Hamka

Memaknai Kemenangan

Written by Panji Masyarakat

Kita mesti menjadi seorang yang gagah perkasa, tetapi kita pun mesti menjadi seorang yang budiman, seorang yang panjang pikiran. Seorang budiman senantiasa mendengarkan suara nuraninya sendiri, suara yang senantiasa menyelinap di dalam hati sanubari.  

Kemenangan yang dicapai manusia, dalam usaha dan amal yang dikerjakannya, adalah sekadar ketinggian dari kecerdasan akal dan sopan santunnya. Oleh sebab itu, ketika terjadi perang, nama-nama ahli siasat dan diplomat lebih disebut orang daripada nama para panglima perang. Padahal, merekalah yang menumpahkan tenaga, kadang-kadang jiwanya, untuk kemenangan tanah air mereka. Memang mereka berkorban—dengan tenaga dan jiwa—tetapi diplomat berkorban dengan akal dan pikiran.  
Usai perang, setelah ditandatangani surat-surat perdamaian, para panglima perang kembali menjadi serdadu biasa, diikat oleh dinas dan disiplin. Maka, negeri-negeri yang telah kusut, yang telah menanggung rugi, diatur dan ditegakkan kembali oleh para ahli pikir. Itulah sebabnya Kemal Pasya disebut orang sebagai pahlawan besar, pahlawan pada waktu perang dan pada waktu damai. Padanya terkumpul kekuatan hati dan kegagahan seorang militer serta ketangkasan pikiran seorang diplomat.  

Kita mesti menjadi seorang yang gagah perkasa, tetapi kita pun mesti menjadi seorang yang budiman, seorang yang panjang pikiran. Seorang budiman senantiasa mendengarkan suara nuraninya sendiri, suara yang senantiasa menyelinap di dalam hati sanubari. Dia mengerti bila dia mesti menurutkan rasa marah, kapan dan di mana mengambil kesempatan. Maju saja ke medan perang dengan gagah, tetapi akal tumpul tumpul, bukanlah pekerti seorang yang gagah, tetapi kecerobohan yang biasa dilakukan oleh orang-orang  yang bodoh.  

Esa Hilang, Dua Terbilang 
Seorang yang berjiwa besar memandang lebih dahulu pada sasaran mana dia mesti berlawanan dan medan mana yang mesti berlawanan dan medan mana yang mesti dimasukinnya. Baginya bukan sembarang waktu menyentak pedang, bukan di sembarang waktu menghamburkan suara yang berisi ancaman karena ancaman itu tidak ada di dalam riwayat hidupnya. Apabila satu kali dia telah tampil ke muka, pulangnya hanya untuk dua perkara: “esa hilang, dua terbilang”. 

Memaafkan musuh yang telah menyerah dan mengaku adalah kesenangan orang budiman. Karena membalas dendam hanyalah pekerjaan yang telah terbiasa dari orang biasa. Jika dia masuk dengan kemenangan ke negeri orang lain, dia tidak menganggu penduduk sipil, yang sedikit pun tidak ikut dalam perjuangan. Dia tidak mau mengotori senjatanya. Salahuddin Al-Ayyubi oleh balatentara dan raja-raja Eropa, ketika Perang Salib, dianggap sebagai seorang ksatria. Ketika mendengar berita bahwa musuh besarnya, Raja Richard “hati singa”, sedang sakit, dia mengirim seorang tabib untuk mengobatinya sampai sembuh. 

Tidak ada perkara yang lebih hina bagi budiman daripada loba dan tamak. Tidak ada yang lebih mudarat baginya daripada perebutan pangkat dan pengaruh, apalagi setelah dipakai pula bujuk cumbu fitnah di sini, hasut di sana. Suatu bangsa tidak akan dapat memelihara kemuliaan dan martabatnya, tetapi dengan rasa kasih sayang; tahu dimana ia harus tegak. Orang harus insyaf bahwa kemenangan tidaklah tercapai bahwa semua orang menjadi general. Mesti ada yang menjadi serdadu, tukang masak, tukang musik, dan seterusnya. Insyaf akan kedudukan masing-masing adalah pangkal kemenangan. Kalau semua hendak jadi jendral, semua akan kalah. 
Bilamana kita saling berebut pengaruh, pangkat, kemasyhuran, dan lain-lain, akan timbul perpecahan. Ketika itu timbullah kemarahan yang tidak sepatutnya. Masyarakat umum diperkuda untuk melepaskan kebencian kepada musuh, padahal itu hanya musuh pribadi, bukan musuh negeri. 

Riwayat bangsa-bangsa telah menunjuk, pemaaf dan penyantun jua pangkal kemajuan dan kemenangan orang-orang ternama. Lantaran pemaafnya Socrates menjadi pemimpin pikiran baru di kalangan anak-anak muda negerinya. Dia disuruh minum racun sebagai hukuman sebab dia melanggar kebiasaan dan kepercayaan umum. Racun itu diminumnya seteguk demi seteguk dengan tenang. 

Namun, apakah hakim-hakim yang menghukumnya itu disebut sebagai pencipta paham filsafat? 

Muawiyah dapat merampas kursi khalifah dari tangan Ali Ibn Abi Thalib, padahal Ali lebih berhak dengan pangkat itu. Menurut penyelidikan para ahli, kemenangan Muawiyah karena sifatnya yang mulia, yang meskipun Ali mempunyai pula sifat lain yang mulia. Namun sifat yang sebuah itu padanya tidak setebal pada Muawiyah, yaitu sifat hilm alias pemaaf. Banyak orang yang dulu mencaci menghinakannya di depan muka atau di belakang, kemudian menjadi pembelanya. Sebabnya, jika dia dipukul orang dengan hinaan dibalasnya dengan emas diurutnya dadanya yang penuh dengan kemarahan dan dilahirkannya senyuman. Pepatah Muawiyah, “Meskipun rambut yang menghubungkan daku dengan umat rambut itu tidak akan putus. Sebab, bila umat keras rambutku kendorkan dan jika mereka lunak, waktu itulah aku helakan”. Suatu hari, Amr ibn Ash bertanya kepada Muawiyah, “Saya heran melihat Anda, Amirul Mukminin, pengecutkah engkau atau berani?” 

Menjawab Muawiyah, “Berani, apabila kesempatan mengizinkan. Jika tidak terbuka kesempatan saya pun pengecut.*** 

Penulis: Prof. Dr. Abdulmalik Karim Amrullah (Hamka); Sumber: Panji Masyarakat, 16 Februari 1998 

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda