Tafsir

Yang Benci dan Yang Cinta (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Zaman berubah, konteks-konteks berubah. Juga sebagian watak. Untuk itu kita  diharapkan untuk selalu bisa memahami ayat tanpa melupakan hubungan dengan kenyataan-kenyataan akatual. Dan degan itu akan tampak jelas bahwa banyak dari yang kita hadapi, yang kita kira problem agama, sebenarnya bukan problem akidah.

Dalam karya Suyuthi yang lain, Lubabun Nuqul, penuturan di atas (riwayat Ibn Abi Hatim dari Sa’id ibn Jubair r.a., yang menyebut jumlah perutusan 30 orang – “terdiri dari para sahabat Negus pilihan”) hanya satu dari empat riwayat yang bicara tentang sababun nuzul ayat ini. Tetapi tiga yang lain menunjuk sebuah peristiwa berbeda: keislaman yang sudah terjadi di Ethiopia sendiri, dan malahan menyangkut sang Negus. Salah satunya, dalam versi yang juga diriwayatkan Ibn Abi Hatim (dari Sa’id ibn Al-Musaiyib, Abu Bakr ibn Abdir Rahman, dan Urwah ibn Az-Zubair, r.a.), menuturkan peristiwa di sekitar surat Rasulullah kepada Negus.

Negus membaca surat itu. Selesai, ia menyuruh panggil Ja’far ibn Abi Thalib, sepupu Nabi dan saudara Ali yang turut berhijrah. Diperintahkannya juga mendatangkan para qissis dan rahib-rahib. Lalu dimintanya Ja’far memperagakan AlQuran. Ja’far membacakan surah Maryam tentang Zakaria, Yahya, kesucian Maria, kelahiran Yesus, dan seterusnya), dan mendengar itu orang-orang menangis. Mereka menyatakan beriman kepada AlQuran. Sementara itu riwayat yang dibawakan Nasa’I hanya membawakan kata-kata Abdillah ibn Az- Zubair r.a.: “Ayat ini turun mengenai Negus dan para sahabatnya: “Apabila mereka mendengar yang diturunkan kepada engkau, kau lihat air mata mereka meleleh lantaran kebenaran yang mereka tahu. Mereka berkata “Tuhan kami, kami beriman. Karena itu tuliskanlah kami bersama para saksi””.

Riwayat tersebut sama isinya dengan riwayat Thabrani, meskipun yang terakhir ini lebih luas: dua-duanya megenai ayat Q. 5:83, kelanjutan ayat di atas. (As-Suyuthi, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, dalam Jalalain, op.cit:112n-113n). Dan dalam rangkaian empat ayat, dua ayat berikutnya (5:84-85) adalah ini: “Mengapakah kami tidak akan beriman, kepada Allah dan kebenaran yang datang kepada Allah dan kebenaran yang datang kami, sedangkan kami demikian rindu tuhan kami beserta kaum yang salih? Maka Allah pun mengganjar mereka, oleh sebab yang mereka ucapkan, surga-surga yang mengalir di bawahnya bengawan-bengawan. Dan demikianlah balasan orang-orang budiman.”

Kalau memang demikian, kalau memang terdapat kasus (atau dua kasus, di Ethiopia dan Madinah) masuknya para Nasrani dari Afrika Timur itu ke dalam Islam, maka bukan tidak layak pula, kiranya, sebagai penafsiran alternatif, ayat-ayat ini dipahami sebagai tidak bicara tentang umumnya umat Nasrani, dengan sifat-sifat yang berlaku menyeluruh dan abadi, melainkan khusus menyangkut golongan Kristen yang dituturkan atau yang seperti yang dituturkan itu. Tetapi kita pahami pula mengapa sebagian mufasir yang kita kutipkan di atas kelihatan bergerak ragu — antara sifat umum dan sifat kasuistis khususnya ayat pertama. Kazuruni, misalnya, menyebut kaum Nasrani Najran, daerah Yaman, “tidaklah berkata, “Tuhan kami, kami beriman”, dan tidak masuk dalam golongan kaum mukmin.” (Kazuruni, op.cit.:164n-165n)

Hanya saja, karena perbandingannya adalah kaum Yahudi, maka umat Nasrani, berdasarkan sifat-sifat baik yang dituturkan ada pada kaum yang kemudian ternyata masuk Islam itu, ditetapkan sebagai kelompok yang, katakanlah, “potensial positif”. Dan sebaliknya umat Yahudi. Hanya saja idetifikasi Nasrani seperti yang juga dimuatkan sebagai mufasir di atas tergolong goyah: pujian kepada mereka semata-mata berdasarkan kenyataan bahwa agama mereka resminya melarang menyakiti orang. Para mufasir itu memang tidak megalami zaman ketika negara – politik –berada terpisah dari agama, dan diamnya agama dari permasalahan seperti perang justru menyebabkan perang dilakukan dengan kebrutalan yang demikian dikenal di negeri-negeri jajahan. Dengan ini kita memang tidak bicara tentang agama Kristen, tetapi tentang Eropa  — yang orang-orang Kristen.

Zaman berubah, konteks-konteks berubah. Juga sebagian watak. Adalah hikmah dan anugerah Allah yang agung yang senantiasa diharapkan dalam setiap kebutuhan kita untuk selalu bisa memahami ayat tanpa melupakan hubungan dengan kenyataan-kenyataan akatual, dan degan itu melihat dengan jelas bahwa banyak dari yang kita hadapi, yang kita kira problem agama, sebenarnya bukan problem akidah.

Melainkan yang terpenting, khusus bicara tentang hubungan dengan Yahudi sebagaimana yang diangan-angankan Gus Dur, adalah bagaimana mempertimbangkan penilaian kita tentang kepantasan dan kezaliman (dalam hal Palestina). Dan baru dalam hal kezaliman itu masalahnya menjadi masalah agama. Itu lepas dari apakah ribut-ribut tentang hubungan dengan Israel itu bukan hanya taktik Presiden yang memilih kebijaksanaan untuk demi penyelamatan ekonomi kita, mencoba membuka pintu hatu negara-negara Barat. Wallahul Muaffiq.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panji Masyarakat, 8 Desember 1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • hamka