Tafsir

Setan diantara Bintang-Bintang (Bagian 1)

Written by Panji Masyarakat

Allah menciptakan bintang- bintang dengan tiga fungsi: sebagai hiasan langit, sebagai pelontar setan, sebagai petunjuk orang-orang di daratan dan lautan. – Qatadah r.a

A’udzu billahi minasy syaithanir rajim

Aku berlindung kepada allah dari setan yang terkutuk

“Yang terkutuk”,  maupun “yang terusir”, sebagai sifat-sifat setan, sebenarnya terjemahan yang lebih jauh untuk kata rajiim. Terjemah yang lebih dekat adalah “yang dilempari” (dan sebagai istilah hukum kita mengenal hukum rajam, rajm, seperti di dalam Taurat maupun hadis, yang artinya vonis lemparan dengan batu). Sumber untuk rajiim dalam pengertian “yang dilempari” ini adalah Q.67:5: “Sudah kami hiasi langit terdekat lentera-lentera, dan kami jadikan dia lemparan terhadap setan.” “Lemparan” di situ di berikan dengan kata rujuum, jamak rajm. Jadi, daerah asal mula “setan yang dirajam” ada di langit, di antara bintang- bintang.

Setan-setan itu dirajam, dengan tahi bintang, setiap kali berusaha mendekat ke langit untuk mendengar- dengarkan pembicaraan para malaikat yang berhubungan dengan nasib manusia dan masa depan. Kadang-kadang ada usaha setan yang berhasil, sedikit, dan itulah yang mereka berikan  kepada para dukun. Tapi, dalam garis besarnya, sesudah kelahiran Nabi Isa, dan kemudian lebih-lebih Nabi Muhammad (demikian menurut satu hadis Ibn ‘Abbas r.a), mendekati langit untuk mendengar-dengarkan kabar gaib sudah hampir- hampir mustahil: langit telah di kawal demikian ketat. Berikut ini ayat- ayat Alquran yang menggambarkan “pemandangan” itu:

(1) Dan sudah kami buat di langit gugus-gugus bintang, kami hiasi semuanya untuk siapa yang memandang. Dan kami pelihara dari tiap-tiap setan yang dirajam. Kecuali yang mencuri-curi pendengaran lalu dikejar semburan api yang benderang ( Q.15:16-18).

(2) Kami sudah menghias langit terdekat dengan hiasan bintang gemintang. Dan penjaga dari setiap setan pembangkang. Tidak dapat mereka mendengar-dengarkan kalangan yang paling tinggi: mereka dilontar dari segenap sisi. Diusir. Dan bagi mereka azab abadi. Kecuali yang menyambar satu sambaran dan segera di kejar suluh cemerlang (Q.37:6-10).  

(3) Dan sudah kami hiasi langit terdekat denga lentera- lentera, dan kami jadikan dia lemparan terhadap setan ( Q. 67:5).

(4) “Dan sesungguhnya kami telah meraba langit, maka mendapatinya penuh penjagaan yang dahsyat dan panah–panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu duduk di sana di beberapa posisi untuk mendengar. Tetapi siapa mendengar-dengarkan sekarang ini akan mendapati untuk dian panah api yang mengawasi (Q.72:8-9).

Tidak mengherankan bila Sahabat Qatadah r.a.menyimpulkan, “Allah menciptakan bintang- bintang untuk tiga fungsi: sebagai hiasan langit, sebagai pelempar setan, dan sebagai tanda yang di jadikan petunjuk di daratan dan lautan”(Tafsirul Maraghi, X:149).

Tetapi itu, sekarang ini, sering tampak sebagai hanya cerminan alam pikiran lebih dari seribu tahun yang lewat. Adapun sekarang, masih tetapkah  para mufasir Quran memandang ayat-ayat di atas dengan persepsi kosmologis seperti itu?

Penafsiran Rasional Simbolis

Tidak semuanya. Dan di antara para penulis tafsir abad ke–20 Masehi, yang paling radikal barangkali Maulana Muhammad Ali (The Holy Qur’an, Lahore, cetakan pertama1917). Ialah yang pertama menganggap empat kelompok ayat di atas sepenuhnya simbolis. Setidak- tidaknya, ia “menggeserkan lokasi” ayat-ayat itu dari posisi langit, sebagai gambaran bintang- bintang dan setan-setan, ke posisi bumi,  sebagai lukisan “para juru tenung dan tukang ramaL” yang merupakan musuh-musuh Nabi s.a.w.

Yang dimaksudkan dengan “setan- setan” itu, kata Muhammad Ali, ya dukun-dukun itu. Tidak ada setan yang melayang-layangn di langit dan sebagainya. Memang disebutkan, di dalam ayat, langit dan bintang-bintang sebagi hiasan. Tapi itu sebenarnya hanya menunjuk kepada takhayul populer bahwa para tukang tenung dan tukang ramal memperoleh pengetahuan mereka tentang masa depan dari bintang-bintang — yang kemudian akan disangkal Quran.

Dengan kata lain,  Quran hanya memanfaatkan alam pikiran lama itu sebagai sekadar cara pengucapan atau gambaran. Bukan maksud Kitab Suci uini untuk menyatakan bahwa langit benar- benar langit seperti menurut kepercayaan mereka itu. “Meraba langit”, misalnya, dalam ayat kelompok (4), sebenarnya berarti “mempelajari rahasia- rahasia langit”, alias yang gaib —  bukan menyentuh sebuah atap.

Dan rahasia- rahasia gaib itu memang ada. Sebab memang ada “kalangan yang paling tinggi” seperti disebut dalam ayat kelompok (2), yang berarti malaikat. Nah, dukun-dukun itu mengaku punya hubungan dengan “kalangan atas” itu,  padahal sebenarnya dukun-dukun itu orang-orang terusir dari hadirat Allah dan dari sumber kesucian. Bahwa kaum ramal- meramal itu “diikuti semburan api yang benderang “ (ayat 15:18), atau “dikejar suluh yang cemerlang “ (ayat 37:10), itu hanya ungkapan-ungkapan (simbolis) untuk menunjukkan usaha mereka yang sia-sia. Bagaimana bisa?

Bisa.  Sebab Muhammad Ali juga menerjemahkan rujuman lisy syayathin, yang secara tradisional disalin sebagai “lemparan terhadap setan”, dalam ayat kelompok (3), menjadi “bahan-bahan ramalan buat setan- setan” — alias para astrolog. Ali memang memanfaatkan salah satu pengertian rajim yang dituliskan Ibnul Atsir dalam An-Nihayah, yakni “ramalan-ramalan yang tidak difirmankan  Allah.”

Selain itu Ali mengangkut salah satu alternatif makna dalam klasik Baidhawi (w. 768 H.) untuk kalimat ‘Wa ja’alnaha rujuman lisy syayathi, ayat kelompok (3), dengan mengatakan: Wa’qila ( konon pula), maknanya ialah ‘kami jadikan bintang- bintang itu bahan ramalan dan duga-dugaan bagi setan- setan manusia, yakni para ahli nujum’.” (Abu Sa’id al- Baidhawi, Anwarut tanzil wa Asrarut Ta’ Wil, v:140). (Lih. Muhammad Ali, 510,853,1081-1082, 1107).

Tetapi, tetap ada yang tidak terjelaskan dalam tafsiran di atas itu. Yakni pengakuan para jin dalam ayat- ayat kelompok (4) : “Dan sesungguhnya kami dahulu duduk di sana di beberapa posisi untuk mendengar. Tetapi siapa mendengar – dengarkan sekaranng ini…”(Q.72:9). Ini berita sederhana tantang “perubahan situasi langit” setelah kelahiran Muhammad s.a.w – dengan gaya bertutur, dan bukan bentuk yang mungkin dipahami sebagai simbolis. Kecuali kalau seluruh penuturan itu pun akan dianggap sebagai hanya “cara memberi pelajaran”, alias tidak pernah terjadi.

Dan kelihatannya memang begitu. Masalahnya karena Muhammad Ali juga menafsirkan jin yang di situ, dan di seluruh surah yang memang bernama surah jin, sebagai bukan jin, melainkan, percaya atau tidak, orang-orang kristen —  “are evidently Chistians, as v. 3 shows (jelas sekali orang-orang kristiani, sebagaimana ayat 3 menunjukkan hal itu.)” Dan ayat 3 surah ini berbunyi, ”Dan bahwasannya mengambil seorang istri maupun putra.“  Dengan dasar pikiran tentang arti jinn yang bermacam- macam (dengan eksploitasi facKor semantik maupun perbendaharaan makna, juga klaupun makna itu tidak populer di masa generasi pertama Islam ), tafsiran di atas itu merupakan pasangna tafsirannya untuk Q. 46:29-30:

“Dan ketika kami hadapkan kepadamu sekelompok jin mendengarkan Quran…maka ketika usai ..mereka berkata, ‘Wahai kaum kamin, kami sudah mendengar sebuah kitab yang diturunkan sesudah musa, yang mengklarifikasi apa yang ada sebelum dia…’“ Menurut Muhammad Ali, “Ini (menyebutkan nama Musa) menunjukkan bahwa mereka itu orang- orang yahudi.” (Ali, 1107).

Tapi justru karena jin dalam surah Jin itu ditafsirkan sebagi orang- orang nasrani, menjadi sulitlah pemahaman ayat kelompok (4) tantang “meraba “, “duduk-duduk di langit” dan seterusnya itu, hal yang secara jelasnya tidak diterangkan mufasir  ini.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panjimas, Juli 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda