Mutiara

Tetapi Ini Lain

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Mohammad Husni Thamrin bagai tak lepas menatap potret H.O.S Tjokroaminoto, yang ia pajang di ruang kerjanya. Dia seakan sedang berdialog dengan pemimpin Sarekat Islam yang dikaguminya itu. Saking asyiknya, anggota Dewan Kota (Gemeentraad) Batavia ini sampai-sampai tidak menyadari kehadiran seorang kawannya. Dan ketika menoleh, Husni tampak kaget.

“Eh, Bang Ri…” sapanya. Spontan.

“Ada apanya, sih, potret itu? Kok ente keliatannnye asyik bener!” kata si kawan.

“Bukan main, bang…”

“Apanya yang bukan main?”

“Saya pernah mengikuti sidang-sidang. Volksraad. Kalau kebetulan tidak ada kerja di kantorku. Sejak lama aku ingin melihat perdebatan dalam mimbar seperti Volksraad.”

“Dan ente kagum.”

“Ya, saya melihat Pak Haji Oemar Said Tjokroaminoto berpidato…”

“Di depan Gemeenteraad, ente juga selalu berjuang untuk kaum Betawi.”

“Tetapi ini lain, Bang. Aku yang kini resmi wakil kaum Betawi di Gemeenteraad, selama ini hanya memperjuangkan. Ya, hanya memperjuangkan kaum Betawi tok.  Itu pun hanya segi-segi tertentu saja. Seperti kemasyarakatan, pendidikan, kesehatan…”

“Apa itu semua belum cukup?”

“Aku terpaku tadi…”

“Karena itu, sekarang ente pasang itu gambar Tjokroaminoto?”

“Ya, dia membangunkanku, membukakan mataku. Masih banyak yang harus dikerjakan.”

“Ah, tak baik jadi pengagum.”

“Itu benar, Bang. Itu benar. Tetapi saya tidak hanya kagum. Saya belajar. Pak Haji Tjokroaminoto mengusulkan kepada pemerintah supaya diadakan perubahan susunan pemerintahan. Dialah orang pertama yang berani mengumandangkan keinginan adanya perubahan politik, untuk seluruh Nusantara….”

Benar. M.H Thamrin tidak berjuang hanya untuk masyarakatnya. Masyarakat Betawi.

Ini dibuktikannya ketika menjadi anggota Volksraad pada tahun 1927.

Suatu hari aktivis gerakan rakyat ini mengadakan kunjungan ke Sumatera Timur. Ia ingin melihat dari dekat keadaan buruh kita di daerah itu. Ternyata keadaan mereka sungguh menyedihkan. Mereka dituntut kerja berat, sementara kondisi lingkungan sosial mereka tidak memadai. Dengan sengaja, di sekitar pemukiman buruh itu dibangun tempat perjudian dan tempat minum. Banyak kaum buruh, terutama kuli kontrak, yang kemudian terjerat utang, yang sulit dilepaskan. Belum lagi poenale sanctie  yang amat memberatkan kehidupan para buruh, yang sebagian besar berasal dari Jawa itu. Bila terjadi pelanggaran berat, mereka bisa dikenakan hukuman badan seperti dicambuk, atau dirotan.

Mohammad Husni Thamrin kemudian mengangkat persoalan itu dalam sidang Volksraad. Pidato anggota Dewan Rakyat ini kemudian tersebar ke luar negeri. Amerika Serikat bahkan mengeluarkan reaksi keras sehingga pemerintah Belanda terpaksa mencabut peraturan tersebut.

Langkah M.H Thamrin tidak berhenti pada perjuangan membea nasib kaum buruh. Anggota Volksraad ini dengan gigih memperjuangkan dihapuskannya istilah inlander diganti dengan Indonesia atau Indonesisch. Ditolak, meski usulanya didukung sebagian besar anggota Volksraad.

Mohammad Husni Thamrin lahir pada 16 Februari 1894 di Sawah Besar, kawasan Jakarta Kota sekarang. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Gymnasium Koning Willem III, Husi Thamrin bekerja di kantor kepatihan. Prestasi kerjanya yang bagus kemudian mengantarnya  bekerja di Kantor Karsidenan, sampai akhirnya dia bekerja di maskapai pelayaran KPM (Koninglijke Paketvaart Maatschappij).

Husni Thamrin lebih dari seorang pegawai biasa. Dia juga memiliki akar budaya dan dukungan masyarakat Betawi yang kuat. Tidak aneh jika Thamrin diangkat sebagai anggota Dewan Kota Batavia pada tahun 1919. Di sini, seperti telah disinggung dalam dialog di atas (dikutip dari S.A Soekanto), dia berjuang menuntut perbaikan kota, khususnya perkampunga-perkampungan rakyat. Perjuangannya itu tidak diabaikan warga Jakarta. Sehingga pada tahun 1923, Thamrin diangkat menjadi ketua Organisasi Kaum Betawi. Tujuan perkumpulan ini untuk memajukan perdagangan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat. Kemampuan dan prestasinya kemudian mengantarnya ke jabatan wakil walikota Batavia. Thamrin juga aktif di partai politik. Bahkan, setelah dokter Soepomo meninggal pada tahun 1938, anak Betawi ini menjabat sebagai wakil ketua Partai Indonesia Raya.

Sebelum Perang Pasifik berkobar, Menteri Perdagangan Jepang Kobajashi berkunjung ke Jakarta. Tujuannya untuk menuntut konsesi yang lebih besar dalam pembelian minyak bumi dan batu bara yang dihasilkan Hindia Belanda. Koran-koran memuat pernyataan Kobajashi, bahwa Jepang berminat meluaskan pengaruhnya di Hindia Timur, dan untuk itu memerlukan dukungan rakyat Indonesia.

Tak pelak lagi, pemerintah Hindia Belanda pun mulai mencurigai orang-orang Indonesia yang dianggap pro-Jepang. Termasuk Husni Thamrin. Ia ditangkap Belanda pada 6 Januari 1941—walaupun dalam keadaan sakit. Lima hari kemudian, pejuang  kemerdekaan ini wafat karena serangan jantung—ketika proses pengusutannya tengah dijalankan.

Dikatakan, keberanian adalah salah satu bukti terpenting seorang negarawan yang besar. Dan tanpa itu sulit rasanya kita membayangkan seorang Husni Thamrin melakukan tindakan-tindakan politiknya terutama dalam membela rakyat kecil. Dengan berbagai resiko yang harus dipikulnya.  

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda