Hamka

Membingkai Keislaman dan Keindonesiaan

Written by Panji Masyarakat

Apabila setiap pemeluk agama apa pun  melaksanakan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh maka dengan agama lain dia akan rukun. Yang tidak rukun adalah mereka yang tidak melaksanakan ajaran agama.  

Ka mano waang (mau ke mana kamu)?” kata  Hamka, suatu sore, kepada salah seorang anaknya, yang berpenampilan gagah hendak beergian.Belum sempat dijawab, Hamka meneruskan “Kalau kita mau bertemu dengan orang yang kita cintai tentu kita harus tampil gagah, bukan? Tahu ndak waang (kamu), bagaimana kalau kita menjadikan Allah sang Kekasih?”

Anaknya hanya terdiam dengan gelengan minim hampir tak kelihatan. Hamka menyempurnakan petuahnya “Maka tampillah selalu gagah, jangan tampil loyo, jangan tampil dalam kehidupan ini bermalas-malasan. Tunjukan kepada sang Kekasih bahwa kita ini gagah, hamba-Nya yang berpenampilan menarik dan rajin berusaha. Kita harus tampil prima menjalankan amanah kehidupan yang singkat.”

Hamka, ulama besar Indonesia sekaligus tokoh terkemuka Muhammadiyah, berkata demikian mungkin ketika maqam  keilmuan dan spiritualnya sudah tinggi. Kata-kata yang keluar menjadi begitu lugas dan bertenaga walaupun hanya di sela waktu. Tapi Hamka sudah membuktikan kegagahannya dari awal pengembaraan hidupnya. Di usia 16 tahun, ia sudah mengambara ke Pulau Jawa yang saat itu gegap gempita dengan pergerakan nasional. Belajarlah dia dengan HOS Tjokroaminoto, bertemu pula dengan KH. Ahmad Dahlan beserta murid setianya seperti KH Fachrudin, serta berjumpa lah dia dengan kakak ipar sekaligus guru spiritualnya Buya AR. Sutan Mansur.

Belum genap 20 tahun (1927), dia sudah nekat pergi ke Mekah untuk berhaji dan memperdalam ilmu. Tak sampai setahun atas nasehat Agus Salim the grand old man, Hamka akhirnya pulang ke tanah air. Dia menuju Medan, dan mengajar agama di Tebing Tinggi (Deli), sebelum akhirnya dijemput Sutan Mansur atas permintaan ayahandanya yaitu Haji Rasul. Di kota Medan lah cerita besar kepengarangannya di mulai.

Novel Merantau ke Deli adalah refleksi pemikirannya ketika sekembalinya Hamka dari Makkah ke Indonesia. Walaupun terbit sekitar sepuluh tahun kemudian dari bahannya diperoleh. Novel itu menggambarkan pemikiran Hamka mengenai bingkai kebangsaaan yang terbentuk oleh kesamanan nasib di antara para kuli kontrak tanah Deli.

Para kuli kontrak itu berasal hampir dr semua suku bangsa yang ada di tanah air. Mereka kawin-mawin, Minang dengan Jawa, Melayu dengan Banjar atau kombinasi lainnyan. Pertanyaannya,  suku atau etnis apa kah anak it? Itulah anak-anak Indonesia, anak-anak Nusantara kata Hamka. Apabila Tan Malaka, sebagai orang pertama yg mengkonsep Republik, membayangkan Nusantara bersatu dalam satu negara bangsa berbekal konsep dari teori dan imaji dari ilmu politik. Hamka, pada tempo yang tak begitu jauh (tahun 1920-an juga), melihat bayangan tersebut dalam lensa kebudayaan.

Hingga akhirnya, pada karyanya  yang paling monumental yaitu Tafsir Al-Azhar, hadir ke tengah masyarakat Indonesia sebagai tafsir yang populer. Dikemas dengan bahasa yang ringan dan tanpa meninggalkan kedalaman keilmuannya, terdapat narasi besar tentang Keislaman dan Keindonesiaan. Tidak heran, jika  James Rush, seorang Indonesianis peneliti Hamka, menyatakan bahwa dari awal kepengarangan Hamka, bingkai keislaman dan keindonesiaan selalu hadir sebagai gagasan utama yang dewasa ini masih terus diperbincangkan oleh publik.

