Mutiara

Ulama Solo yang Bergaul Akrab dengan Romo Pastur

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kiai Ahmad Siroj dekat dengan semua lapisan masyarakat. Ia tidak membedakan suku, agama, ras maupun status sosial dan kelompok. Termasuk para pedagang Cina.

Kiai Ahmad Siroj  alias Mbah Siroj tergolong  ulama yang langka. ia bukan hanya toleran terhadap pemeluk agama lain, tapi juga bergaul akrab dengan mereka. Ia juga diyakini memiliki sejumlah karomah yang biasa dipunyai seoang waliyullah. Di antaranya kasyaf, kemampuan melihat yang tidak diketahui oleh mata biasa.

Syahdan, ketika  tentara Belanda akan masuk Kota Solo pada tahun 1948 (clash ke-2)  satu seksi lascar Hizbullah yang terdiri dari 50 orang, berkumpul di Begalon, Panularan. Kiai Ahmad Siroj tiba-tiba datang mengadakan inspeksi. Seorang anggota laskar Hizbullah bernama Hayyun, 25 tahun, tiba-tiba didekati beliau lalu dipeluknya seraya berucap “ahlul jannah … ahlul jannah”. Tak lama kemudian, datang tentara Belanda dengan sejumlah pasukan tank, lewat Pasar Kembang ke arah selatan. Hayyun maju dengan beraninya sendirian sambil membawa granat nanas, lalu dicabutnya dan melompat sambil melempar granat ke arah tank. Ketika tank meledak, terbakarlah tentara Belanda yang berada di dalam tank. Termasuk Hayyun,yang mati syahid.

Yang ini tentang mimpi yang jadi kenyataan. Dikisahkan, suatu waktu  Mbah Siroj merasa perlu salat Jumat berturut-turut selama 7 pekan di masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Al-Muayyad di Jalan K.H. Samanhudi, Solo. Pada malam Jumat minggu ke-7, Kiai Asfari (kala itu berstatus duda) mimpi dianjurkan Kiai Ahmad Siroj agar menikah dengan Nyai Syafi’ah. Jumat siang, bakda jumatan, Kiai Ahmad Siroj singgah ke rumah dekat masjid tersebut. Di samping Kiai Asfari, di situ sudah ada  K.H.A. Umar Abdul Mannan. Jamuan makan siang pun disajikan. Kebetulan yang menghidangkan Nyai Syafi’ah juga. Seketika itu juga, Kiai Ahmad Siroj memerintahkan agar Kiai Asfari pergi menemui Kiai Manshur di Popongan, Delanggu, Klaten. Ternyata perintah Kiai Manshur sama dengan Kiai Ahmad Siroj sebelumnya. Malah ditetapkan hari tanggalnya sekaligus. Setelah diingat-ingatnya, ternyata tiga tahun sebelumnya Kiai  Umar pernah diperintah memotong kambing pada hari tanggal tersebut (tepat pada hari/tanggal ijab Kiai Asfari dengan Nyai Syafi’ah).

Adapun bentuk toleransinya dengan pemeluk agama lain, tampak dari jalinan persahabatannya  dengan Romo Petrus Sugiyanto. Mbah Siroj kerap diundang makan dan sering melakukan salat di rumah sang pastur. Begitupun denga  Romo Sugiyanto, yang juga kerap berkunjung ke rumah Kiai Siroj. Ia juga berkawan akrab dan saling mengunjungi dengan penjual bakso  beragama Katolik dan keturunan Tionghoa. Bahkan sampai sekarng keluarga Tionghoa ini selalu mengirim kebutuhan haul, berupa kambing serta beberapa kuintal beras.  

Ahmad Siroj adalah putra Kiai Umar Imamul Faura (Imam Pura) bin Syarif (Arif) bin Ruhani bin Hasan Munadi bin Hasan. Ia berasal dari Susukan, Semarang.  Ia juga dikenal ulama yang memiliki banyak karomah. Kekhasannya adalah selalu memakai iket (blangkon), berbaju putih, bersarung ‘wulung’ dan memakai ‘gamparan’ (sandal dari kayu) walau sedang bepergian jauh. Ia selalu ta’dhim (hormat) kepada gurunya. Bila berjanji selalu ditepati. Bila berkesanggupan, pasti dijalani. Sejak kecil memang ia kelihatan menonjol dibanding teman seusianya. Setiap ucapannya selalu mengandung makna (sasmita).

Sewaktu masih muda, Kiai Ahmad Siroj berguru kepada beberapa ulama besar. Pernah belajar di Pesantren Mangunsari di Nganjuk, Jawa Timur, berguru pada Kiai Bahri (ayah Kiai Ibnu Mundzir, Kediri). Saat belajar di Mangunsari ia mengikuti kakaknya yang bernama Abdus Syakur.  Mbah Siroj juga pernah belajar di Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Di pesantren ini ia berguru kepada K.H. Dimyati At-Tirmizi. Ia juga pernah belajar di Semarang kepada Kiai Sholeh Darat. Kiai Ahmad Siroj termasuk pengikut tarekat Qadariyah Naqsabandiyah.

Kiai Siroj dikenal  dekat dengan semua lapisan masyarakat. Ia tidak membedakan suku, agama, ras maupun status sosial dan kelompok. Ia menjaga hubungan baik dengan semua kalangan.  Kiai Siroj juga sangat dekat dengan para santri. Kedekatan ini terlihat ketika Kiai Ahmad Siroj tidak segan makan satu nampan (piring besar) dengan santrinya. Bila mereka butuh uang, ia tidak segan membantunya. Sebaliknya, ia tidak segan meminta bantuan uang, untuk membantu orang yang membutuhkan.

Kiai Siroj mendirikan pesantren di Jalan Honggowongso 57 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Surakarta. Kitab yang diajarkan oleh beliau, selain Al-Qur’an dan Hadis adalah Sullamut Taufiq, Safinatun-Najah, Duratul-bahiyyah dan Fathul Qorib. Selain itu, banyak pula ajaran-ajarannya yang berupa hafalan. Kiai Ahmad Siroj wafat pada 10 Juni 1961.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda