Hamka

Nasionalisme ala Hamka

Written by Panji Masyarakat

Kalau ada orang yang tidak ada rasa cinta tanah airnya, tandanya otaknya tidak beres. Agak berbulu sedikit kalau tidak cinta tanah air. Lebih-lebih kalau mengkhianati.

Nasionalisme diartikan sebagai salah satu bentuk cinta tanah air. Sebagai penganut dari nasionalisme, asal nasionalisme tidak menjauhkan kita dari jalan berpikir Islam. Agama kita. Islam, mengakui nasionalisme, perbedaan suku dan bangsa, agar antara satu dengan yang lain saling mengenal. Tetapi sekularisme yang dijiawai sekularisme adalah usaha supaya terbang ke atas, sehingga nasionalisme lebih tingggi dariIslam.

Begitu pulalah dengan halnya cinta tanah air. Kalau sekiranya dapat dikatakan  bahwa cinta tanah air sebagian dari iman, maka di waktu yang lain cinta tanah air dapat merusak dan membinasakan iman. Putus cinta dari hubungan asalnya, yaitu Tuhan. Menjadilah bangsa dan tanah  air, dan kebangsaan sebagai pokok pangkal cinta, dan tidak ingat lagi kepada yang lain. Sehingga akhirnya nasionalisme itulah yang menjadi pangkal segala bencana di dunia.

Boleh kebangsaan, boleh nasionalisme tetapi berilah batas dalam batas-batas kemanusiaan .  arti kemanusiaan adalah memandang alam atau dunia sebagai suatu keluarga besar, terdiri ari keluarga-keluarga kecil.

Kaum nasionalis  Arab, Al-Qaumiyyatul Arabiyah, merumuskan  nasionalismedengan semboyan “ad-dinu lillah wal-wathanu fauqal jami’ (Agama antara kita masing-masing dengan Tuhan, tanah air adalah di atas dari kita semuanya). Karena menjagaminoritas agama lain, orang Islam didesak agar tidak terlalu menonjolkan agamanya, karena kita ini sebangsa.

Kata nasionalisme diletakkan di atas agama, tapi itu sangat bertentangan dengan agama. Untuk itu orang dibawa kepada zaman gemilang sebelum Islam. Nasionalisme sangat berkaitan dengan kata “toleransi” yang diulang-ulang untuk menyelimuti kelengahan dan kelemahan. Maka leluasalah peeluk-pemeluk agamalain mendirikan gereja-gereja di daerah orang Islam, walaupun di daerah itu tidak ada orang Kristen. Dan jika pihak Islam melawan atau menentang mereka dituduh fanatik (sekarang yang lebih populer radikan, ed). Dan yang mendirikan gereja di tempat orang Islam itu tdak dikatakan fanatik.

Kewajiban kaum muslimin kepada negara, karena negara ini dunia, kita tidak sampai ke akhirat kalau tidak berlalu dari dunia. Adapun mencinta taah air tidak usah dibicarakan lagi, sebab itu adalah tabiat manusia. Saya sendiri, kalau d Indonesia kurang merasakan cita tanah air itu. Tetapi kalau saya berada di luar negeri, sya lihat berkibar Merah Putih, alangkah senangnya hati saya. Itulah suatu keajaiban.

Saya pergi ke Mekah naik kapal, berhenti kapal,  dilihat bendera bendera segala bangsa ada. Tampak Merah Putih, saya cinta. Itu tabiat manusia, suara hati manusia. Itu tidak saya propagandakan lagi. Kalau ada orang yang tidak ada rasa cinta tanah airnya, tandanya otaknya tidak beres. Agak berbulu sedikit kalau tidak cinta tanah air. Lebih-lebih kalau mengkhianati. Kalau saya simpulkan  bagaimana cinta kepada tanah air, yaitu cinta yang tidak menghrapkan balas dann tidak ada orang yang bisa membalasnya.***

Penulis: Buya Hamka (Sumber: Ensiklopedia Buya Hamka)          

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda