Fadhol menulis kitab Syarh Alfiyyah karya imam Jalaluddin As-Suyuthi. Karya di Bidang Syariah atau Fikih: Istilâh al-Fuqahâ`; Nadzm Asybah wa al-Nazhâir; Nazhm Kifâyah al-Thullab fî al-Qawâid al-Fiqhiyyah; Al-Wirdah al-Bahiyyah fî al-Ishthilâhât al-Fiqhiyyah; Kasyf al-Tabârîh fî Bayân Shalât al-Tarâwih. Kiai Abul Fadhol menulis kitab Ahlâ al-Musâmarah fî Hikâyah Auliyâ al-Asyarah yang mengupas tentang sejarah penyebaran Islam yang dilakukan oleh para wali.

Kiai Abul Fadhol meninggal tahun 1985, dimakamkan di Senori, Tuban, Jawa Timur.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda