Tafsir

Yang Benci dan Yang Cinta (Bagian 2)

Written by Panji Masyarakat

Ada ulama yang mengemukakan bahwa  Yahudi, kepada siapa pun yang menyelisihi mereka dalam hal agama akan mengenakan tindak kejahatan dengan segala cara: pembunuhan, penjarahan, atau dalam segala bentuk tipuan dan tidak khianat alias teror.

Betapapun, di sisi Nasrani, semua itu menunjukkan bahwa mereka yang disebut itu bukan sekadar orang-orang yang mengaku Nasrani. Sebaliknya, merekalah “Nasrani yang tulus itu”, yang dari segi interaksinya dengan kalangan Islam “menghargai kebaikan-kebaikan seorang muslim,” kata Abdullah Yousuf Ali. Mereka seakan ingin berkata, “Benar kami orang-orang Kristen, tetapi kami mengerti sudut pandang Saudara-saudara, dan kami tahu Saudara-saudara orang-orang yang baik”. Karena itu, bagi Yousuf Ali, “Mereka itu Muslim dalam hati, apa pun merek mereka.” (Yousuf Ali, loc.cit). Semuanyakah atau sebagian?

Sebagian”, jawab Kazuruni. “Sebab Nasrani yang lain juga memperlihatkan sikap permusuhan kepada kaum muslimin, seperti dikatakan Ibn Abbas r.a. “Hanya saja, dalam perbandingan dengan Yahudi, ada juga ulama yang mengemukakan sifat jelek yang sebuah ini:  Yahudi, kepada siapa pun yang menyelisihi mereka dalam hal agama (layaknya: dalam hal keyahudian, yang menyangkut ras, bangsa, dan agama;), akan mengenakan tindak kejahatan dengan segala cara: pembunuhan, penjarahan, atau dalam segala bentuk tipuan dan tidak khianat (alias terror, pen).

Sementara itu cara orang Kristen tidak seperti itu. Bahkan menyakiti orang diharamkan dalam agama mereka. Inilah wajah perbedaan dalam perbandingan antara kedua kelompok— kebencian lawan kecintaan, seperti dinyatakan An-Naisaburi. Atas dasar ini, menjadi mungkin membawa pernyataan ayat di atas ke dataran yang umum. “Dan bila demikian, kita berkata,” kata Kazuruni,” para qissis dan rahib-rahib itu berada di depan, sementara sisanya mengikuti mereka dalam hal kecenderungan kasih sayang.” (Kazuruni, loc.cit).

Luar biasa. Yang menarik ialah ini: semua mufasir yang dikutip di atas seakan tidak mengingat kelanjutan ayat ini ketika mereka menetapkan sifat-sifat Yahudi yang demikian ingkar dan, paling tidak, sifat-sifat Nasrani yang begitu simpatik, sebagai berlaku umum dan seakan-akan permanen. Lebih menarik lagi kalau mereka menetapkannya begitu sambil menyadari penuh bahwa ayat ini hanya bagian pertama dari empat ayat yang jelas-jelas berhubungan dengan kasus-tertentu. Jalalain sendiri, misalnya seperti yang lain-lain, menyakini bahwa ayat di atas (dan tiga ayat sesudahnya) diturunkan sehubungan dengan perutusan Najasyi (Negus, sebutan raja Habsyi) yang berkunjung ke Madinah.

Itu terjadi setelah Nabi s.a.w. dan rombongan besar dari Makkah berhijrah ke Madinah, sedangkan rombongan muhajirin yang ke Habsyi sudah pulang ke tanah Arab dan bergabung dengan beliau. Waktu itu Rasulullah, di hadapan tamu-tamu beliau, membacakan surah Yasin. Mereka menangis dan mengikrarkan keislaman. Mereka bilang, “Alangkah persisnya ini dengan yang dulu diturunkan kepada Isa.” (Sayuthi & Mahali).

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panji Masyarakat, 8 Desember 1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768