Salah satu poin penting dalam keislaman dan keindonesiaan menurut Hamka adalah kerukunan. Kons Kleden seorang wartawan yang pernah mewawancarai Hamka mendapat kutipan sebagai berikut, “ …. Apabila setiap pemeluk agama apa pun  melaksanakan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh maka dengan agama lain dia akan rukun. Yang tidak rukun adalah mereka yang tidak melaksanakan ajaran agama. Tapi nyaring membicarakan agama “Saya orang Islam, yang lain itu salah!”. Dia berteriak demikian padahal sembahyangpun tidak. Yang menjalankan agamanya dengan sungguh-sungguh tidak akan sempat mencela agama lain.”  Hal senada juga diulangi Hamka dalam karyanya  Pribadi Hebat.

Hamka punya panggilan Buya, dari bahasa Arab yang berarti ayah. Ayah yang memiliki 10 anak kandung, namun  sebagai ayah (panutan) bangsa ini, anak-anaknya ada di seluruh bumi pertiwi. Anak-anak yang dibayangkan hampir seumur kepengarangannya akan membangun tanah air ini dengan nafas dan semangat Islam. Semangat Islam yang gagah, tidak loyo dan bermalas-malasan, apalagi saling mengejek antar satu kelompok atau golongan satu dengan yang lainnya. Dalam Tasauf Modern, Hamka menegaskan bahwa “semangat Islam sejati adalah semangat berjuang, semangat berkorban, bekerja.”

Syukur, Hamka tak sempat lihat anak-anaknya sibuk memberikan label antar satu dengan yang lainnya. Label ‘kafir’ dan ‘munafik’ diobral sangat murah melebihi murahnya harga toko masa cuci gudang. Tak lah dipikir label itu akan berbalik kepada mereka sendirinya. Apalagi sampai memikirkan perpecahan yang timbul akibatnya. Di sisi lain, label baru muncul ‘intoleransi’ sebagai balasan dari mereka yang dianggap ‘kafir dan ‘munafik’. Suatu label yang tak kalah menohok dan sama dangkalnya dalam menalar akibat yang akan timbul.

Buya mungkin tak tenang di sana, usaha seumur hidupnya memberikan narasi besar keislaman dan keindonesian dengan gagah dalam berbagai dimensi, mulai dari kesusasteraan, kesejarahan dan keIslaman (dakwah dan tafsir), menghembuskan nafas Islam yang akan menyegarkan dan memberi tenaga bagi Indonesia modern. Seketika menguap begitu saja oleh pragmatisme politik. Hadirnya reformasi bak pisau bermata dua, kebebasan berpendapat dijamin, tapi juga memberi ruang untuk sesama anak bangsa saling mengejek dan menjatuhkan. Semangat berjuang dan bekerja tak lagi nampak. Hanya keinginan saling melabeli satu sama lainnya. Saling klaim diri paling baik dan orang lain buruk. Tak sadar martabat kita sebagai anak bangsa lah yang terinjak oleh kelakuan sendiri.

Buya Hamka sudah lama mangkat, tapi karyanya masih lekat dengan zaman. Publikasi karyanya masih diulang terus.  Tauladan yang kurang dari para elite negeri kita, janganlah diratapi. Dari pada mengutuk gelap, lebih baik menyalakan cahaya. Salah satu sumber cahaya itu ada di Hamka, sang Buya, sang Ayah. Berbagai ketauladanan sudah diberikan lewat tulisan dan perbuatannya. Ketauladanan dalam menjaga persaudaraan antar sesama anak bangsa perlu diketengahkan dewasa ini. Di tengah potret keagamaan yang ditampilkan tak lagi mencerahkan. Nur Islam meredup seiring oleh sikap partisan. Sesuatu yang jauh dari ketauladannya. Sikap gagah di depan sang Kekasih dengan sikap rajin berusaha dan tampil prima, tak tampak sesuai keinginan Hamka akan anak cucunya. Kita hanya tampil gagah-gagahan dengan mencoba merendahkan saudara kita yang lain.

Perlu kita pikir ulang sudah seberapa gagah kita di hadapan-Nya. Kita pikir sambil merefleksi pada ketauladan Hamka. Seorang Minang yang berwawasan Islam dan keIndonesiaan. Muhammadiyah tulen yang diikuti dengan bangga oleh seluruh jenis Islam di Indonesia. Cahaya tauladan itu ada dekat dengan kita tak jauh di seberang benua sana, dan bahkan masih bersama kita lewat karyanya.***

Penulis: Ruhul Amin, mahasiswa Magister Ilmu Politik UI, aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

1 Comment

Tinggalkan Komentar Anda