Tafsir

Tentang Yahudi, Juga Nasrani (Bagian 2)

Written by Panji Masyarakat

Ayat 120 surah Al-Baqarah menjadi perhatian terutama setelah timbul perseteruan  kaum Muslim dengan pihak Nasrani aibat Perang Salib, dan terutama setelah Perang Dunia II dengan berdirinya negara Israel yang menjarah orang Arab Palestina.  

Begitulah peringatan kepada Rasulullah diberikan untuk tidak menuruti keinginan mereka — berdasarkan kenyataan sudah datangnya kepada beliau “ilmu”. Kata ini menunjuk kepada  Alquran, yang sudah diwahyukan kepada beliau. (Burusawi, op.cit., 216-219)). Atau, yang dimaksudkan, sesudah datang kepada Nabi pengetahuan bahwa “agama Allah adalah Islam”. Tapi bisa juga ilmu di sini berarti agama (Islam) itu sendiri, yang diketahui kebenarannya lewat argumen-argumen yang jelas gamblang.

Karena itulah, “Kalau engkau mengikuti mereka juga, akan tidak ada pada kamu dari pihak Allah seorang wali yang akan mengurus kamu maupun penolong yang akan membantu kamu bertahan dari hukuman Allah.” (Qasimi, loc.cit). Disebutnya kedua fungsionaris itu, dan bukan cukup satu, ialah karena wali adalah kerabat. “Wali bisa menjadi tidak mampu, sementara penolong (yang mampu) boleh jadi bukan kerabat.” (Burusawi, op.cit, 219)

Betapapun, “Ancaman keras ini (sanksi kalau-kalau menuruti hawa nafsu Yahudi maupun Nasrani, pen), yang lahirnya ditujukan kepada Nabi, pada hakikatnya ditujukan kepada semua manusia.” Demikian Hasbi Ash Shiddiqy. Alasannya: “Nabi telah dipelihara Allah dari tergelincir pada dosa dan dikukuhkan pula dengan mukjizat. Karena itu, Nabi tak bakal tergoda. Tuhan menggunakan teknik ungkapan (uslub) menyebut Nabi sedangkan yang dimaksud termasuk umat.” (Hasbi, op.cit., 196)

Mungkin. Burusawi juga sudah menyebut hal itu, tiga abad yang lalu, tapi menolaknya — dengan uraian  sedikit abstrak di sekitar taklif (pembebanan kewajiban), tahdzir (pemberian peringatan), dan ishmah alias pemeliharaan para nabi dari dosa (Burusawi,loc.cit). Betapapun bahwa pendapat itu tidak terlalu populer dalam karya-karya tafsir klasik bukan berarti bahwa para mufasir umumnya juga membantah, tapi bahwa umumnya mereka tidak menganggap bagian ayat itu sebagai masalah yang memerlukan keterangan. Perhatian baru menjadi sangat masuk akal oleh perseteruan yang timbul dengan pihak Nasrani akibat Perang Salib (Burusawi muncul lama sesudah itu), tapi terutama sesudah Perang Dunia II, ketika dunia menyaksikan bangunnya negara Yahudi, Israel, dengan sponsor negara-negara Barat, dengan menjarah negeri orang Arab Palestina.

Maka tafsir abad ke-20 seperti karya Saiyid Quthb pun, menafsiri ayat ini meyebut-nyebut zonisme internasional, Kristen internasional, di samping komunisme internasional. “Inilah dia”, demikian Quthb, “hakikat peperangan yang diacungkan Yahudi maupun Nasrani di tiap negeri dan tiap waktu kepada jamaah Islam. Itulah peperangan akidah dengan hakikat dan kemurniannya.”

Hanya saja, kedua kubu yang turun-temurun memusuhi Islam dan umat muslimin itu memberinya bermacam bendera, dalam kebusukan, dalam makar serta khianat. Masalahnya, mereka sudah pernah merasakan gelora umat muslimin dalam membela agama dan akidah mereka ketika mereka hadapi di bawah bendera akidah. Dari situlah musuh-musuh bebuyutan itu memutar, lalu mengubah tanda-tanda pertempuran. Mereka mengumumkan peperangan itu sebagai atas nama wilayah. Atau ekonomi. Atau politik. Atau kekuatan militer.

Padahal bukan. Mereka pun melemparkan ke dalam ketakutan orang-orang yang tertipu dan yang teledor di antara kita bahwa hikayat akidah sudah menjadi hikayat lama yang tidak punya arti. Tidak mungkin lagi mengangkat benderanya dan mencebur ke dalam pertempuran atas namanya….. zionisme internasional, Kristen internasional, dengan tambahan komunisme internasional….. (Saiyid Quthb, Fi Zhilalil Quran, I:108). Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panji Masyarakat, 1 Desember 1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda