Adab Rasul

Bagaimana Mengelola Marah

Orang yang dibuat marah tapi tidak marah itu himar alias keledai (foto : ilustrasi)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Orang yang dibuat marah tapi tidak marah itu himar alias keledai.

“Mohon nasihati saya”

“Janganlah marah.”

“Mohon nasihati saya”

“Janganlah marah.”

“Mohon nasihati saya”

“Janganlah marah.”

Dialog itu berlangsung antara seorang lelaki dan Nabi Muhammad s.a.w. ia datang menghadap Nabi, hanya untuk minta nasihat. Dan hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulutnya. Berkali-kali ia mengatakan itu, berkali-kali pula Nabi memberi respons yang sama.

Mengapa? Para ahli menduga, mungkin orang itu sedang terbakar api kemarahan. Sedang Nabi, biasanya, memerintahkan kepada orang dengan sesuatu yang paling cocok untuk yang bersangkutan. Karena itu beliau mencukupkan wejangan dengan “jangan marah” tadi.

Pada kesempatan lain, dua laki-laki terlibat perang mulut, tidak peduli di tempat mereka ada Nabi. Waktu itu banyak sahabat yang hadir, termasuk Sulaiman ibn Shard. Akhirnya seorang dari mereka mengumpat dengan hebat kawannya tadi, sementara wajahnya merah. Tampaknya adu fisik bakal segera terjadi.

Nabi lalu bersabda, “Sungguh saya tahu satu ucapan yang jika dia sampaikan, maka akan hilang apa yang terdapat dalam dirinya. Andai saja dia mengucap a’udzu billahi minasy syaithanir rajiim.

Mendengar sabda ii, para sahabat berkata kepada lelaki yang diamuk marah tadi. “He, apa kamu tidak mendengar apa yang disabdakan Nabi?”

“Apa kalian kira aku orang gila?” orang itu menimpali – tampaknya masih marah.

Dari hal-ihwal marah ini, sebuah cerita menyebutkan bahwa suatu hari istri Nabi, Aiysah r.a., uring-uringan kepada Nabi. “Ada apa kamu?” kata Nabi. “Datang lagi setanmu rupaya.”

Dibilang seperti itu, Aisyah tambah sewot. “Apa Bapak tak punya stan?”

“Oh, tapi aku selalu berdoa kepada Allah dan Dia menolongko sehngga aku selamat. Dia tidak aan menyruhku kecuali dengan kebaikan.”

Marah memang berasal dari setan, kata Nabi. Maka itu beliau menganjurkan orang yang sedang marah membaca ta;awudz, “Aku berlindung dari setan yang terajam”. Dalam hadis lain, kita disuruh berwudhu kala diserng rasa marah. Karena setan berasal ari api, makanya harus dilwan dengan air.

Sesungguhnya setiap orang memiliki tabiat marah. Hanya kadarnya yang berbeda-beda. Ada yang darahnya cepat mendidih, yang dari ciri-ciri fisiknya sudah keliahatan, dan terus melampiaskan amarahnya. Ada yang bisa meredam, sehingga tidak serta melancarkan kesumat.

Nabi sendiri pun bukan tidak pernah marah. Sperti terungkap dalam doa beliau, “Ya Allah, aku  adalah seorang manusia. Aku juga marah seperti halnya orang lainmarah.” Sahabat Jabir menuturkan, “Nabi kalau sedang berpidato, memerah matanya, meninggi suaranya, dan membara marahnya.” (H.R. Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan, “Nabi kalau sedang marah, memerah bagian atas pipinya.” Dalam perbincangannya dengan Aisyah tadi, ternyata beliau tidak menangkis kata-kata istrinya itu, dengan misalnya berkata, “Dalam diriku tidak ada setan.”

Lalu mengapa Nabi, kepada lelaki yang memintanya nasihat, melarang marah? Padahal, kata Al-Khithabi, melarang marah sama saja dengan melarang sesuatu yang mustahil. Bukan. Bukan maarahnya yang dilarang, melainkan “Jauhi sebab-sebab marah dan jangan pula menuruti apa yang diperintahkan kemarahan.” Begitu kira-kira dikehendaki Nabi, kata ahli hadis itu.

Dalam pada itu, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa marah bisa pula diibaratkan minyak untuk membakar api perjuangan. Orang yang padam atau lemah tabiat marahnya, kata sang Hujjatul Islam, ia akan bersikap pasif, diam saja melihat kemungkaran. Tidak punya kepekaan, tidak punya gairah untuk memerangi kejahatan, untuk menegakkan kebenaran. (Jangan-jangan orang enggan bereaksi terhadap kemungkaran, takut dicap radikal, ed). Tidak punya rasa cemburu kepada istrinya. “Sa’ad itu pencumburu,” kata Nabi, “tapi aku lebih pencemburu lagi.”

Berkata Imam Syafi’i, “Orang yang dibuat marah, tapi tidak marah, dia itu himar.” Itulah keledai, binatang yang sangat pasif.***    

Penulis: Hamid Ahmad, pernah menjadi redaktur Panji Masyarakat. (Sumber: Panji Masyarakat, 27 Oktober 1999).

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda