Mutiara

Penyemai Islam di Tanah Karo

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Dalam berdakwah Syekh Sulaiman Tarigan tidak mengajarkan yang berat-berat, hanya bagaimana menjadi muslim yang baik. Ia menggunakan pendekatan adat dan media kesenian.

Tuan Guru Haji Sulaiman Tarigan adalah penyebar Islam di Tanah Karo, pendiri Madrasah/Pesa yukntren Sirajul Huda. Ia juga seorang guru silat dan dipercayai memiliki kesaktian. Dalam berdakwah ia menggunakan pendekatan adat dan istiadat Karo.

Ia lahir di Juhar, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sekitar tahun 1887. Sebelum memeluk Islam ia bernama Persadaan Tarigan. Ia dibesarkan di tengah keluarga bangsawan di masyarakat Karo. Ayahnya, Juan Tarigan, dikenal sebagai raja yang memiliki kearifan dan kebijaksanaan sehingga selalu dirujuk dan sering diminta menjadi hakim dalam menyelesaikan persoalan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Ia dan keluarganya merupakan orang yang pertama kali memeluk agama Islam di Tanah Karo. Ia mempelajari Islam bersama kakeknya, Sibayak Juan Tarigan, di Kutacane, Aceh Tenggara. Setelah memantapkan pengetahuan keisalamannya ia kemudian mendakwahkan Islam di tanah Karo. Dalam berdakwah, ia menggunakan metode yang sederhana.Yakni melalui adat dan istiadat budaya Karo yang berlandaskan sistem kekerabatan “Sangkep Sitelu”. Secara etimologis sangkep sitelu/daliken sitelu berarti “tungku yang tiga”. “Tiga yang utuh” ini terdiri dari unsur kelompok anakberu-senina-kalimbubu yang berfungsi sebagai media pemersatu dalam pertalian kekerabatan orang Karo.
Ia sangat paham terhadap nilai-nilai filosofi dari adat istiadat Karo. Ia mampu mengharmonisasikan antara tuntutan adat dan tuntunan agama. Sehingga dalam mengembangkan agama Islam di Tanah Karo, dikembangkan dengan cara dakwah kultural. Di tengah aktivitasnya sebagai dai, ia kemudian membangun masjid dan Madrasah/Pesantren Sirajul Huda yang hingga kini masih tetap berjalan.

Dalam berdakwah Sulaiman Tarigan tidak pernah mengajarkan yang berat-berat. Ia hanya mengajarkan bagaimana menjadi muslim yang baik dan praktek ibadah sehari-hari. Ia juga berdakwah lewat seni, karena orang-orang Karo tidak bisa dipisahkan dengan seni, di mana hampir setiap kegiatan adatnya diiringi dengan kesenian. Dakwahnya lewat budaya merupakan salah satu keahliannya tersendiri. Ia sangat memahami psikologi orang-orang Karo, di mana di antarnya sangat sulit menerima sesuatu yang baru sebelum mereka melihat alternatif penggantinya. Sosok Sulaiman Tarigan memiliki semua keahlian itu untuk menundukkan masyarakat Karo dalam berdakwah, bahkan ia mampu mengobati orang sakit secara batin dan pandai membuat ramuan obat-obatan untuk segala penyakit. Untuk kalangan intelektual ia juga mengajarkan beberapa kitab, diantaranya: Kitab Perukunan, Matla’ul Badrain, Sairu al-Salikin, Sabil al-Muhtadin  dan sebagainya.
Pada zaman perang kemerdekaan ia juga aktif memperjuangkan kemerdekaan dengan cara mendirikan Partai Masyumi dan membentuk Lasykar Hizbullah serta Lasykar Sabilillah di Tanah Karo. Ia menunjuk H. Abdul Razak Tarigan, sebagai komandannya. Di mana pada masa pendudukan Jepang sudah terlatih sebagai tentara Heiho. Ia juga merupakan orang pertama yang menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama, Kabupaten Karo. Dalam mendidik anak-anak dan keluarganya, ia sangat menekankan agar tunduk kepada ajaran agama Islam. Ketika seseorang tunduk kepada Islam, maka ia telah memiliki visi dan misi yang sama. Berangkat dari visi dan misi yang sama inilah akan terwujud kehidupan rumah tangga yang harmonis.

Dalam membangun hubungan dengan saudara-saudaranya yang non-Muslim, ia mempunyai prinsip “menjadi muslim tidak berarti kehilangan identitas sebagai orang Karo”. Menurutnya, ajaran-ajaran adat sangat banyak semangat dan nilainya sama dengan ajaran Islam, tetapi untuk hal-hal yang bertentangan dengan akidah, maka Islam tidak mengenal sikap kompromi. Perbedaan agama tidaklah menjadi halangan baginya untuk melakukan komunikasi dan silaturrahim dan tidak heran kalau dia sangat rajin mendatangi undangan pesta

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda