Mutiara

Habib Tulen, Pencinta Kitab dan Majelis Ilmu

Written by A.Suryana Sudrajat

Habib Salim bin Jindan selalu menekankan  pentingnya menjaga akhlak keluarga. Kewajiban kaum muslimin, khususnya orangtua, adalah  untuk menasihati keluarga mereka, menjaga dan mendidik mereka, menjauhkan mereka dari orang-orang yang bisa merusak akhlak.

Habib Salim bin Jindan adalah ulama dan pencinta kitab. Ia punya koleksi sekitar 15.000 kitab, termasuk kitab yang langka. Selain itu, ia sendiri menulis sekitar 100 kitab, antara lain tentang hadis dan tarikh, termasuk yang belum dicetak. Ia pendiri Perpustakaan Al-Fakhriah dan pendiri Majelis Taklim Qashar Al-Wafiddin di Jalan . Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur.

Salim lahir di Surabaya pada 18 Rajab 1324/7 September 1906. Ia belajar agama kepada ayahnya  kemudian bersekolah di Madrasah Al-Khairiyyah, Surabaya sebelum melanjutkan ke Makkah, Tarim, dan Timur Tengah. Menginjak usia remaja, ia memperdalam agama kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Habib Empang, Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar (Bondowoso), Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya), Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), K.H. Cholil bin Abdul Muthalib (Syaikhona  Cholil Bangkalan), dan Habib Alwi bin Abdullah Syahab di Tarim, Hadramaut. Selain itu ia juga berguru kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, seorang ahli hadis dan fikih, yang sat itu juga memimpin Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya.

Habib Salim rajin menghadiri beberapa majelis taklim yang digelar oleh para ulama besar. Kalau dihitung, sudah ratusan ulama besar yang ia kunjungi majelis taklimnya. Dari berbagai pengalaman belajar itu,   akhirnya Habib Salim bin Jidan mampu menguasai berbagai ilmu keislaman, terutama hadis, tarikh dan nasab atau silsilah. Ia juga hapal sejumlah kitab hadis. Berkat penguasaannya terhadap ilmu hadis itu ia mendapat gelari muhaddits, dan karena menguasai ilmu sanad  (mata rantai periwayat hadis) maka ia digelari sebagai musnid.

Habib Salim pernah berkata, “Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Dan sesungguhnya majelis mereka menyerupai majelis para sahabat Rasulullah s.a.w. di mana terdapat kekhusyukan, ketenangan, dan kharisma.” Adapun guru yang paling berkesan di hatinya ialah Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad dan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, hingga Habib Salim pernah berkata, “Cukuplah bagi kami mereka itu sebagai panutan dan suri tauladan.”

Pada 1940 Habib Salim bin Jidan hijrah ke Jakarta. Di masa perjuangan menjelang kemerdekaan, Habib Salim bin Jidan ikut serta membakar semangat para pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Ia termasuk yang dicari-cari oleh Belanda karena ikut memprovokasi umat Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan. Oleh sebab itu, ia pernah ditangkap, baik di masa Belanda maupun masa penjajahan Jepang seperti pada masa Clash l pada 1947 dan Clash II tahun 1948.

Setelah Indonesia merdeka, ia aktif berdakwah dan mengajar, baik di Jakarta, di daerah, maupun di luar negeri seperti di Singapura, Malaysia, Kamboja dan lain-lain. Di masa itu Habib Salim juga dikenal sebagai ulama yang ahli dalam menjawab berbagai persoalan yang kadang-kadang menjebak. Habib Salim bin Jidan sosok ahli bicara, dan pendebat ulung.

Habib Salim wafat di Jakarta pada 1 Juni 1969 di Jakarta. Setelah meninggal, dakwah Habib Salim diteruskan oleh keturunannya. Mereka, misalnya, membuka majelis taklim dan menggelar Maulid (termasuk haul Habib Salim) di rumah peninggalan Habib Salim di Jalan Otto Iskandar Dinata. Belakangan, nama perpustakaan Habib Salim, yaitu Al-Fakhriah, diresmikan sebagai nama pondok pesantren yang didirikan oleh Habib Novel bin Salim di Ciledug, Tangerang. Kini pesantren tersebut diasuh oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim dan Habib Ahmad bin Novel bin Salim, dua putra almarhum Habib Novel.

Habib Salim bin Jindan selalu mengingatkan keturunan dan para jamaahnya. Yakni mengenai pentingnya menjaga akhlak keluarga. Kewajiban kaum muslimin, khususnya orangtua, menurut  dia, untuk menasihati keluarga mereka, menjaga dan mendidik mereka, menjauhkan mereka dari orang-orang yang bisa merusak akhlak. Sebab, orangtua adalah wasilah alias perantara dalam menuntun anak-anak. Nasihat seorang ayah dan ibu, kata dia  lebih berpengaruh pada anak-anak dibanding nasihat orang lain.***

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • tabloid-panjimasyarakat