Tasawuf

Wirid Hidayat Jati : Memahami Peradaban Jawa Yang Bernafaskan Islam

Written by B.Wiwoho

Nilai-nilai Islami menyusup masuk ke dalam kepercayaan, budaya dan adat istiadat Jawa, menggeser setapak demi setapak, membungkus selapis demi selapis semakin tebal bagaikan kulit bawang. Ulama-ulama abad permulaan Islam di Jawa, dengan hebat  dan berani telah melakukan interpretasi dan transformasi ruh Islam ke dalam bahasa dan budaya Jawa, membentuk peradaban baru, peradaban Jawa yang bernafaskan Islam

Dalam banyak tulisan mengenai penyebaran Islam di Pulau Jawa, baik yang di blog, media massa maupun buku- buku Pengembaraan Batin Orang Jawa di Lorong Kehidupan, Memaknai Kehidupan, Bertasawuf di Zaman Edan dan  Islam Mencintai Nusantara, Jalan Dakwah Sunan Kalijaga: Tafsir Suluk Kidung Kawedar, penulis sering menyinggung dua hal, yaitu ruh dan pertemuan Islam dengan peradaban Jawa.

Soal ruh, buku Memaknai Kehidupan dari halaman 18 sampai 28 misalkan, diawali dengan mengutip  firman Allah untuk menjadi pegangan supaya kita tidak menyeruak ke sana-sini tanpa manfaat, yaitu Surat Al-Isra’ ayat 85: “Dan mereka  bertanya kepada engkau perihal ruh. Katakanlah, ruh itu urusan Tuhanku, dan tidaklah diberikan kepada kamu ilmu mengenainya melainkan sedikit.”

Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar yang enak dibaca menuturkan, ada satu riwayat yang diterima dari Ibnu Abbas bahwa ruh yang dimaksud tadi adalah malaikat. Memang ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang menyebut ruh itu sebagai malaikat (Al Qadar, 97:4 dan An Naba’, 73:38). Tetapi sebagian besar ahli ta’wil menyatakan ruh yang ditanyakan dalam ayat tersebut adalah ruh yang ada dalam tubuh manusia, yang merupakan suatu perkara besar yang ilmu manusia tidaklah sampai kepadanya. Tuhan hanya memberikan ilmu yang sekelumit supaya manusia insyaf bahwa tidaklah kita mempunyai upaya untuk mengetahui hakikat diri kita sendiri, usahkan mengetahui hakikat orang lain, apatah lagi Tuhan. Demikian Buya Hamka.

Beberapa ayat Qur’an lainnya yang juga menjelaskan soal ruh antara lain:

·        Al-Araaf (7:172) tentang perjanjian Allah Swt dengan ruh.

·        As-Sajdah (32:9) tentang peniupan ruh ke dalam janin manusia.

·        Az-Zumar (39:42) tentang pemeliharaan ruh oleh Tuhan.

·        Al-Jumu’ah (62:7-8) tentang kematian.

Dari ayat-ayat di atas kita dapat merumuskan sebuah uraian tentang ruh sebagai berikut: “Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya ke dalam tubuh manusia ketika masih dalam kandungan. Allah mengambil kesaksian atau membuat perjanjian dengan ruh tersebut tentang keesaan Allah, dan Allah mengilhami jiwa tersebut dengan kefasiqan, dan Allah mengujinya dengan kebaikan dan keburukan; dan tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.

Allah memegang jiwa atau ruh manusia  tatkala tidur dan ketika mati. Dan apabila Allah mengambil nyawa atau ruh seseorang, tak seorang pun yang dapat mengembalikan pada tempatnya. Pada hari kiamat jiwa manusia  akan mengetahui apa yang diperbuatnya sewaktu di dunia dan Allah akan menyempurnakan pahala-Nya sesuai dengan amalnya sendiri-sendiri, tidaklah dirugikan sedikit pun dan tidak pula dianiaya.” (Klasifikasi Kandungan Al Qur’an, Choiruddin Hadiri, SP, Gema Insani Press, 1999).

Kita semua sependapat bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu ruh dan tubuh. Tetapi mengenai ruh dan jiwa sulit dipisahkan dan dibedakan. Meskipun demikian, sebagian penganut tasawuf membedakan ruh dengan jiwa. Sebab jiwa itu merupakan perpaduan antara ruh dengan tubuh, dengan jasad lahir. Jadi jiwa adalah kesatuan ruh dengan jasad (Nihayah al-‘Alam, DR.M.Mutawalli Asy-Sya’rawi, terjemahan Indonesia, Rahasia Allah- di Balik Hakikat Alam Semesta, Pustaka Hidayah 1994).

Perihal pertemuan serta interaksi antara Islam dan peradaban Jawa, saya gambarkan berlangsung secara damai dan indah dengan melalui pendekatan budaya. Nilai-nilai Islami menyusup masuk ke dalam kepercayaan, budaya dan adat istiadat Jawa, menggeser setapak demi setapak, membungkus selapis demi selapis semakin tebal bagaikan kulit bawang.

Islam masuk ke Jawa dengan menghindari pedang dan darah, menghindari kekerasan. Prinsip tidak ada paksaan dalam agama (Al-Baqarah: 256) dan serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik (An-Nahl: 125) menjiwai metode dakwah pada saat itu. Ulama-ulama abad permulaan Islam di Jawa, dengan hebat  dan berani telah melakukan interpretasi dan transformasi ruh Islam ke dalam bahasa dan budaya Jawa, membentuk peradaban baru, peradaban Jawa yang bernafaskan Islam.

Para ulama melakukan revolusi kebudayaan yang menyeluruh. Segenap sendi kehidupan masyarakat disusupi ruh Islam. Secara sadar mereka tidak membuat syariat-syariat baru, melainkan memanfaatkan dan mendayagunakan tradisi serta agenda kegiatan masyarakat yang sudah ada. Suatu metode komunikasi massa yang hebat, yang bahkan para ahli komunikasi massa modern banyak yang kurang memahami dan tidak memanfaatkan secara baik.

Prosesi-prosesi terutama yang mengiringi perjalanan kehidupan manusia dari semenjak lahir sampai meninggal tetap dipertahankan dengan diberi ruh Islam, dan dijadikan sebagai sekedar adat serta tradisi, dan bukan syariat. Sesaji-sesaji diubah niat, maksud dan tujuannya menjadi   sedekah. Peristiwa-peristiwa yang bisa dimanfaatkan untuk mengumpulkan orang banyak didorong dan dimanfaatkan sebagai wahana dakwah dan silaturahmi. Kesenian-kesenian asli dikembangkan sehingga lahirlah wayang kulit nan indah dengan lakon-lakon khas yang Islami. Demikian pula gamelan, perangkatnya dilengkapi dan diciptakan gending-gending serta irama baru, yakni tembang mocopat nan indah khas Jawa sebagaimana kita kenal sampai sekarang. Subhanallah walhamdulillah. (Wirid Hidayat Jati : 1 dari 14, dalam Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka