Tafsir

Doa dan Tujuan-tujuan Keilahian (Bagian 1)

Written by Panji Masyarakat

Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih segala puji bagi Allah, tuhan sekalian alam mahapemurah, maha pengasih penguasa hari pembalasan.  Hanya kepadamu kami menyembah, hanya kepada-mu kami meminta pertolongan. Tunjukilah kiranya kami jalan yang lurus. Jalan mereka yang kau limpahi anugerah, bukan mereka yang kena murka dan bukan mereka yang sesaat.(Q.1:1-7)

Setidak-tidaknya, seorang muslim mengulang mengucapkan surat pendek ini, yang hanya terdiri atas tujuh ayat, 17 kali sehari semalam. Dan lebih dari jumlah kelipatannya jika ia mengerjakan salat-salat sunah. Bahkan akan melafalkanya sampai jumlah tidak tak terbatas kalau ia gemar berdiam di hadapan tuhannya dalam ibadah nafilah (tambahan), di luar yang fardu  maupun yang sunah. Sebab memang tidak akan ada satu salat tanpa surah ini — seperti yang jelas dalam riwayat Bukhari dan Muslim, dari Rasulullah s.a.w., di turunkan oleh ‘Ubadah ibn as-Shamit r.a., “Tiada shalat untuk yang tidak membaca fatihatul kitab.”

Tidak mengherankan. Di dalam surah ini terkandung substansi-substansi menyeluruh akidah Islam, serta berbagai tuntunan, yang menunjuk ke satu segi dari hikmah dipilihnya Fatihah menjadi bacaan berulang-ulang untuk tiap rakaat, dan hikmah ketentuan batalnya salat tanpa kehadirannya. (Saiyid Qutbb, Fi Zhilalil Quran, 1:21).

Itulah sebabnya terdapat banyak sebutan untuk surah ini. Disamping sembilan nama yang didaftarkan , orang masih menyebut Fatihah sebagai Al-Qur’anul ‘Azhim (Quran yang agung), seperti dalam hadis yang sudah diterangkan lebih dulu. Ini karena ia mengandung semua pengetahuan dari Alquran.

Kandungan itu ialah ini: ungkapan pujian (al-hamd) kepada Allah ’Azza wa Jalla dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keluhuran-Nya (rabbil ‘alamin,  ar-rahmanir rahim, maaliki yaumiddin), perintah segala amal ibadah dengan keikhlasan di dalamnya (iyyaka na’budu), pengakuan akan kelemahan diri sendiri dalam pelaksanaan sesuatu kecuali dengan pertolongan-Nya yang Mahaluhur (iyyaka nasta’in), perintah berdoa sepenuh hati kepada-Nya dalam masalah hidayah (petunjuk) ke jalan lurus (ihdinash sirathal mustakim) dan keterangan mencakupi mengenai (keadaan para mukmin yang dilimpahi anugerah — shirathal ladzima an ‘amta  alaihim; pen) serta ihwal para pelanggar, dan atas dasar itu juga akibat untuk para pengingkar (ghairil maghdhubi ’alahim waladh- dhaalliim). Maka Alquranul ‘Adzim boleh kita jadikan nama yang ke sepuluh.

Nama ke-11, kemudian, adalah Ar-Ruqyah (Jampi). Itu didapat dari hadis  Abu Aa’id al-Khudri r.a. Di dalamnya  Rasulullah s.a.w. bertanya pada seseorang yang menjampi seorang pemimpin suku (untuk penyembuhan penyakitnya): “Dari mana kau tahu Fatihah itu jampi?” “Ya Rasulullah,” jawabnya, “Sesuatu dibersitkan ke hati saya.” (riwayat para imam). Al-Qurthubi menukilkan pendapat bahwa yang jampi dalam Al-Fatihah adalah iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in. Pendapat sebaliknya: Fatihah itu seluruhnya — mengingat kata-kata Nabi tadi, “Dari mana kau tahu ia jampi?” Bukan dikatakan di situ: ”Di  dalam Fatihah ada jampi.”

Asas langit dan Asas Bumi

Nama ke-12 adalah Al-Asas. Seseorang mengadukan penyakit lambung kepada Asy-Sya’bi. Komentar Sya’bi: ”Ambilah Asasul Quran — Fatihatul Kitab. Aku mendengar  Ibn Abbas berkata, ”Segala sesuatu ada asasnya. Asas dunia adalah Mekah. Karena dari situ dunia (bumi;pen.) dibentangkan.  Asas langit adalah ‘Ariba, yakni langit ketujuh. Asas bumi adalah ’Ajiba, yakni pelapis ke tujuh bumi yang paling bawah. Asas surga adalah Taman Aden. Dialah pusar surga, daripadanya surga dialaskan. Asas neraka adalah Jahanam. Dialah lapis ketujuh di bawah, dari padanya dibangun lapis-lapis bawah.

Asas ciptaaan adalah Adam. Asas nabi-nabi: Nuh. Asas Bani Israil: Ya’qub (Israil adalah nama asli untuk Ya’qub a.s;pen.). Asas kitab-kitab adalah Alquran. Asas Quran: Al-fFtihah. Dan asas Fatihah bismillahirrahmanirrahim. Kalau engkau kena penyakit, dan merasa sakit, pakailah Al-Fatihah…” (Abu’Abdillah Al-Quthubi, Al-Jami’ li-Ahkamil Quran, 1:112).

Yang di atas itu kata-kata sahabat Nabi, bukan dari Nabi sendiri. Dan seperti itulah kurang-lebih pandangan tentang semesta (langit dan bumi, khususnya, yang berlapis-lapis) waktu itu,bahkan sampai abad-abad yang jauh ke belakang. (Qurthubi, yang menukil riwayat di atas sebagai salah satu sandaran, wafat 1272 M. atau 671 H.)

Padahal, satu abad sebelumnya sebenarnya sudah ada Omar Khaiyam, matematikus dan penyair (w.1131 M.),  yang sepanjang kebenaran Harold Lamb dalam novel biografinya tentang astronom yang punya menara pengamat bintang di Nisapur, Persia,  dan sudah memperbaiki perhitungan Euclides itu (menurut Lamb, ia memperbaiki hitungan Ptolamaius), sudah meyakini bumi sebagai planet yang bulat dan berputar.hanya saja Al-Ghazali (w.1111 M.), katanya, yang diundang Khaiyam ke menaranya, menolak teori itu.

Kenyataan tentang Ghazali  (kalau benar) dan Qurthubi itu (malah konon juga Suyuthi,w.1505) boleh menampakkan hal yang mengejutkan: kesenjangan antara dunia ulama dan dunia saintis, yang rupanya dari dulu begitu. Betapapun, adalah Ibn ’Abbas yang menurut Asy-Sya’bi, seperti dicatat Ibn Katsir, menanam Fatihah Asasul Quran. Adapun asas Fatihah sendiri, katanya, adalah bismillahhirrahmanirrahim.(Ibn Katsir, Tafsirul Quranil ’Azhim,1:8).

Al-Fakhur Razi membawakan keterangan yang lebih mendasar tentang mengapa Fatihah disebut asas. Pertama, katanya, karena dialah surat pertama di dalam Quran. Seperti asas. Kedua, ia mengandung tujuan-tujuan luhur yang merupakan asas. Ketiga, karena ibadah lain yang paling mulia, sesudah imam, adalah salat. Sedangkan surah ini mengandung segala yang bersifat tidak boleh tidak dalam hal iman, sementara salat tidak akan utuh tanpa dia.(al-Fakhrur Razi, At-Tafsirul Kabir, 1:182).

Sedangkan Al-Baidhawi menyimpulkan, Fatihah disebut asas karena ia juga dinamakan Ummul Quran — berdasarkan kenyataan bahwa ia preambula Kitab Suci dan titik berangkatnya — seakan ia fondasinya dan tempat tumbuhnya ( Baidhawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil 1:7). Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panji Masyarakat, 22 Desember 1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024