Cakrawala

Perang dan Perang yang Tak Pernah Usai

Written by Panji Masyarakat

Semua agama mencintai perdamaian, dan Islam sendiri berarti kedamaian. Sementara iman adalah rasa aman.

Perang  dan perusakan di muka bumi terus terjadi di pelbagai belahan dunia.  Seperti yang terjadi di Timur Tengah, yang entah kapan berakhir. Di sana perang telah berlangsung berpuluh tahun, dan seruan untuk perdamaian tak henti-hentinya dikumandangkan. Tapi begitulah perang terus berkobar.  Juga di kawasan-kawasan lainnya. Dan hampir setiap saat  kita disuguhi pemberitaan tentang perang dan perng.

Apakah arti semua itu? Sebagai orang yang membaca Kitab Suci Alquran , perang yang seperti tak akan pernah usai itu mengingatkan kita pada informasi yang menyangkut dunia, jauh sebelum makhluk ini diciptakan Tuhan. “Aku akan menciptakan khalifah di dunia,” begitu bunyi frman Allah kepada para malaikat.

Entah apa yang terbetik dalam benak malaikat hingga dengan nada semacam “keberatan”, mereka bertanya: “Apakah Engkau akan menciptakan di sana (bumi, makhluk) yang akan melakukan perusakan dan pertumpahan darah?” (Q. 2:30). “Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui,” jawab Allah. Satu jawaban yang dari celah-celahnya mengandung pembenaran atas dugaaan malaikat. Meskipun demikian, di balik itu, ada pula rahasia yang tidak terjangkau hakikatnya oleh para “pemerotes” tersebut.

Will Durant dan istrinya, Ariel, setelah menyelesaikan bukunya tenang peradaban manusia pada 1968, berhenti sejenak dan bertanya, “Apa arti sejarah dan peradaban?” Sebagai jawabannya ditulislah The Lesson of History. Dalam buku trsebut, mereka antara lain menulis,  “Sejak 3.421 tahun silam, dalam perjalanan sejarah, hanya 286 tahun saja yang berlalu tanpa perang.

Memang, Allah adalah rabbul ‘alamin (pemelihara alam raya) sehingga memberikan sistem yang utuh dalam pemeliharaan-Nya. Salah satu subsistemnya adalah persaingan atau peperangan. Allah menganugerahkan kebebasan bertindak kepada manusia, membiarkan mereka bersaing dan berperang, bagaikan seorang ayah memberikan kebebasan kepada anaknya dalam batas yang tidak merusak.

Bahkan Allah merekayasa melalui sunatulah  (hukum-hukum kemasyarakatan yang ditetapkannya) pembentukan aneka masyarakat dengan kekuatan masing-masing sehingga tercipta semacam keseimbangan. Dengan demikian, tidak satu pihak pun dapat menguasai secara penuh seluruh alam raya ini karena jika demikian akan terjadi kehancuran di bumi. Bukankah tak jarang ambisi manuisa tanpa batas?

Itulah sebabnya sejarah manusia tak pernah luput dari peperangan. Dan itu pula sebabnya sehingga masyarakat manusia tidak pernah mengenal satu adidaya saja. Peradaban manusia silih berganti jatuh dan bangun. Namun, pertanyaan malaikan dan jawaban Sang Pencipta itu masih segar dan tetap segar. Itulah pelajaran sejarah yang diinformasikan Alquran dan dikukhkan setiap saat melalui berbagai pemberitaan.

Kita dapat bertanya dan berusaha menemukan jawaban berkaitan dengan apa yang dirahasiakan Tuhan. Namun, ada sesuatu yang pasti bahwa manusia memperoleh anugerah dari Tuhan yang tidak diperoleh malaikat dalam rangka penugasannya di bumi.

Kalau langit dan bumi sejak diciptakannya telah menjadi arena pertarungan antara yang hak dan yang batil, sehinga menimbulkan perusakan lingkungan dan perumpahan darah, maka manusia dengan memanfaatkan anugerah tersebut diharapkan dapat memihak kebenaran. Sehingga, dengan demikian mereka akan mampu meredam sampai sekecil-kecilnya kobaran api peperangan. Anugerah-Nya yang terbesr adalah agama. Tanpa anugerah ini “Si Miskin akan menyembelih si kaya,” kata Napoleon.

Semua agama mencintai perdamaian, dan Islam sendiri berarti kedamaian. Sementara iman adalah rasa aman. “Seorang muslim adalah yang memelihara orang lain dari gangguan tangan dan lidahnya,” demikian sabda Nabi s.a.w. dalam sebuah hadis . Inilah agama. Namun sayang, yang melupakannya acap kali baru mengingatnya ketika mencari dalih pembenaran atas tindakan pertumpahan darah dan perusakan di bumi.***

Penulis:  M. Quraisy Shihab, ulama-tafsir; pernah menjabat rektor UIN Jakarta, menteri agama, dan dubes RI di Mesir. (Sumber: Panji Masyarakat, 8 Oktober 1999)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda