Cakrawala

Hantu Radikal (bagian 2)

Apa yang kemudian disebut sebagai Revolusi Islam Iran pada awalnya digerakkan secara bersamaan oleh kelompok mullah, kelompok intelektual modern, kelompok kiri dan kelompok pedagang; karena itu, seperti bisa diduga, persoalan yang segera muncul adalah terjadinya gesekan diantara elemen-elemen tersebut begitu kekuasaan monarki Reza Pahlevi berhasil dirobohkan.

Kaum kiri langsung menuduh kaum mullah telah membajak revolusi yang mereka klaim sebagai hasil usaha mereka. Apalagi setelah Imam Khomaini mendeklarasikan apa yang disebut sebagai wilayatul faqih, yang lantas mereka anggap sebagai bentuk teokrasi dan hanya menguntungkan posisi kaum mullah belaka.

Kritik semacam ini tidak hanya muncul dari kaum kiri, tapi juga dari para intelektual modern; bukan hanya di Iran, tapi juga di wilayah-wilayah lain. Kalau kita pakai istilah yang hari-hari ini cukup populer: mereka dianggap memanfaatkan atau bahkan memanipulasi agama untuk kepentingan merebut kekuasaan politik.

Tapi, sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kalau lebih dahulu kita mencoba melihat masalah ini dari sisi yang berbeda; yakni dengan mencari benang merah gerakan kaum mullah di Iran dengan dinamika yang terjadi di dunia Islam setidaknya mulai abad 18.

Ada tiga tantangan besar yang secara hampir bersamaan menghadang ummat Islam mulai abad 18-19: rapuhnya Turki Utsmani, serbuan modernitas dan masuknya rezim kolonial dari Eropa ke wilayah mereka. Ketiga tantangan besar ini tentu melahirkan beragam reaksi dan rentetan komplikasinya, baik di ranah keagamaan, politik dan budaya.

Dalam ranah politik muncul tokoh besar bernama As-Sayid Muhammad bin Shafdar Al-Husain, atau yang lebih dikenal sebagai Jamaluddin Al-Afghani. Di tengah apa yang dianggap sebagai bentuk kemunduran kaum muslimin dan serbuan kolonialisme Eropa di negeri-negeri Islam, Al-Afghani menjadi seorang tokoh yang amat memengaruhi perkembangan pemikiran dan aksi-aksi sosial pada abad ke-19 dan ke-20.

Idenya yang sangat terkenal dan diperjuangkannya dalam berbagai bentuk, mulai dari gerakan politik, sosial sampai dengan tulisan, adalah apa yang oleh banyak ahli lantas disebut sebagai Pan Islamisme. Tujuannya adalah membangun dunia Islam di bawah satu pemerintahan dan mengusir penjajahan dunia Barat atas dunia Islam.

Di sisi lain, di ranah keagamaan, muncul murid Jamaluddin Al-Afghani yaitu Syaikh Muhammad Abduh, yang mengembangkan wacana pembaharuan pemikiran di kalangan kaum muslimin. Dua ungkapan terkenal dari Syaikh Muhammad Abduh, yang sekaligus bisa menjadi pintu masuk untuk membedah dasar dan latar belakang pemikirannya adalah: ‘al-Islamu mahjuubun bil muslimin’ Islam tertutup oleh umat Islam; dan ‘saya melihat muslim di Mesir, tapi saya tak melihat Islam di sini. Adapun di Eropa saya tak melihat muslim, namun saya melihat Islam di sana.’

Ada paradoks dalam wacana yang berkembang saat itu, paradoks yang sulit dipahami kecuali kita melihatnya dari dinamika internal ummat Islam sendiri. Di satu sisi mereka melihat Eropa beserta modernitas yang dibawanya sebagai sebuah keniscayaan, di lain sisi mereka harus melawan kolonialisme yang dikembangkan oleh para pembawa modernitas tersebut.

Wacana yang dikembangkan oleh Jamaluddin Al-Afghani di ranah politik dan Muhammad Abduh di ranah pemikiran ini, tampaknya harus dicatat sebagai salah satu tonggak penting perkembangan ummat Islam di abad 20. Pengaruhnya meluas hampir ke keseluruhan dunia Islam, dan bisa dijadikan penanda awal munculnya apa yang kemudian disebut sebagai modernisme Islam.

Budayawan,tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia


About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda