Mutiara

13 Wasiat Tuan Guru Sekumpul

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Syekh Muhammad Zaini berdakwah melalui  lisan dan tulisan serta kekuatan spiritual. Mengapa dia kerap mengundang dokter-dokter spesial.

Acara haul  Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari alias Tuan  Guru Sekumpul, yang berlangsung di Mushalla Ar-Raudhah, Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, selalu berlangsung meriah. Dan dihadiri ratusan ribu jamaah. Bahkan tahun lalu   dipadati ratusan ribu jamaah, dari pelbagai penjuru Tanah Air, bahkan mancanegara.

Semasa hidupnya, Tuan Guru yang lahir pada 11 Februari 1942 dan wafat pada 2005, memang dikenal ulama kharismatis. Ia   pemimpin tarekat Samaniyah, mubalig, dan penulis kitab. Ia keturunan ke-8  ulama besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Tuan Guru Sekumpul merupakan perintis pembacaan Maulid Simtud-Durar atau yang biasa dikenal dengan sebutan Maulid Habsyi di Kalimantan.  Ia juga termasuk seorang pemimpin yang memperhatikan kesejahteraan jamaahnya. Pada waktu-waktu tertentu, ia mengundang dokter-dokter spesialis untuk memberikan penyuluhan kesehatan sebelum pengajian dimulai, seperti spesialis jantung, paru-paru, THT, mata, ginjal. penyakit dalam, dan penyakit menular. Selain kesehatan, ia juga sangat peduli dengan kebersihan. Ia juga tidak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk memberi konsumsi bagi para jamaahnya.

Tuan Guru Sekumpul adalah satu-satuya ulama di Indonesia yang diperbolehkan untuk membaiat Tarekat Sammaniyah. Oleh karena itu, banyak  jamaahnya yang datang dari luar Kalimantan, seperti Pulau Jawa dan luar negeri untuk mengambil baiat tersebut. Murid-murid yang mengikuti pengajiannya tidak kurang dari puluhan ribu orang yang datang dari berbagai penjuru daerah di Kalimantan Selatan dan sekitarnya. Ini terlihat dari majelis pengajiannya yang dikunjungi oleh puluhan ribu kaum muslimin pada setiap hari Kamis sore sampai malam Jum’at dan hari Ahad sore sampai malam Senin. Dalam pengajian pada hari-hari tersebut, jamaah yang datang berasal dari berbagai penjuru daerah Kalimantan Selatan. Adapun pada hari Sabtu pagi khusus disediakan untuk ibu-ibu kaum muslimat.

Selain  pandai dalam berdakwah secara lisan, ia juga piawai berdakwah melalui tulisan. Beberapa karyanya antara lain  Risālah Mubārakah, Manākib Asy-Syaikh Muhammad Samman al-Madanī, Ar-Risālah an-Nuraniyyah fī Syarh at-Tawassulāt as-Sammaniyyah, dan Nub ah min Manāqib al-Imām al-Masyhūr bil-Ustā  al-A‘sam Muhammad bin Ali Ba ‘Alwi.

Tuan Guru Sekumpul punya 13 wasiat untuk perbaikan umat di masa depan. Ketiga belas wasiat itu adalah : (1) selalu berpegang teguh kepada ajaran Allah Swt. dan Rasulullah, (2) menghormati serta menjunjung tinggi kedua orang tua serta para alim ulama, (3) berbaik sangka terhadap sesama muslim, (4) murah hati, (5) murah harta, (6) manis muka, (7) jangan menyakiti hati orang lain, (8) mudah memaafkan kesalahan orang lain, (9) jangan saling bermusuhan, (10) jangan tamak, (11) selalu yakin keselamatan itu kepada kebenaran, (12) jangan merasa lebih baik dari orang lain, dan (13) yang terakhir adalah jangan melayani orang yang dengki kepada kita, serahkan saja semua kepada Allah SWT.

Tuan Guru Sekumpul sering dikaitkan dengan cerita-cerita yang “menyimpang dari  kebiasaan” sebagai pertanda ia punya karomah. Misalnya, suatu ketika terjadi musim kemarau panjang yang membuat sumur-sumur warga masyarakat menjadi kering. Mereka kemudian memohon kepada Tuan Guru untuk berdoa meminta hujan. Ia  lalu mendekati sebatang pohon pisang, menggoyang-goyangkan pohon itu dan tak lama kemudian hujan pun turun. 

Dalam kesempatan lain, ia bercerita tentang buah rambutan kepada sejumlah muridnya. Sedang asik bercerita, tiba-tiba ia mengacungkan tangannya ke belakang, seolah-olah mengambil sesuatu. Eh, ternyata tangannya sudah menggenggam rambutan  matang. Paahal waktu itu tidak sedang musim rambutan. Ia juga dikabarkan bisa memperbanyak makanan. Misalnya  setelah dia makan sepiring sampai habis, tiba-tiba makanan di piring itu penuh lagi. Tuan Guru yang hafal Quran di usia 7 tahun ini juga mempunyai kemampuan menyembuhkan orang dari berbagai penyakit melalui  kekuatan spiritualnya.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda