Muzakarah

Zakat Untuk Pengurus Masjid

Written by Panji Masyarakat

Saudara Ibnu Abdillah adalah anggota pengurus (ta’mir) masjid di bilangan Depok, Jawa Barat. Ia pernah menerima sejumlah uang dari ketua ta’mir atau DKM. “ini sabilillah,” katanya ketika  Saudara Ibnu bertanya. Maksudnya zakat. Alasannya pengurus masjid adalah pejuang di jalan Alah (fi sabilillah), salah satu dari delapan kelompok (ashnaf) penerima zakat. Selain itu, selama ini mereka tidak diberi honor sama sekali.

Saudara Ibnu tidak berani menggunakan uang itu,  karena masih ragu apakah ia termasuk kelompok penerima zakat. Masalahnya, dengan gaji yang lebih dari lumayan, ia merasa hidupnya sudah lebih dari cukup. “Apakah pengurus masjid bisa digolongkan penerima zakat, meski ia kaya?” tanya Ibnu.

Jawaban K.H. Ali Yafie:

Alhamdulillah, Anda bertanya  tentang zakat yang Anda terima. Zakat, Saudara Ibnu Abdillah, adalah salah satu rukun Islam yang paling banyak dimensi sosialnya, di samping dimensi relegius. Di situ ada aspek solidaritas dan saling tolong-menolong. Dalam Alquran Allah berfirman, “…. supaya harta itu tidak hanya beredardi kalangan orang-orang kaya di antara kalian “ (Q. 59:70. Jadi, zakat adalah cara Islam mewujudkan pemerataan (di samping sedekah, infak, wakafdan warisan).

Alquran menetapkan delapan kelompok penerima zakat: fakir, miskin, amil (panitia penyalir zakat), orang yang dielus hatinya (baru masuk Islam atau mualaf), budak yang mau mememerdekakan diri, orang yang dililit utang,  orang yang berperang di jalan Allah, dan ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan).

Saudara Ibnu, kedelapan kelompok ini sebenarnya  terhimpun dalam satu kata: dhuafa (kaum lemah). Itu sebabya, maka kaum fakir dan miskin ditempatkan di urutan awal, sebagai kelompok yang paling lemah.

Dalam bahsa kita, fakir dan miskin biasanya disatukan. Padahal dalam bahasa aslinya (Arab) kedua kata itu punya konotasi berbeda: yang pertama lebih buruk keadaannya dibanding  yang kedua. Orang disebut fakir jika ia tidak punya penghasilan sama sekali atau punya penghasilan tapi tidak mencukupi separo dari kebuuhannya. Jadi kalau indeksnya 10, misalnya, maka skala penghasilannya kurang dari 1-4. Sedang miskin adalah orang yang penghasilannya dapat memenuhi separo atau lebih kebutuhan, tapi tidak seluruhya. Skalanya 5-9.

Keenam kelompok yang lain pun harus pula tergolong  orang lemah untuk bisa menerima zakat. Kalau orang yang dililit utang , misalnya orang kaya (jangan dikira pengusaha besar atawa konglomerat tidak punya utang, malah utang mereka banyak sekali), mereka tidak berhak menerima zakat. Sebab mereka berutang untuk bisnis (utang produktif). Padahal yang bisa menerima zakat adalah mereka yang berutang untuk maksudkonsutif – jadi memang benar-benar orang lemah.

“ berhak menerima zakat, melainkan orang yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Untuk masa sekarang, para pelajar dan mahasiswa yang belajar jaug dari kotanya, bisa digolonkan sebagai ibnu sabil. Tapi tidak semuanya; hanya yang uang kiriman orangtuanya tidak mencukupi kebutuhan.

Begitupun dengan kelompok fi sabilillah. Secara tradisional, dalam ilmu fikih, yang dimaksud adalah “para pejuang sukarela dalam perang di jalan Allah (al-ghizatul mutathawi’ una fi sabilillah). Jadi, bukan tentara reguler yang menerima gaji, seperti skarang ini. Para pejuang di Afganistan, misalnya, bisa masuk dalam golongan ini.

Sekarang ada pendapat, yang masih diperselisihkan, bahwa objek-objek kebajikan (al-a’ malul khairiyah) masuk pula di dalam kategori fi sabilillah,  seperti pembangunan masjid, musalla, rumah sakit, rumah yatim piatu, dan sebagainya (dengan catatan belum ada penyandang dananya, apakah itu pemerintah atau swasta). Tapi pengurusnya tidak berhak. Jadi Anda, Saudara Ibnu, tidak dengan sendirinya selaku pengurus masjid berhak menerima zakat, kecuali jika Anda termasuk di antara kedelapan kategori. Tapi kalau Anda orang kaya, bukan amil dan seterusnya, maka Anda tidak boleh menerima zakat itu.

Para imam masjid, muazin, kiai dan mubalig juga tidak berhak menerima zakat. Memang di kampung-kampung banyak kiai yang menerima zakat dari penduduk sekitarnya. Ini ada riwayatnya. Dulu masyarakat sekitar bisa mempercayakan penyaluran zakat kepada para kiai karena mereka dianggap lebih mengerti. Mereka dianggap amil, dan itu boleh, saya kira. Namun belakangan, banyak dari mereka yang memposisikan diri sebagai penerima (mustahiq), meski mereka kaya.

Juga bisa masuk dalam kategori fi sabilillah adalah beasiswa untuk para pelajar dan mahasiswa yang tidak mampu. Sebab, di samping mereka orang lemah karena tidak mampu membiayai sendiri untuk pendidikan mereka (meski untuk makan, mereka tak kekurangan). Beasiswa juga tergolong objek kebajikan.

Sumber:  Panji Masyarakat, 2 Maret 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka