Cakrawala

Monas dan Potensi Reuni Akbar 212

Peserta Reuni 212 di Monas Jakarta 2 Desember 2019
Ditulis oleh Musa Maliki

Fenomena Reuni Akbar 212 adalah momen penting bagi beberapa umat Islam Indonesia, khususnya mereka yang datang ke Monas Jakarta. Sejak Senin pagi hari (12/2/2019), media-media nasional mulai memberitakannya dengan membingkainya dengan istilah “Reuni Akbar 212” (212 Reunion Rally Participants), bukan membingkainya dengan istilah peyoratif “Islam konservatif”, “Islam ektrim”, “Islam garis keras” atau “Islam protes”. Bisa jadi klimaks dari ketakutan (insecure) dan kegelisahan (angst) atas kelompok orang-orang reuni tersebut berkurang atau bahkan hilang atau mengalami normalisasi.

Kurang lebih ada tiga agenda penting dari Reuni ini: peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, pengembalian Rizieq Shihab dari Arab Saudi, dan doa keselamatan untuk negeri ini. Agenda ini bisa saja ditafsirkan secara politik seperti biasa. Di Indonesia, khususnya di Jakarta, sebenarnya berita apapun bisa dipolitisir dan massa sebanyak itu tentunya ada saja yang pasti memiliki agenda politik tertentu. Jadi memang sangat beragam kepentingan, karena memang kelas dan level cara berpikirnya pun beragam.

Namun, agenda utama seperti ini bisa atau boleh juga ditafsirkan sebagai non-politik, karena memang sebagian besar dari massa yang datang kurang paham politik atau tidak peduli tentang ilmu politik (bukan politik praktis). Mereka hanyalah beberapa orang yang mendaku Islam di Indonesia yang sedang mencurahkan perasaan keberagamaan mereka. Mereka juga meluapkan jiwa dan kegelisahan mereka di ruang publik sebagai merasa memiliki Islam (tentunya versi mereka). Mereka juga bernostalgia bersama sejarah Islam yang tentunya dalam dimensi pikiran mereka saja. Apa yang kita saksikan di Reuni Akbar 212 adalah salah satu bentuk keberagamaan sekelompok orang Islam yang setidaknya dalam batas tafsir keberagamaan mereka. Tafsir keberagamaan mereka boleh saja ditafsirkan macam-macam oleh kelompok di luar mereka, termasuk katanya ada agenda politik. Namun, mereka juga punya hak atas tafsirnya sendiri dan tidak ada orang lain yang mempunyai otoritas untuk menghakimi cara beragama mereka. Begitulah demokrasi di Indonesia.

Fenomena ini sangat luar biasa, karena mereka secara konsisten dari sejak 2-12-2016 sampai sekarang menjalankan proses ini secara ‘berjilid-jilid’ dan damai. Walaupun kelompok yang mengklaim Muslim Moderat mengklaim mereka sebagai kelompok Islam intoleran dan mengkhawatirkan, gelombang kelompok ini tetap konsisten meramaikan Monas. Kebebasan untuk menafsirkan dan berekspresi adalah wujud dari demokrasi Indonesia di ruang publik.

Dulu berita luar negeri membingkai mereka sebagai kelompok protes atau Islam konservatif, bahkan mungkin sampai sekarang. Ada akademisi yang membingkainya dengan kembalinya kelompok Konservatif Indonesia atau Islam Indonesia mengalami belokan ke kelompok Islam Konservatif. Ada pula sarjana Islam yang membingkainya sebagai opositition Islam vs. official Islam (NU, Muhammadiyah, dan Persis).

Namun kolompok Islam pengikut Reuni 212 yang konon masih berjuta-juta jumlahnya tetap bangga dan mengikuti acara hari ini dengan bangga, nikmat, hikmat, dan bahagia. Luar biasa, karena mereka mulai dari sholat tahajud sekitar jam 3 pagi di lapangan Monas. Mereka itu ada ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, anak-anak, dan para pejabat, gubernur, politisi, dan guru, pengusaha, beragam kelasnya. Luar biasa, karena ada yang berkuda (sumbawa) membawa bendera yang katanya bendera Tauhid baik yang warna hitam maupun yang warna putih. Ada pula bendera Palestina yang dikibar-kibarkan sebagai simbol tentunya, Islam yang tertindas oleh bangsa Israel (masa bodoh dengan pikiran yang lainnya: terlalu kompleks). Luar biasa, karena ghirah (energi Islam) mereka begitu kuat dan membara demi kecintaan yang mereka memang pahami. Keunikan-keunikan ini sebenarnya sudah sejak lama muncul ketika ada klaim bahwa Gerakan 212 adalah “Tamasya al Maidah”.

Setelah acara selesai, mereka membubarkan diri dengan damai, gembira, dan meninggalkan lingkungan yang relatif bersih dengan pujian bermunculan, khususnya dari kepolisian. Fenomena ini bukanlah protes atau demonstrasi yang ditakuti, tapi karnaval, rekreasi, hiburan, atau wisata religi yang memaknai ulang arti Monas. Menurut Gubernur Jakarta, Reuni ini membawa pesan damai, aman, dan meneduhkan serta menampilkan cerminan persatuan Indonesia. Tagar Reuni 212 ini pun sampai memadati trending topic. Reuni Akbar 212 ini bisa dipahami sebagai religious tourism dalam dimensi ekonomi budaya.

Fenomena ini sangat berbeda dengan demonstrasi Timur Tengah, Arab Spring atau demonstrasi yang tak berkesudahan di Hong Kong. Fenomena wisata religi Monas ini penting untuk disikapi positif dan optimis atas dasar potensi wisatanya. Apakah ada wisata religi yang seunik Reuni 212? Jika dibuatkan brosur dan agenda rekreasi, para turis asing pun bisa tertarik untuk merasakan menjadi bagian dari umat Islam ini. Saya kira menjadi penting untuk komodifikasi Reuni Akbar 212.

Brosur paket wisata religi semacam ini perlu direspon secara positif. Di negara demokrasi manapun, ekspresi partisipasi politik semacam ini sangat langka. Bayangkan saja hal ini terjadi minimal setahun sekali, maka acara ini bisa melampuai daya tariknya dari acara tahunan Grebeg Maulid Nabi Muhammad SAW di Jogyakarta atau acara religi di Bali. Saya kira Monas Jakarta sangat potensial untuk wisata religi ala “Islam Monas”.

Hal ini tentunya akan menggerakkan perekonomian kerakyatan, sebab akan terjadi perputaran ekonomi mikro yang justru lebih real (nyata) daripada ekonomi di pasar saham atau dunia virtual. Hal itu didukung pula oleh Gubernur Jakarta yang sedang melebarkan trotoar di sebagian besar ruas Jakarta. Fasilitas ini akan memudahkan rakyat kecil yang berjualan bahan pokok dan pakaian demi kesejahteraan mereka. Jadi dengan adanya event Reuni Akbar 212 yang terus dijadualkan dengan rapi dan konsisten, maka ekosistem ekonomi kerakyatan Jakarta akan berkembang.

Tentunya hal tersebut perlu kerjasama dengan berbagai pihak, misalnya Pemda Jakarta, Kementerian Pariwisata, Kementerian PU, dan Kementerian Agama. Monas Jakarta pun akhirnya bisa dibuat tujuan wisata religi yang berbobot dan pastinya halal (Syariah). Monas, walaupun bersumber dari simbol-simbol ajaran agama pre-Islam, tapi mengalami reinterpreatasi secara mendalam sebagai simbol ghirah umat Islam dan gerakan moral dalam bahasanya Homi Bhaha (1994) dinamai “hybridity” atau dalam bahasanya Victor Turner (1967) dinamai “Liminality”.

Oleh sebab itu, paket potensi festival Islam nostalgia (masa lalu) dalam bentuk Reuni Akbar 212, sedikit bumbu orasi warga negara, kemasan Monas yang modern, dan pergerakan ekonomi mikro, saya sangat positif untuk diwujudkan. Potensi pariwisatanya besar. Apalagi dibuat semacam festival pakaian yang tidak kalah bagusnya dengan festival misalnya Harajuku atau Cosplay nya Jepang. Tentunya harus ada kerjasama antara pemerintah, penguasha, dan masyarakat yang terlibat. Singkat kata, Reuni Akbar 212 perlu kita apresiasi, bukan ditakuti atau dinyinyiri.

Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta; Kandidat Doktoral Charles Darwin University, Australia; Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan.

Tentang Penulis

Musa Maliki

Tinggalkan Komentar Anda