Mutiara

Jejak Ulama Minang di Tanah Celebes

Written by A.Suryana Sudrajat

Datuk Ri Bandang dan saudaranya datang ke Sulawesi Selatan pada akhir  abad ke-16 saat terjadi persaingan antara Islam dan Kristen. Bagaimana cara dakwah murid Sunan Giri ini?

 

Datuk Ri Bandang alias Abdul Khatib Makmur Tunggal adalah ulama Minangkabau yang menyebarkan Islam di  kerajaan-kerajaan di wilayah Timur Nusantara. Yakni Kerajaan Luwu, Kerajaan Gowa, Kerajaan Tallo, Kerajaan Gantarang di Sulawesi, Kerajaan Kutai di Kalimantan dan Kerajaan Bima di Nusa Tenggara. Dia  hijrah bersama dua orang saudaranya yaitu Datuk Patimang  alias Datuk Sulaiman yang  gelar Khatib Sulung, dan Datuk Ri Tiro alias Nurdin Ariyani yang begelar  Khatib Bungsu, serta seorang temannya yaitu Tuang Tunggang Parangan.

Datuk Ri Bandang pernah belajar pada Sunan Giri di Gresik,  Jawa Timur. Sunan-lah yang memintanya untuk menyebarkan Islam di wilayah timur itu. Ia dan kedua saudaranya   melaksanakan syiar Islam sejak kedatangannya pada penghujung abad ke-16 hingga akhir hayatnya ke kerajaan-kerajaan di Timur Nusantara pada masa itu.

Ketika tiba di Makassar, Datuk  Ri Bandang dan saudaranya tidak langsung melaksanakan misinya tetapi mereka menyusun langkah-langkah serta strategi dakwah lebih dahulu. Mereka menanyakan kepada orang-orang Melayu yang sudah lama bermukim di Makassar tentang raja yang paling dihormati di Sulawesi Selatan. Setelah mendapat penjelasan dari komunitas Melayu di Makassar, mereka tidak langsung terjun untuk berdakwah dan memaksakan rakyat untuk memeluk agama Islam. Mereka berangkat ke Luwu untuk bertemu Datuk Luwu, La Patiware Daeng Parabu. Datuk Luwu adalah raja yang paling dihormati karena kerajaannya dianggap sebagai kerajaan tertua dan tempat asal nenek moyang raja-raja Sulawesi Selatan. Sebagai raja yang paling dihormati di Sulawesi Selatan, Datuk Luwu memberi saran kepada ketiga Datuk ini agar menemui Raja Gowa, karena dialah yang memiliki kekuatan militer dan politik di kawasan ini. Dengan pengislaman dua kerajaan besar ini maka tidak ada alasan untuk menolak Islam bagi rakyatnya.

Setidaknya ada dua alasan Datuk Ri Bandang dan kedua saudaranya datang ke Sulawesi Selatan. Pertama karena masyarakat di wilayah itu masih menganut animisme. Raja Tallo dan Gowa adalah raja yang kali pertama menganut agama Islam di kerajaannya. Kedua,  adanya persaingan antara Kristen dan Islam yang semakin sengit di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-16 yang disebabkan oleh Raja Makassar yang tidak dapat memilih antara dua agama ini, sehingga mereka meminta Abdul Makmur (Datuk Ri Bandang) datang melawat ke Makassar bersama dua orang saudaranya. Kemudian tersebarlah Islam di seluruh Sulawesi Selatan atas jasa mereka.

Dalam berdakwah Datuk Ri Bandang tidak langsung mengubah struktur budaya masyarakat, bahkan beliau meniti di atas tradisi masyarakat yang diwarisi dari leluhurnya. Dengan pendekatan tersebut Islam dapat diterima secara damai meski tradisi pra-Islam yang dianut sebelumnya oleh masyarakat masih ada yang dilanjutkan sampai sekarang.

Pada 1607, Mangkubumi Tallo, I Mallingkang Daeng Manyonri Karaeng Katangka, memeluk Islam. Disusul kemudian oleh Raja Gowa XIV I Mangngarangi Daeng Manrabia, yang kemudian bergelar Sultan Alauddin. Begitu besar pengaruh Datuk Ri Bandang dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan, sehingga Raja Tallo XV Malingkaan Daeng Manyonri bersedia memeluk Islam setelah mendengar penjelasan beliau yang jelas dan menawan tentang Islam. Dia merupakan orang pertama di Sulawesi Selatan yang memeluk Islam melalui pengaruh Datuk Ri bandang. Oleh karena itu pula Kerajaan Tallo sering disebut-sebut sebagai pintu pertama Islam di daerah ini. Sejak saat itu pula, Datuk Ri Bandang diberi keleluasaan untuk mengajarkan Islam kepada rakyat Gowa-Tallo.

Dua tahun setelah Raja menerima Islam, pada hari Jumat 9 November 1607, untuk pertama kalinya rakyat Tallo menggelar shalat Jumat sekaligus sebagai deklarasi bahwa Islam telah menjadi agama resmi di Makassar (Gowa-Tallo). Masjid di mana shalat Jumat pertama itu digelar saat ini masih kokoh berdiri. Shalat Jumat itu memiliki arti penting dalam Islamisasi di Sulawesi Selatan, karena setelah itu, Sultan Alauddin mendekritkan di hadapan jamaah bahwa Kerajaan Gowa sebagai kerajaan Islam dan menjadikan kerajaannya sebagai pusat Islamisasi di Sulawesi Selatan. Dekrit itu menandai bahwa tahap Islamisasi telah sampai pada tingkat masyarakat, yaitu keyakinan keagamaan raja sama dengan keyakinan rakyatnya.

Sampai tahun 1611 seluruh kerajaan di Sulawesi Selatan resmi memeluk agama Islam dan semua itu diantaranya adalah berkat usaha dan peran Datuk Ri Bandang, sehingga ada tiga masjid yang terkait dengan keberadaan Datuk Ri Bandang sekaligus menjadi saksi sejarah pengislaman Makassar, yaitu Masjid Tallo di wilayah Kecamatan Tallo, Masjid Makmur Melayu di Jalan Sulawesi, dan Masjid Al Hilal di Jalan Syeh Yusuf, Katangka, Gowa.  

Metode yang dilakukan Datuk ri Bandang dengan terlebih dahulu mengislamkan raja dan kelompok bangsawan adalah cara yang paling tepat. Bagi dunia Melayu, raja berarti kerajaan. Raja adalah segalanya. Oleh karena itu jika raja telah memeluk Islam, maka dengan mudah akan diikuti oleh rakyatnya.

Datuk Ri Bandang memegang peranan penting dalam penyebaran Islam di kalangan bangsawan Gowa. Untuk lebih memudahkan dalam penyebaran agama Islam, didirikan masjid Kalukubodoa yang juga berfungsi sebagai pusat pengajian Islam yang dikunjungi oleh mereka yang berasal dari Gowa dan dari kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar lainnya. Pokok-pokok ajaran yang dikembangkan oleh Datok Ri Bandang adalah ajaran syari’at yang bertumpu pada rukun Islam, rukun iman, tentang hukum-hukum wajib, mubah, haram, sunnah, hukum perkawinan, hukum kewarisan dan upacara hari-hari besar Islam.

Ulama besar ini melakukan syiar Islam di wilayah pantai Barat Sulawesi Selatan hingga akhir hayatnya. Datuk ri Bandang meninggal di Tallo dan di makamkan di Kalukubodoa. Lokasinya di daerah perbukitan pinggir Utara kota Makassar, di Desa Kalukubodoa Kecamatan Tallo, sekitar 2 kilometer dari pusat kota. Tidak diperoleh informasi tahun wafatnya serta keluarganya secara lengkap. Untuk mengenang jasa besar ulama ini, sebuah yayasan pesantren Islam yang menaungi Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menangah Atas (SMA) didirikan di Kecamatan Tallo, Makassar.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024