Mutiara

Tuan Guru Pancor

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Ulama kharismatis pendiri Nahdlatul Wathan ini seorang pembaru pendidikan. Lembaga pendidikan yang bernaung di bawah NW kini tersebar di 18 provinsi. Tuan Guru juga dipercaya punya sejumlah karomah, dan konon pula punya santri jin.

Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid adalah ulama, pejuang, pendiri Nahdlatul Wathan, dan pelopor pendidikan di Pulau Lombok. Ia lahir di Pancor pada 5 Agustus 1898. Karena itu pula Zainudin lebih populer dengan sebutan Tuan Guru Pancor. Namun ini hanyalah satu dari sejumlah gelar kehormatan yang diberikan kepada Zainuddn. Gelar “Tuan Guru’ umum diberikan kepada ulama di Lombok, serupa sebutan kiai dan ajengan di Jawa. Selain Tuan Guru Pancor, masyarakat Pulau Lombok menggelarinya Tuan Guru Kiai Haji (TGKH), Maulana Syekh, dan Abul Masajid wal Madaris (Bapak masjid dan Madrasah). Tahun 2017 Tuan Guru Pancor dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Nama kecil Zainuddin adalah Muhammād Saggaf. Syahdan, tiga hari sebelum dilahirkan, ayahandanya, TGH. Abdul Madjīd, didatangi dua waliyullah, masing-masing dari Hadramaut dan Magrabi. Kedua orang itu secara kebetulan mempunyai nama yang sama: Saqqaf. Mereka berdua berpesan kepada TGH.Abdul Madjīd supaya anaknya yang akan lahir itu diberi nama Saqqaf alias “Atapnya para Wali”. Kata Saqqaf di Indonesiakan menjadi Saggaf dan untuk dialek bahasa Sasak menjadi “Segep”. Itulah sebabnya ia sering dipanggil “Gep” oleh ibunya, Halimatus Sa’diyah.Setelah menunaikan hajī, nama kecil itu diganti dengan Haji Muhammad Zainuddīn. Nama ini pun diberikan oleh ayahnya, yang diambil dari nama seorang ulama yang mengajar di Masjīdil Haram, yang bernama Syekh Muhammād Zainuddīn Sarawak. Ulama asal dari Sarawak, Malaysia.

Setelah selesai menuntut ilmu di Mekah, antara lain di Madrasah Saulatiyah, dan kembali ke Tanah Air, Zainuddin langsung melakukan dakwah ke berbagai lokasi di Pulau Lombok, sehingga dikenal secara luas oleh masyarakat. Pada waktu itu masyarakat menyebutnya Tuan Guru Pancor.

Mula-mula, pada tahun 1934 ia mendirikan Pesantren Al-Mujahidin sebagai tempat pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama. Lalu pada 1937 ia mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan menamatkan santri pertama kali pada tahun ajaran 1940/1941. Zainuddin adalah orang pertama di NTB yang memperkenalkan penggunaan kursi dan meja dalam belajar agama. Sistem ini ia terapkan pada lembaga pendidikan di Madrasah NWDI dan Madrasah Nadhlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI). Lembaga pendidikan di bawah naungan NW kini telah menyebar di 18 provinsi di Indonesia dan memiliki 1.060 sekolah.

Pada masa revolusi fisik, Tuan Guru Pancor ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Bahkan adiknya gugur di medan pertempuran. Pada tahun 1950-an ia aktif di Partai Masyumi, dan cukup dekat dengan pemimin Masyumi kala itu M. Natsir. Pada masa awal Orde Baru, Zainuddin menjadi salah satu mobilisator utama pemenangan Golkar di NTB. Pemerintah Orde Baru memintanya mengerahkan dukungan ulama Lombok untuk pemenangan Golkar pada pemilu 1971. Ia setuju dan kemudian menjadi juru kampanye Golkar di Lombok Timur untuk pemilihan anggota DPR pasa 1971 dan 1977. Hasilnya, Golkar memenangkan mayoritas di Lombok pada kedua pemilihan tersebut, dan TGH Abdul Madjid mewakili Provinsi Nusa Tenggara Barat dam Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Namun, memasuki awal dasawarsa 1980-an, hubungan Golkar dan umat Islam mulai menunjukkan ketidakharmonisan. Hal ini turut berpengaruh terhadap sikap antipati kebanyakan ulama di Lombok Timur terhadap Golkar. Tuan Guru Pancor pun memilih berhenti menjadi juru kampanye Golkar. Ia pun kembali aktif di dunia pendidikan. Ia mendirikan sejumlah lembaga pendidikan yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Wathan—sebut saja: Ma’had lil-Banat, Universitas Hamzanwadi, menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi, mendirikan Fakultas Tarbiyah Universitas Hamzanwadi, STKIP Hamzanwadi, Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Hamzanwadi, Yayasan Pendidikan Hamzanwadi, Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi, Sekolah Tinggi Ilamu Dakwah Hamzanwadi, Madrasah Aliyah Keagamaan putra-putri, dan Institut Agama Islam Hamzanwadi.

Sebagai ulama kharismatis, Tuan Guru Pancor juga dipercaya sejumlah karomah. Dikisahkan, salah seorang sahabatnya sewaktu belajar di Mekah, KH Ma’shum Lasem atau Mbah Ma’shum berkunjung ke Lombok. Ayahanda KH Ali Maksum Krapyak ini tiba di kediaman Tuan Guru Pancor menjelang magrib. Saat dijamu sohibul bait, Mbah Ma’shum melihat betapa ramainya pesantren Tuan Guru. Mreka tampak sedang mengaji dan berzikir. “Alhamdulillah, pesantren Tuan sudah maju. Santrinya banyak. Semoga mereka menjadi pemimpin kaumnya,” kata Mbah Ma’shum. Tuan Guru pun mengamini doa sahabatnya, yang juga dikenal ulama kharismatis itu.

Keesokan harinya, mendadak pesantren itu menjadi sepi. Tak urung, hal ini membuat Mbah Ma’shum heran seheran-herannya. Mbah Ma’shum pun bertanya pada ke mana santri-santri itu. Tuan Guru pun menjelaskan bahwa santri-santri yang dilihatnya kemarin sore itu adalah para jin. Kealiman Tuan Guru Pancor tak hanya diakui bangsa manusia, bangsa jin pun rupanya ikut mengaguminya sehingga ramai pula yang belajar kepadanya.

Tanda Karomah lainya dari Tuan Guru adalah pohon kelapa yag banyak tumbuh di sekitar pesantren. Ternyata air kelapa dari buah-buah kelapa yang dihasilkan pohon-pohon kelapa Tuan Guru punya khasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Dan Mbah Ma’shum ketika pamt pulang meningalkan Pancor, juga dioleh-olehi buah kelapa yang airnya penuh khasiat itu.

Tuan Guru Pancor meninggal pada 21 Oktober 1997 dalam usia 99 tahun. Ia dimakamkan . di Pancor, Selong, Lombok Timur. Salah satu cucu tuan Guru Pancor adalah Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang, lulusan Al-Azhar Mesir yang antara lain pernah menjabat gubernur NTB.***

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

2 Comments

Tinggalkan Komentar Anda