Mutiara

Mentor Aktivis dan Pelopor Dialog Antar-umat Beragama

Written by A.Suryana Sudrajat

Dialog antarumat beragama diarahkan untuk mencapai saling pengertian tanpa ada satu pihak yang mendominasi pihak lainnya.

Profesor Haji Abdul Mukti Ali atau H.A. Mukti Ali adalah Menteri Agama ke-11 Republik Indonesia. Ia menggantikan K.H. Muhammad Dahlan dari NU, sekaligus memulai tradisi baru pada zaman Orde Baru bahwa menteri agama bukan jatah “NU”. Latar belakang Mukti Ali memang akademisi. Ketika menjabat Menteri Agama adalah mensponsori berdirinya Majelis Ulama indonesia (MUI) pada 1975.
Semasa menjabat Menteri Agama, Abdul Mukti banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan berani dan sangat kontributif bagi perkembangan kehidupan umat Islam di Indonesia, karena pada saat itu pemerintah mengumandangkan seruan bahwa modernisasi merupakan jalan terbaik bagi penyelesaian berbagai problematika yang dihadapi Indonesia, sementara beberapa tokoh penting muslim lainnya menolak seruan tersebut.

Mukti Ali terlahir dengan Boedjono pada 1923 di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Ia menempuh pendidikan di sekolah dasar Belanda (HIS) dan madrasah diniyah. Setelah itu ia belajar di Pesantren Tremas, Pacitan. Ia juga pernah nyantri di beberapa pesantren lain seperti Tebuireng, Rembang, Lasem dan Padangan walaupun hanya beberapa bulan.

Boedjono berganti nama menjadi Abdul Mukti setelah belajar di Pesantren Tremas. Nama ini pemberian K.H. Abdul Hamid Dimyati, guru sekaligus orangtua angkat. Menurut Kiai Dimyati, nama tersebut lebih islami dan merupakan nama asli sang kiai sebelum menunaikan ibadah haji. Sedangkan Ali adalah usulan dari orangtuanya agar dapat merepresentasikan nama keluarga.

Abdul Mukti aktif berorganisasi dan dipandang sebagai pemuda yang pintar dalam mengorganisir langkah-langkah politik. Ia juga gencar menyebarkan semangat nasionalisme, menyikapi masuknya Jepang ke Indonesia, terlibat dalam terbentuknya Hisbullah dan sebagainya. Abdul Mukti kemudian bergabung dalam sebuah gerakan melawan penjajah yang mengakomodir para santri, pelajar, pegawai dan guru-guru agama di sekitar Tremas.Setelah menamatkan pendidikan di Pesantren Tremas, Abdul Mukti terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Blora, mewakili Masyumi.
Pendidikan tinggi Mukti Ali antara lain ditempuh di Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada. Dari sini ia memperoleh pemahaman tentang keislaman yang luas dan komprehenesif. Karena, kajian Islam diajarkan dengan pendekatan sistematis, rasional, dan holistik, sehingga kajian Islam lebih dapat menjawab persoalan-persoalan masyarakat modern. Perubahan cara berpikirnya juga dipengaruhi oleh pola pikir Prof. Wilfred Cantwell Smith, seorang ahli Islam Amerika yang sangat ia kagumi. Hal itulah yang kemudian mengantarkannya dalam memunculkan sebuah pemikirian dialog antarumat beragama.

Menurut Mukti Ali, dialog antarumat beragama bukan hanya saling memberi informasi mengenai agama yang dianut. Tetapi lebih kepada sikap mental, seperti menghargai orang lain, mau mendengarkan pendapat orang lain, jujur, terbuka, dan bersedia untuk bekerjasama dengan orang lain. Sikap seperti itu terdapat pada peserta dialog yang memiliki kesadaran moral ontonom dan menganut nilai-nilai universal. Dialog antarumat beragama yang didasari pada tindakan komunikatif ini diarahkan untuk mencapai pemahaman dan pengertian timbal-balik, tanpa adanya dominasi dari satu pihak kepada pihak lainnya.

Usai menempuh pndidikan di Kanada, Mukti Ali memilih menjadi pengajar Ilmu Perbandingan Agama di IAIN (UIN) Sunan Kalijaga yang pada saat itu masih dianggap baru. Di sini pula ia menjabat sebagai Pembantu Rektor III bidang urusan publik pada 1964. Pada 1968, ia kembali dipercaya untuk menjabat sebagai Pembantu Rektor I bidang akademik. Di luar itu ia menyediakan dirinya menjadi mentor sejumlah aktivis HMI yang membentuk kelompok diskusi bernama Limited Group yan antara lain beranggotakan Ahmad Wahib, Djohan Effendi, M. Dawam Rahardjo, yang kemudian menjadi motor gerakan pembaruan pemikiran Islam bersama Nurcholish Madjid.

Tahun 1971 H.A. Mukti Ali diangkat menjadi menteri agama, sebelum dikukuhkan sebagai guru besar Ilmu Agama di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Dipilihnya Mukti Ali untuk memimpin Departeman Agama, yang pada waktu itu baru beralih dari Orde Lama menuju kekuasaan Orde Baru, tidak terlepas dari keahliannya dalam ilmu agama, ketokohannya sebagai intelektual muslim dan perhatiannya terhadap dialog antar agama. Di samping itu, politik Orde Baru ingin mengakhiri dinasti NU di Departemen Agama selama masa pemerintahan Orde Lama. Duduknya Mukti Ali sebagai Menteri, memecahkan kebekuan struktural pada Departemen Agama yang sebelumnya didominasi oleh NU.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri, ia memilih menetap di Yogyakarta sekalipun menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Mukti Ali merupakan sosok pribadi yang memegang teguh prinsip kejujuran dan kesederhanaan. Kesederhanaan terlihat dalam kehidupan pribadi dan keluarganya, baik ketika menjadi menteri maupun setelah secara total kembali ke dunia akademis. Jiwanya terpanggil untuk selalu mendialektikakan keilmuannya dengan kembali mengajar di IAIN (UIN) Sunan Kalijaga.
Mukti Ali dikenal penulis produktif. Di antara karya-karya tulisnya adalah Pengantar Ilmu Perbandingan Agama (1959), Beberapa Persoalan Agama Dewasa ini (1970), Alam Pikiran Modern di Indonesia (1971), Agama dan Pembangunan di Indonesia (1972), Dialog Antar Agama (1981), Perbandingan Agama di Indonesia (1988), Ijtihad dalam Pandangan M. Abduh, Ahmad Dahlan dan Iqbal (1990), Pemikiran Keagamaan di Dunia Islam (1990), Metode Memahami Mengenal Agama Islam (1991), Alam Pemikiran Islam Modern di Indonesia dan Pakistan(1993), Muslim Bilali dan Muhajir di Amerika (1993), Islam dan Sekularisme di Turki Modern (1994).
Prof. H.A. Mukti Ali wafat pada 5 Mei 2004 di Yogyakarta.****

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda