Mutiara

Sang Penegak Ajaran Aswaja di Ranah Minang

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Syekh Sulaiman Ar-Rasuli alias Inyik Canduang adalah ulama tradisi yang diyakini punya karomah. Pendiri Perti ini juga dikenal penulis yang produktif.

Syahdan, tentara Belanda atawa KNIL bermaksud menangkap Syekh Sulaiman Ar Rasuli saat dia mengajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). Mendapat firasat buruk, ia keluar dan memilih jalan-jalan di sekitar desanya, bukan untuk melarikan diri. Tak berapa lama kendaraan yang membawa serdadu KNIL lewat di adapannya. Mereka berhenti, dan Syekh Sulaiman Ar Rasuli pun bertanya, ke mana mereka akan pergi. Mereka menjawab, “Kami hendak bertemu dan menangkap Syekh Sulaiman.” 

Waktu itu tentara Belanda tidak mengenal wajah Syekh Sulaiman. Mereka hanya berpatokan: siapa yang sedang mengajar di MTI itulah Syekh Sulaiman Ar Rasuli. Dan pada hari itu satu-satunya yang mengajar di MTI adalah dia. Syekh Sulaiman menawarkan mereka singgah untuk beristirahat di rumahnya sembari mengatakan, “Alangkah baiknya tuan-tuan singgah terlebih dahulu di rumah saya. Karena tuan-tuan pasti akan bertemu dengan orang yang tuan-tuan cari.” 

Setelah beristirahat dan berbincang-bincang dengannya, lalu mereka bertanya?. “Mana Syekh Sulaiman yang tuan katakan itu”? Dia menjawab, “Syekh Sulaiman yang tuan-tuan cari itu adalah saya sendiri.” Bukan main mereka terkejut mendengar pengakuan yang jujur itu. Entah mengapa, serdadu KNIL itu kemudian mengurungkan niat mereka menangkap Syekh Sulaiman. Bahkan, mereka langsung meminta maaf.

Para jamaah dan pengikut Syekh Sulaiman Ar-Rasuli menganggap cerita di atas sebagai salah satu karomah yang diberikan Allah SWT kepadanya, yang biasa diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh.

Syeikh Haji Sulaiman Ar-Rasuli alias Inyiak Canduang dikenal sebagai ulama pendidik, pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), dan tokoh perintis kemerdekaan. Ia dilahirkan pada 10 Desember 1871 di Canduang IV Angkek, Kabupaten Agam, Payakumbuh, Sumatera Barat. Ayahnya Angku Mudo Muhammad Rasul, seorang ulama yang cukup terpandang di Minangkabau pada masanya. Sejak kecil ia dididik dan diarahkan oleh ayah ibunya untuk mendalami ilmu agama. Ia belajar Alquran kepada Maulana Syekh Abdurrahman Al-Khalidi, nahwu dan sharaf kepada Syekh Abdush Shamad Samiak (Tuanku Sami’), fikih dan pemahaman ilmu faraid kepada Syekh Muhammad Ali, tafsir, tauhid dan tasawuf kepada Syekh Abdullah (Syekh Halaban). Selama tujuh tahun (1890-1896) Inyiak Canduang belajar kepada Syekh Halaban. Bukan hanya dipercaya untuk mengajar pada waktu-waktu tertentu, ia juga diambil menantu oleh sang guru.

Pada akhir 1896, Sulaiman kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa beberapa orang murid untuk mengajar di kampung selama enam bulan. Kemudian pada 1903 Inyiak Canduang berangkat ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam kelima sekaligus mendalami ilmu-ilmu agama. Di Mekah, ia antara lain belajar kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syekh Nawawi Al-Bantani. Sewaktu bermukim di Mekah, Sulaiman belajar bersama empat orang temannya yang juga berasal dari Minangkabau, yang kemudian terkenal sebagai Syekh Abdul Karim Amrullah, Syekh Muhammad Djamil Jambek, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Abbas Abdullah Ladang Laweh Padang Panjang.

Pada 1907, ia pulang ke kampung halamannya dan menetap di Candung. Ia kemudian terkenal dengan sebutan Inyiak Canduang. Setahun kemudian ia membuka halaqah pengajian di “Surau Baru atau Surau Tinggi” di Pakan Kamih. Di surau ini Inyiak Canduang mengadakan perubahan terhadap sistem halaqah yang awalnya berupa hapalan, sorogan dan wetonan menjadi sistem klasikal berjenjang atau bertingkat. Halaqoh tersebut didatangi oleh seluruh anak dari pelosok nagari Minangkabau.


Berdirinya Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Candung pada 1928, memprakarsai munculnya dua madrasah yang merujuk dan berafiliasi kepada madrasah Candung yaitu Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho di Padang Panjang yang dipimpin oleh Syekh Muhammad Jamil Jaho kemudian disusul dengan berdirinya MTI Tabek Gadang Payaumbuhan oleh Syah Abdul Wahid Saleh. Boleh dikatakan, MTI Canduang merupakan proses dari eksistensi MTI-MTI yang tersebar di Nusantara, tercatat sampai sekarang ada sekitar 216 Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang eksis di Sumatera Barat. Untuk mengatur dan mengelola semua madrasah-madrasah yang berada di bawah naungan Madrasah Tarbiyah Islamiyah maka pada 28 Mei 1930 di sepakati berdirinya suatu organisasi yang disebut Persatuan Tarbiyah Islamiyah(Perti). Perti tidak hanya menangani masalah pendidikan saja, tetapi juga bidang sosial dengan membangun sejumlah surau, rumah panti asuhan yatim piatu, klinik, dan rumah sakit.

Selain aktif di dunia pendidikan, Sulaiman juga aktif di dunia politik dan keorganisasian. Sejak tahun 1921, ia bersama dua teman akrabnya, Syekh Abbas dan Syekh Muhammad Jamil Jaho, serta sejumlah ulama kaum tuo membentuk organisasi bernama Ittihadul Ulama Sumatera (Persatuan Ulama Sumatera) yang bertujuan untuk membela dan mengembangkan paham Ahlus-Sunnah wal-Jama‘ah, yang mendapat serangan gencar dari gerakan pembaruan kaum mudo, yang antara lain dipelopori Syekh Abdullah Ahmad, H. Abdul Karim Amrullah dan Syekh Jamil Jambek Inyiak Candung, bersama kedua sahabatnya itu, dengan teguh memperjuangkan paham Ahlus sunnah wal-Jamaah di Minangkabau. Salah satu kegiatannya adalah menerbitkan majalah Ar-Radd wal-Mardud sebagai sarana untuk menyebarkan, menjelaskan mempertahankan paham Ahlus sunnah wal-Jama’ah. Sedangkan corak pemikirannya dalam bidang ilmu akidah tertuang pada tulisannya yang berjudul Al-Aqwalu al-Mardhiyah fi al-‘Aqaid ad-Diniyyah dalam perspektif Ahlus Sunnah Waljama’ah atau yang sering disingkat Aswaja.


Pada mulanya Sulaiman Ar-Rasuli seorang ulama yang anti tarekat sebagaimana gurunya Syekh Ahmad Khatib. Namun setelah pertemuannya dengan Tuan Syekh Arsyadi Batu Hampar dan bertukar pikiran dengannya, ia menerima pemikiran Syekh Arsyadi. Sulaiman mempertahankan tarekat Naqsabandiah pada setiap tablig maupun dalam diskusi terbuka. Bahkan Ia membantah kerancuan tentang kesesatan tarekat Naqsabandiyah yang dituduhkan oleh Syekh Thaher Jalaludin al-Falaki (salah seorang ualam Minagkabau ahli falak) dengan menulis buku “Tabligh al-Amanat fi Izalah al-Munkarat wasy-Syubuhat(1954). Selain itu, Inyiak Candung juga terkenal sebagai ahli adat Minangkabau berkat pergaulannya yang akrab dengan penghulu-penghulu dan para laras yang tergabung dalam organisasi adat yang bernama Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM)

Sulaiman Ar-Rasuli juga dikenal sebagai seorang ulama yang produktif menulis. Karya-karyanya antara lain: Al-Aqwalul Mardhiyah fil ‘Aqidah ad-Diniyahberisikan pembahasan tentang tauhid; Al-Qaulul Kasyif fi Radd ‘ala man I’tiradh ‘ala Akabir karya ini merupakan perkataan pembuka untuk menolak dakwaan orang-orang yang mengingkari ulama-ulama besar berkaitan dengan permasalahan niat ‘ushalli’ dalam sembahyang; Ibthal Hazzhi Ahlil ‘Ashbiyah fi Tahrim Qira’atil Qur’an bi ‘Ajamiyah menjelaskan tentang haramnya menbaca Al-Quran dengan ajamiyah (bahasa non Arab); Izalatul Dhalal fi Tahrim Iza was Sual berisi kecaman terhadap orang yang menjadikan meminta-minta sebagai mata pencaharian tanpa hajat darurat.


Syekh Sulaiman Ar-Rasuli wafat pada 1 Agustus 1970. Jenazahnya dimakamkan dekat Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung Bukittinggi, diantar puluhan ribu orang yang datang dari berbagai daerah.****

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda