Tasawuf

Wirid Hidayat Jati : Cipta – Rahsa – Karsa

Written by B.Wiwoho

Wejangan ketiga Wirid Hidayat Jati menggambarkan empat unsur dasar yang disertakan dalam penciptaan manusia, yakni tanah, api, angin dan air. Selain itu, Gusti Allah juga memasukkan sehingga menyatu pada diri manusia lima unsur rohani yang merupakan intisari penggerak kehidupan yakni nur, rahsa, roh, nafsu dan budi.

Berbeda dengan kelima unsur tersebut (yang bersumber dari tiga kitab yang disebut sebelumnya) , sejumlah ulama menyebut tiga komponen diri yaitu akal atau cipta, qalbu atau rahsa dan nafsu atau karsa (lihat B.Wiwoho dalam buku-buku 1.Memaknai Kehidupan, 2.Bertasawuf di Zaman Edan, dan (3) Islam Mencintai Nusantara, Jalan Dakwah Sunan Kalijaga). Ketiga komponen diri itu akan kita jumpai apabila kita mengaji Wejangan Wirid Hidayat Jati ke 4 sampai 6.

Tentang kata mud’ah dalam wejangan ketiga (Seri 5), Dr.Simuh dalam Mistis Islam Kejawen, menulis kelima mud’ah tersebut dimasukkan melalui ubun-ubun, otak, mata, telinga,hidung, mulut dan dada. Kemudian menyebar ke seluruh badan.

Kata mud’ah  sebenarnya berasal dari istilah muhdats dalam ajaran martabat tujuh yang berarti baru. Lawan kata muhdats adalah qadim (terdahulu, tiada berawal). Pengertian ini masih kelihatan bekasnya dalam Wirid Hidayat Jati, yakni pada ungakapan: “Mud’ah dzat kawula, wajah adalah Dzat Gusti yang bersifat kekal.” Artinya “Baru dzat kawula,wajah adalah Dzat Gusti yang kadim. Namun sesudah diterangkan bahwa mud’ah  terdiri dari nur, rahsa, roh, nafsu dan budi, kata mud’ah diberi pengertian yang menyimpang dari asal katanya. Mud’ah yang empat kemudian diterangkan satu persatu sebagai berikut:

Pertama, budi yaitu keadaan pranawa, menarik kejelasan kehendak, menjadi pangkal untuk mengatur tutur kata atau pembicaraan.

Kedua, nafsu yaitu keadaan hawa, menarik kejelasan suara, menjadi         pangkal pendengaran.

Ketiga, suksma (roh) yakni keadaan nyawa, menarik kejelasan cipta, menjadi pangkal perasaan.

Keempat, rahsa yakni keadaan atma, menarik kejelasan kuasa menjadi pangkal perasaan.

Mengenai nur, menurut Dr.Simuh mengutip Abdul Karim al-Jili, Al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakir wa al-Awa’il (Mesir: 1956), tidak terdapat penjelasan lebih lanjut.

Demikianlah Gusti Allah adalah Yang Maha Hidup (Sing Urip) yang menghidupkan hamba-hamba dan makhluk-Nya (Sing Gawe Urip), serta yang memberikan bekal, sarana, jalan dan mengatur kehidupan  hamba-hamba-Nya, kepada kita (Sing Nguripi). Keyakinan akan ketiga hal tentang hidup ini harus kita tanamkan secara kuat pada diri kita membentuk sikap dan perilaku yang tawakal (berserah diri sepenuhnya kepada Gusti Allah dalam segala hal) dan tawadhu (rendah hati).

Maka manusia hidup harus rendah hati, jangan sombong, jangan angkuh dan jangan takabur, karena hidup dan kehidupan atau jalan hidup kita itu sangat tergantung pada Yang Maha Hidup. Kita sungguh tidak tahu kapan dan bagaimana Yang Maha Hidup akan menghentikan hidup kita.

Dengan mengutip ajaran Kanjeng Nabi Muhammad dan gurunya, Al-Ghazali menyimpulkan bahwa kehidupan kita ini sesungguhnya hanya terdiri dari tiga tarikan nafas saja. Satu tarikan telah lewat membawa amal perbuatan yang dikerjakan tatkala menarik nafas itu. Satu nafas sedang dijalankan, dan satu nafas lagi belum tahu apakah kita bisa melakukan karena kemungkinan datangnya ajal saat sedang bernafas yang kedua tadi. Jika demikian halnya maka secara hakikat, sesungguhnya hanya satu tarikan nafas saja yang kita miliki, bukan jam, bukan hari. Umur kita secara hakikat hanyalah satu tarikan nafas.

Betapa luar biasa kekuasaan Dzat Allah tersebut, sehingga dalam banyak doa dan sabdanya, Kanjeng Nabi Muhammad sering mengawali dengan kalimat antara lain: “ Demi Dzat yang jiwaku senantiasa dalam genggaman-Nya”, atau “Demi Dzat yang membolak-balikkan hati”, atau “Demi Dzat yang Maha Pengasih” dan lain-lain. Semuanya menggambarkan betapa seluruh nasib, kehidupan dan jiwa raga kita senantiasa di dalam genggaman kekuasan Gusti Allah.

Oleh sebab itu maka kita harus senantiasa berserah diri sekaligus bergantung kepada Yang Menghidupkan dan Menghidupi kita, dengan usaha atau ikhtiar yang sesuai dengan aturan-aturan dari Yang Maha Hidup, senantiasa berdoa memohon perkenan, perlindungan dan pertolongan-Nya, serta menggalang rahsa dengan meniatkannya demi bekal ibadah dan amal saleh. Yang Maha Hidup dengan kuasa dan kehendak-Nya akan menghidupi serta mengatur kehidupan kita.

Dalam rangka itu kita diijinkan membulatkan cipta dan karsa kita, mengungkapkan cita-cita dan keinginan kepada-Nya. Sesudah itu selanjutnya, berserah diri akan kuasa dan kehendak-Nya. Allahlah yang dengan kuasa-Nya, akan mengatur cara, waktu, di mana dan bagaimana mengabulkan permohonan kita. Kewajiban kita adalah neneguhkan keyakinan dan percaya penuh pada kuasa-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al Baqarah:186 : “ Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang diri-Ku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku selalu memperkenankan permohonan orang yang memohon kepada-Ku”, yang kemudian dipertegas lagi dengan hadis qudsi: “Aku menuruti keyakinan  hamba-Ku terhadap diri-Ku, dan Aku selalu bersama ia jika mengingat-Ku.” (HR.Muslim dan Ahmad).

Demi menggalang penghayatan yang seperti itu, orang-orang Jawa Islam tempo dulu dianjurkan untuk membiasakan pada setiap saat dalam berbagai keadaan dan di mana pun berada, berdzikir menyebut setidaknya dua asma Allah yakni Ya Kayu – Ya Kayumu, yaitu tepatnyaYaa Hayyu Yaa Qayyuum  (Yang Mahahidup – Yang Mahaberdiri Dengan Sendiri-Nya), dengan segenap pemahaman, keyakinan dan penghayatan sebagaimana uraian di atas. Yakinilah, “wolo-wolo kuwoto”,  yang berasal dari kalimat  “la haula wa laa quwwata illa billah, hasbunallah wa nikmal wakil.”  Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Cukuplah Allah yang menjadi penolong kami. Inilah maqam mulia yang diidamkan para salik, yang bersuluk mengenal Gusti Allah dengan sebenar-benarnya mengenal. Allahumma amin. (Wirid Hidayat Jati : 6 dari 14, dalam Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat