Tafsir

Tentang Yahudi, Juga Nasrani

Written by Panji Masyarakat

Tidak akan rida kepada engkau baik Yahudi maupun Nasrani sampai engkau mengikuti agama mereka. katakan, “Hanya petunjuk Allah petunjuk sebenarnya.” Kalau saja engkau ikuti segala keinginan mereka itu, sesudah pengetahuan sampai kepada kamu, tidak ada bagimu dari pihak Allah seorang wali maupun penolong. (Q. 2:120).

Dalam saduran Al-Burusawi, ayat ini (dilihat terjemahan) berarti, “Tidak akan rida kepadamu orang Yahudi kecuali engkau menjadi Yahudi dan bersembahyang menghadap kiblat mereka, yaitu barat, dan tidak pula orang Narani kecuali engkau menjadi Nasrani dan bersembahyang menghadap kiblat mereka yaitu timur.”

Syahdan,  kalimat ayat ini sebenarnya peniruan ucapan kalangan Yahudi dan atau mereka sendiri, yang memang mengatakan begitu. Dengan itu mereka mengklaim agama mereka, dan bukan yang lain, sebagai “petunjuk”. Karena itu Allah lalu memerintahkan beliau mengucapkan seperti tersebut.

Agama dalam “engkau mengikut agama mereka”, diberikan ayat ini dalam bentuk tunggal — sementara yang dimaksudkan tentu saja dua agama, Yahudi dan Nasrani. Mengapa? Karena, “Kekafiran,” menurut Al-Burusawi, “adalah agama yang satu.” Adapun kata yang dipakai untuk menyebut agama, dalam teks asli, adalah millah. Dan bukan din. Keduanya berbeda konotasi.

Disebut millah, karena nabi-nabi yang memunculkannya dahulu sudah meng-imla’ – kannya (dari akar kata yang sama dengan millah), yakni mendiktekannya, dan menuliskannya untuk umat mereka. Dan disebut din (perhitungan, pembalasan, putusan, pengaturan, tingkah laku, kebiasaan; dan jika dibaca dain berarti utang) dengan pertimbangan ketaatan para hamba kepada yang menggariskannya dan ketundukan mereka kepada hukumnya. Tetapi agama juga disebut syari’ah karena memang dialah mata air (syari’ah) bagi semua yang haus kepada segarnya pahala dan karunia-Nya. (Isma’il Haqqi Al-Burusawi, Ruhul Bayan, I:218).

Nah. Mengapa para Yahudi dan Nasrani tidak akan rida “kepada engkau, Muhammad, sampai engkau bersedia mengikut agama mereka”? Karena mereka ingin diikuti secara mutlak (Jamaluddin Al-Qasimi, Mahasimut Ta’wil, II: 241). Kedua kelompok itu “menginginkan supaya mereka tetap menjadi panutan” (Hasbi Ash Shiddiqy, Tafsir Al-Quranul Majid, An-Nur, I:195)

Itu menunjuk kepada lapis-lapis masyarakat Madinah sejak sebelum kedatangan Nabi ke sana. Yakni, Yahudi dan Nasrani (yang sebagiannya bukan penduduk asli), yang memegang kitab dan karenanya lebih terpelajar, berada di depan, sementara orang-orang Arab, yang penyembah berhala maupun yang memegangi sisa-sisa agama Nabi Ibrahim, dan yang kemudian menjadi muslim, praktis berada di belakang. Kedua kelompok itu tidak ingin susunan ini berubah — persis yang terjadi pada kalangan pemuka musyrik Arab di Mekah dalam menghadapi kebangkitan Islam: tidak ingin mereka terjungkal, sementara “golongan rendahan”, para pengikut Muhammad s.a.w. itu, naik ke atas.

Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan “segala keinginan mereka” adalah, seperti dikatakan Qasimi, aneka pendapat mereka yang miring, yang keluar dari mereka berdasarkan tuntutan hawa nafsu mereka. (Qasimi, loc.cit). “Segala keinginan” itu dalam teks asli adalah al-ahwaa’. Ia bentuk jamak. Tunggalnya: al-hawaa (hawa nafsu). Disebut hawaa karena ia, di dunia ini, membawa orangnya ke segala waahiah (sesuatu yang lemah), dan di akhirat ke Haawiah (nama neraka). Tapi mengapa “segala keinginan”, dan tidak cukup “keinginan” saja? Jawabanya: sebagai peringatan bahwa masing-masing kelompok itu, Yahudi dan Nasrani, punya “hawa” yang bukan “hawa” kelompok lain. (Bersambung)

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panji Masyarakat, 22 Desember 1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • hamka