Tasawuf

Wirid Hidayat Jati : Manunggaling Kawulo-Gusti Versi Sunan Bonang

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Wirid Hidayat Jati :

Manunggaling Kawulo-Gusti Versi Sunan Bonang.

Mengenai versi lain faham Manunggaling Kawulo-Gusti, kitab Al Hikam yang tersohor yang menjadi pegangan sebagian pesantren di Nusantara (karya Al-Imam Ibnu Athaillah Askandary: 1259 – 1310M) mengajarkan, apabila jiwa manusia  suci dari segala kekeruhan yang datang dari alam lahiriah, maka naiklah jiwa tersebut ke alam jabarut, yaitu alam yang dihuni para malaikat.

Dalam keadaan begitu, tidak ada dinding penghalang antara sang jiwa dan Sang Pencipta. Di mata orang yang memiliki jiwa seperti itu, alam raya tampak begitu kecil, bagaikan  sebutir biji sawi. Alam atau jagat raya yang tertangkap oleh pancainderanya menjadi jagat kecil, sedangkan dirinya menjadi  jagat besar. Maka berlangsunglah  apa yang disebut manunggaling kawulo-Gusti, manusia menyatu dengan Tuhannya, dalam arti jiwa manusia mampu mengendalikan segala nafsu dan keinginannya , sehingga menyatu dengan kehendak Allah. Mampu melaksanakan dengan baik tugas-tugasnya  selaku wakil dan utusan Allah di muka bumi.

Pemahaman manunggaling kawulo – Gusti yang seperti itu pula yang diajarkan oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga di Jawa. Orang yang mampu manunggal dengan Sang Pencipta, mengalami apa yang disebut fana fillah. Orang tersebut tidak punya kehendak pribadi karena kehendaknya telah diselaraskan, menyatu dengan kehendak dan sifat-sifat Gusti Allah. Kehendak pribadi dan nafsu pesona dunianya telah dikosongkan, diganti dengan hikmah kehendak dan sifat Allah. Banyak mursyid atau guru tasawuf yang berpendapat, suasana fana fillah,yakni tenggelamnya kesadaran manusia terhisap ke dalam lautan serba Tuhan, adalah puncak mistik para salik, penempuh jalan Tuhan, yang hanya dapat dialami beberapa saat saja.

Sunan Bonang dalam Suluk Gentur atau Suluk Bentur, yang diperjelas dan saling melengkapi dengan karya-karyanya yang lain seperti Gita Suluk Lastri, Suluk Khalifah, Suluk Jebeng dan terutama Suluk Wujil, mentamzilkan suasana penyatuan atau manunggal itu bagai garam jatuh ke laut dan lenyap, tetapi tidak dapat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang dalam kekosongan atau suwung. Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana, tidak lantas tercerap ke dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap adalah kesadaran akan keberadaan wujud jasmaninya (Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Bagian I – 6).

Dengan gambaran di atas, lantas bagaimana kita menyikapi dan mempelajari Wirid Hidayat Jati serta kitab atau serat-serat sejenisnya? Jawabnya adalah dengan penuh rasa syukur, jiwa besar tetapi kritis. Kita bersyukur dan berterimakasih bisa memperoleh anugerah mempelajari ajaran-ajaran ulama dan pujangga besar masa lalu, karena tidak mungkin ada masa sekarang dan masa depan tanpa melalui masa lalu.  Dalam kaitan ini, para penganut tasawuf sering diajarkan untuk mendoakan tokoh yang ilmu serta ajarannya hendak kita tekuni dan hayati, minimal membacakan Al Fatihah. Tetapi sebagaimana nasihat orangtua sekaligus guru kita Puang Kyai Prof. Ali Yafie kepada penulis adalah:  “Apa yang sudah dilakukan oleh para Wali penyebar Islam di Nusantara khususnya di Jawa, sangatlah luar biasa dan tepat pada masanya, sehingga sekarang mayoritas penduduk kita memeluk Islam dan menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Memang jangan berharap sekaligus sempurna. Kewajiban kita dan generasi-generasi mendatang untuk menyempurnakan, menutup lubang-lubang yang ada, memperbaiki kekurangan dan kelemahannya, serta mengemasnya kembali sesuai tuntutan zaman.”

Sementara itu kita pun harus kritis, tidak menelan mentah-mentah semua ajaran orang lain meski berasal dari yang dikenal sebagai ulama. Ini tidak berarti kita tidak menghormati yang bersangkutan, melainkan sebuah sikap kehati-hatian. Kita ambil yang sudah jelas, yang sudah pasti baik dan benar sesuai Al Qur’an dan hadis, dan kita sisihkan dulu yang meragukan apalagi yang tidak sesuai tanpa harus mengecilkan ataupun menyalahkan yang bersangkutan, karena memang tidak ada manusia yang sempurna termasuk diri kita. Yang baik kita ambil dan yang buruk kita buang, yang meragukan kita pendam dulu, dengan penuh rasa syukur dan terimakasih. Di dalam kehidupan, tidak jarang kita memperoleh gagasan yang bagus dan luar biasa hebat, yang justru timbul setelah melihat gagasan atau karya yang salah dari orang lain. Maka sudah sepatutnya pula kita berterimakasih kepada orang lain tadi.

Sebagai penutup seri ini marilah kita pahami ajaran Al Ghazali (1058 – 1111M) dalam  Raudhatut Thalibien wa ‘Umdatus Saalikien atau Raudah, Taman Jiwa Kaum Sufi  yang menggambarkan hadis riwayat Abu Hurairah sebagai berikut: “Suasana penyatuan antara sang hamba dengan Sang Pencipta tercapai tatkala zat sang hamba mencapai tahap fana. Sifatnya telah sirna dan kefanaannya lebur dalam keabadian-Nya. Maka, bagi sang hamba bisa berlaku, ‘dengan diri-Ku ia mendengar dan dengan diri-Ku ia melihat.’ Jadilah Dia yang melimpahkan kewalian sang hamba dan menjadi kekasih sang hamba. Jika sang hamba berkata, maka akan berkata dengan zikir-zikir-Nya. Jika memandang akan memandang dengan cahaya-cahaya-Nya. Jika bergerak maka akan bergerak dengan kekuasaan-Nya. Jika memukul maka akan memukul dengan limpahan keperkasaan-Nya.

Segala puji bagi Gusti Allah, Sing Urip (Yang Mahahidup), Sing Gawe Urip (Yang menghidupkan hamba-hamba-Nya) dan Sing Nguripi (Yang mengatur kehidupan hamba-hamba-Nya). Yaa Rahman, Yaa Rahiim, Ya Hayyu, Ya Qayyuum. 

(Wirid Hidayat Jati: 3 dari 14, dalam Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah)

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda