Tasawuf

Wirid Hidayat Jati : Keutamaan Memahami Dzat Allah

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Gusti Allah adalah Yang Maha Hidup (Sing Urip) yang menghidupkan hamba-hamba dan makhluk-Nya (Sing Gawe Urip), serta yang memberikan bekal, sarana, jalan dan mengatur kehidupan  hamba-hamba-Nya, kepada kita (Sing Nguripi).

Wejangan 2 (dari Sunan Tandhes): Wahananing Dat

“Wejangan punika dipun wastani Wedharan Wahananing Dat, awit dene pamejanganipun amarah urut-urutan  dumadining Dat, sipat, wahananipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping kalih, nukilan saking sarahing kitab Dakaikalkaik. Amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah. Karaos ing dalem rahsa makaten jarwinipun:

Sajatine Ingsun dat Kang Amurba Amisesa kang kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi padha sanalika, sampurna saka ing kodrat Ingsun. Ing kono wus kanyatan pratandhaning apngal-Ingsun kang minangka bebukaning iradat-Ingsun.  Kang dhingin Ingsun anitahaken kayu aran Sajaratulyakin tumuwuh ing sajroning alam ngadam-makdum ajali abadi. Nuli cahya aran Nur Muhammad, nuli kaca aran Mirhatul-kayai, nuli nyawa aran Roh Ilapi, nuli damar aran Kandil, nuli sesotya aran darah, nuli dhindhing jalal aran kijab. Iku kang minangka warananing kalarat-Ingsun.’ ”

Artinya:

Ajaran ke 2: Tentang Wahana atau Sarana Dzat

“Wejangan ini dinamakan Uraian Wahana Dat, karena menjabarkan urut-urutan terjadi Dat, sifat dan wahananya seperti yang disebut dalam dalil-dalil ilmu yang kedua, kutipan dari kitab Dakaikalkaik, menjelaskan wahyu Tuhan Yang Mahasuci kepada Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, yang bisa dirasakan di dalam rahsa (bisa berarti inti nurani dan bisa juga berarti rahasia), sebagaimana berikut:

‘Sesungguhnya Aku Dzat Yang Makakuasa, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu, jadi seketika, sempurna atas kodrat-Ku. Di situ menunjukkan pertanda perbuatan-Ku, yang merupakan pembuka iradat-Ku. Yang pertama Aku ciptakan pohon Sajaratulyakin (pohon kepercayaan atau keyakinan), tumbuh di dalam alam keabadian (atau kelanggengan). Kemudian cahaya bernama Nur Muhammad (cahaya yang terpuji). Selanjutnya kaca Mirhatul-hayai ( kaca untuk bercermin supaya punya rasa malu). Kemudian pelita bernama Kandil (cahaya dalam cahaya :An-Nur/24:35). Kemudian permata bernama Darah. Kemudian dinding agung bernama hijab, yang merupakan  dinding kehadirat-Ku.’ ”

Dalam praktek belajar, murid atau salik atau seseorang yang sedang belajar tasawuf, dianjurkan untuk mempelajari Wejangan kedua yang tiada lain adalah Martabat Tujuh ini dengan bimbingan guru, agar tidak terjebak dan berkutat pada uraian-uraian tentang kodrat dan iradat Allah seperti halnya pohon sajaratulyakin sampai dengan darah dan dinding hijab, melainkan cukup dipahami seperlunya.

Adapun yang harus kita hayati dari pemahaman wejangan ini ialah Gusti Allah yang Mahakuasa menciptakan dan menjadikan sesuatu, terutama menghidupkan kita.

Wejangan 3 (dari Sunan Majagung): Gelaran Kahananing Dat.

“Wejangan punika dipun wastani gelaran kahananing Dat, awit dening pemejanganipun ambabar ingkang dados kanyataan anasiring dat sipat, inggih punika nalika Pangeran Kang Mahasuci karsa amujudaken sipatipun. Gumelar kahananipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping tiga, nukilan saking kitab Bayan Humirat mupakat kaliyan kitab Bayan Alip, kitab Madinil Asror, kitab Madinil Malum, inggih punika bangsanipun  kitab tasawup sadaya. Sami amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Mahasuci dhateng Kanjeng Nabi Rasulullah karaos ing dalem rahsa. Makaten jarwanipun:

‘Sajatining manungsa iku rahsaningsun, lan Ingsun iki rahsaning manungsa. Karana Ingsun anitahaken Adam, asal saka anasir patang prakara: (1) bumi, (2) geni, (3) angin, (4) banyu. Iku kang dadi kawujudaning Sipatingsun. Ing kono Ingsun panjingi mud’ah limang prakara: (1) nur, (2) rahsa, (3) roh, (4) napsu, (5) budi. Iya iku minangka warananing wajah-Ingsun Kang Mahasuci.’ “

Artinya:

Ajaran ke 3 : Uraian Keadaan Dzat

Wejangan ini dinamakan gelar (uraian)  keadaan Dzat, karena menjabarkan unsur-unsur sifat, yakni tatkala Allah Yang Mahasuci hendak mewujudkan sifatnya. Uraian keadaan Dzat tersebut ada di dalam dalil ilmu yang ketiga, kutipan dari kitab Bayan Humirat sejalan dengan kitab Madinil Asror dan kitab Madinil Malum, yaitu jenis-jenis kitab tasawuf. Semuanya menjelaskan wahyu Tuhan Yang Mahasuci kepada Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah yang terasa di dalam rahsa. Begini uraiannya:

‘Sesungguhnya manusia itu adalah rahasia-Ku. Dan Aku ini rahasia manusia. Sebab aku menciptakan Adam yang berasal dari empat unsur: (1) bumi (atau tanah), (2) api, (3) angin, (4) air. Itu adalah perwujudan dari sifat-sifat-Ku. Di situ  Aku memasukkan lima unsur rohani : (1) nur, (2) rahsa, (3) roh, (4) nafsu, (5) budi. Itu semua merupakan dinding Wajah-Ku Yang Mahasuci.’ “

Seperti halnya Wejangan ke 2, Wejangan ke 3 ini juga harus dipahami dan dihayati dengan bimbingan seorang mursyid, seorang guru yang sepadan. Namun secara garis besar kita bisa memahami, pertama, rahasia hubungan timbal balik antara Gusti Allah dan manusia khususnya diri seseorang dan lebih khusus lagi diri kita. Kedua, Gusti Allah sangat berkuasa menciptakan manusia yang berasal dari empat unsur dengan sifat-sifat dasar tanah, api, angin dan air. Ketiga, Gusti Allah memasukkan sehingga menyatu pada diri manusia lima unsur rohani yang merupakan intisari penggerak kehidupan yakni nur, rahsa, roh, nafsu dan budi. 

(Wirid Hidayat Jati : 5 dari 14, dalam Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”)

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda