Cakrawala

Megawati, Soekarno, Islam, dan PKI

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Dalam  pidato bertajuk “Tjilaka Negara yang Tidak Ber-Tuhan”  di IAIN Jakarta Bung Karno antara lain menyatakan, jika mahasiswa IAIN  “ingin mengerti mengapa dulunya Islam pernah mengalami pasang naik.dan juga pasang surut.bebaskan pikiranmu dari berpikir biasa, berpikir konvensionil.” Mengapa BK kerap dituduh penganut komunisme?

Ketua Umum PDI Perjuangan beberapa kali menumpahkan kegusarannya  terhadap tuduhan bahwa partainya berbau komunis atawa PKI. Kata dia, tuduhan itu merupakan sebuah pencemaran dan penghinaan yang pelakunya wajib diberikan sanksi hukum. Dia menegaskan bahwa PDI Perjuangan menganut ideologi Pancasila. Ia  tidak terima ketika jerih payahnya membangun sebuah partai dirusak oleh segelintir orang yang ingin menjatuhkan citra partainya.

“PKI sudah enggak ada. Jelas namanya saja beda dengan PDI-P. Beretikalah. Kalau mau tempur dan fight, ya ayo. Tapi jantan, jangan cengeng,” kata Mega dalam sebuah pidato tahun lalu. Menurut dia,  isu komunis selalu digunakan para pesaing politik untuk menjatuhkan citra PDI Perjuangan di mata publik. Cara-cara yang sama selalu terjadi menjelang dan saat dilakukannya pemilihan umum. Untuk itu, ia  meminta kadernya untuk berani dan bertindak tegas apabila difitnah sebagai partai komunis.

Tidak hanya itu.  Presiden ke-5 RI ini juga tidak terima ayahnya, Presiden pertama RI Soekarno, dan kader partainya, Presiden Joko Widodo, yang sering dituduh penganut komunias. Kata dia, “Saya bilang ke kalangan NU, ayah saya dibilang PKI. Padahal, sampai sekarang Bung Karno diberikan gelar oleh NU sebagai Waliyul ‘Amri Dharuriy bi al- Syawkah, yaitu pemimpin Bangsa Indonesia yang wajib dipatuhi perintahnya. Ya tolong juga dibersihkan, enak saja yang bilang PKI.” Ia menambahkan, “Kasian loh Jokowi yang jadi karena PDI Perjuangan dibilang PKI. Katanya orang tuanya Cina. Loh, saya kenal dengan ibunya, piye toh?”

Partai Demokrasi Indonesia  Perjuangan tentu tidak berideologi komunisme. Tuduhan bahwa PDI Perjuangan PKI,  yang dimunculkan terutama pada saat pemilihan kepala daerah, karena sejumlah aktivis dan fungsionaris partai ini merupakan anak-anak PKI, dan atau dikenal sebagai aktivis yang berhaluan “kiri” sewaktu menentang rezim Orde Baru. Tuduhan PKI ini sangat efektif, misalnya  pada pemilihan gubernur Banten tempo hari yang berujung pada kealahan tipis Rano Karno yang diusung PDI Perjuangn. Harap dimaklum, Dewan Pimpinan Daerah PDI Perjuangan dalam waktu cukup lama pernah dipimpin oleh Dokter Ribka Tjiptaning, penulis buku Aku Bangga Jadi Anak PKI  itu.

Tapi bagaimana dengan tuduhan PKI terhadap  Ir. Haji Joko Widodo, yang dikatakan Mega jadi Presiden RI  karena PDI Perjuangan itu? Kiranya orang sudah pada mafhum, itu fitnah belaka. Bahkan Jokowi sendiri pernah menyatakan, bahwa dia bakal meggebuk jika benar itu PKI ada.

Adapun Bung Karno, kita ketahui, pada masa-masa akhir pemerintahannya memang sangat dekat dengan, dan banyak memberi angin kepada,   PKI. Pada masa pemerintahannya pula, sejumlah tokoh Islam dijebloskan ke penjara atau menjadi tahanan politik tanpa proses hukum. Bukan hanya plitisi Islam sebenarnya, para pengeritiknya pun seperti Buya Hamka dan Mochtar Lubis juga dijebloskan ke bui. Ketika terjadi peristiwa Gestapu yang melibatkan sejumlah pentolan PKI, Bung Karno pun enggan membubarkan PKI. Tetapi dia mudah saja membubarkan Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) ketika beberapa pemimpin kedua partai itu terlibat pemberontakan  PRRI/Permesta. Karena itu, dengan gampanya pula orang menuduh Bung Karno komunis. Ini sesungguhnya sangat keliru, dan wajar jika Megawati marah ayahnya dituduh berfaham komunis, dan mengadukan perihal ayahnya kepada NU, satu-satunya kekuatan politik Islam yang eksis pada zaman Demokrasi Terpimpin atau era Nasakom-nya Bung Karno.

Aneh, memang. Apalagi menjelang kejatuhannya Bung Karno menerima gelar Doktor honoris causa dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1964) dan Universitas Muhammadiyah Jakarta, sebulan sebelum Gestapu. Kedua-duanya di bidang Ushuluddin alias Ilmu Tauhid. Judul pidato Bung Karno di IAIN adalah  keren juga, “Tjilaka Negara yang Tidak Ber-Tuhan”.  Pada kesempatan itu BK antara lain menyatakan: “Jika kalian ingin mengerti mengapa dulunya Islam pernah mengalami pasang naik….dan juga pasang surut….bebaskan pikiranmu dari berpikir biasa, berpikir konvensionil.…kamu mahasiswa IAIN, kamu jangan mempelajari Islam dan mencoba memasukkan Islam dengan, apa itu, maaf, jiwa pesantren.
Hidup dengan ”jiwa pesantren”, bagi Bung Karno, ibarat tinggal dalam ruang tertutup. Bukalah! Bukalah pintu, bukalah jendela! Ya, bahkan lebih dari itu: sekali kamu keluar dari ruangan pengap itu, bangkitlah, bangkitlah, naik ke langit….”

Tidak diragukan lagi, BK bukan hanya seorang muslim, tetapi ingin melihat kaum muslimin di negerinya, termasuk anak-anak IAIN, bangkit dan maju. Dan itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, sebab BK sudah punya perhatian yang serius kepada Islam sejak masa pembuangannya di Ende sampai ke pembuangannya di Bengkulu, tempat dia bertemu dengan Fatmawati, ibunda Megawati, putri  tokoh Muhammadiyah setempat. Jika di tanah misi dulu ditumpahkan dalam surat-suratnya kepada Ustad A. Hassan, pemimpin Persis di Bandung, sekarang dicurahkan ke dalam pelbagai karangan, yang antara lain dimuat majalah Pandji Islam dan koran Pemandangan. Selain itu, ia juga mengajar di SD Muhammadiyah setempat.

Dalam artikelnya ””Memudakan Pengertian Islam”  BK bicara soal perlunya pemikiran baru. Panta rei, segala hal berubah, ia mengutip Heraclitos. Pokok tidak berubah, agama tidak- berubah, tetapi pengertian-pengertian manusia tentang ini selalu berubah. Koreksi pemahaman selalu ada. Islam mandek berabad-abad, kata dia, karena ditutup-nya bab el ijtihad. Dan bisa berkembang kembali, katanya, dengan mengutip Farid Wajdi, hanya jika penganutnya menghormati  kemerdekaan roh, kemerdekaan akal, dan kemerdekaan pengetahuan.

Mungkin karena karangan-karangannya tenang Islam itu, di kemudian hari A. Dahlan Ranuwiharjo memberi predikat tambahan kepada BK: pemikir Islam, sebagaimana Moh. Natsir, Prof H.M. Rasjidi, atau Haji Agus Salim. Dahlan, yang mantan Ketua Umum  Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam dan disebut-sebut Megawati sebagai ”Islam nasionalis” itu, menyebut BK seorang teknolog, pejuang, politisi, pemikir, ideolog, filosof, budayawan, seniman, internasionalis, humanis, dan huisvader (bapak rumah tangga) yang baik. Mana yang paling tepat dari beberapa julukan yang diberikan ayah mantan peragawati Dhani Dahlan itu, silakan saja.Tapi tak hanya Dahlan Ranuwihardjo. Penilaian  Wajiz Anwar lebih dahsyat lagi. Bagi dosen filsafat IAIN Yogyakarta ini, seperti dikatakan Djohan Effendi dalam pengantarnya untuk buku catatan harian Ahmad Wahi, , BK adalah mujaddid (pembaru) Islam terbesar abad ke-20. Wahib sendiri, yang sampai akhir hayatnya adalah calon reporter Majalah Tempo, adalah salah satu aktor pembaruan pemikiran Islam se-angkatan Nurcholish Madjid.
Menurut almarhum Wajiz, alumni Gontor yang melanjutkan pelajarannya ke Mesir dan kemudian ”minggat” ke Jerman lantaran tidak puas, apa yang dilakukan BK tidak kalah dari upaya para pemikir muslim terdahulu. Sementara dulu mereka berhasil mengawinkan filsafat Yunani dan ajaran-ajaran Islam, Bung Karno berhasil mengawinkan Marxisme dan Islam

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda