Tafsir

Perenungan dalam Keindahan (Bagian akhir)

Written by Panji Masyarakat

Bila Alquran adalah hudan, petunjuk, maka ia bukanlah kitab ini dan kitab itu, bukan pegangan ilmu ini dan ilmu itu. Tetapi ia selalu bersifat membangkitkan, ke arah kesempurnaan iman 3w we ketinggian ilmu.

Terakhir, ayat- ayat ini menjadi lebih kompleks karena juga memantulkan latar belakang persepsi zaman turunnya tentang semesta – khususnya dengan menyebut “langit tanpa tiang”, tentunya merupakan penjelasan “tanpa tiang” itu. Tetapi, aneh, memang, ia juga pernah dipahami sebagai penjelasan “tiang” itu sendiri — menjadi  “ tanpa tiang — seperti- yang- kalian –lihat”. Begitulah konon pengiraaan banyak musafir masa-masa awal –- bahwa sebenarnya ada ”tiang yang tidak kalian lihat” (Al-Qasimi, ibid. 323). Ini memang satu contoh bagaimana ayat-ayat Quran yang berhubungan dengan ilmu-ilmu alam,seperti dikatakan Maurice Bucaille( La Bible, Ie Coran et Ia Science) ditafsirkan secara keliru, sejalan dengan keterbatasan pengetahuan waktu itu.

Ibn Katsir (w. 774 H. ), misalnya, menuturkan riwayat tentang para sahabat Nabi —  di antaranya Ibn ‘Abbas, Mujahid , Al –Hasan ibn Ali, Qatadah, r.a. — yang menganggap langit  “sebenarnya mempunyai tiang, tapi tak bisa dilihat “. Sebaliknya Ias ibn Mu’awiah, tapi konon juga Qatadah lagi, mengatakan,”Langit di atas bumi itu seperti kubah, tanpa tiang” (meski itu berarti ada kaki- kaki kubah, entah di mana). Ibn Katsir sendiri, 150-an  tahun setelah zaman para sahabat, memilih “benar-benar tanpa tiang “ dan ini menurut dia “lebih cocok dengan konteks kalimat “. Ia mengingatkan kita kepada ayat lain: “Ia (Allah) menahan langit agar tidak jatuh menimpa bumi kecuali dengan izin-Nya “ (Q. 22:65). Berarti, tanpa tiang. Atas dasar itu ia menganggap ungkapan “ seperti tang kalian lihat” sebagai peneguh ketiadaan tiang ( Ibn Katsir, Tafsirul Quranil ‘Azhim, I:498).

Tetapi cukup banyak ayat yang bisa dianggap memantulkan persepsi zaman seperti itu. Ungkapan “membentang bumi” sendiri, dalam ayat tahap keempat ini, oleh umumnya musafir lama dipahami sebagai mengajarkan bahwa bumi dataran yang rata, bukan sebuah bulatan. Sementara, seperti dikatakan Al- Qasimi, mufasi abad ke-20, kebulatan bumi itu kita tetapkan “ dari dalil- dalil akal” (Al-Qasimi,326).

Misalnya, kalau dari ayat “Tuhan dua timur dan Tuhan dua barat” (Q. 55:17) tidak hanya akan ditarik kesimpulan, seperti dilakukan umumnya mufasir, bahwa ada dua tempat terbit matahari di timur, untuk musim dingin dan musim panas, dan demikian juga tempat tenggelamnya di barat, tapi juga bahwa sebenarnya memang ada dua timur dan dua barat  (Indonesia disebut negeri timur, tapi Eropa juga akan kita jumpai bila kita pergi ke timur; demikian juga tentang barat), maka bumi memang bulat. Apalagi kalau kita lihat ungkapan ayat seperti “ Segala sesuatu ada di orbit, berenang” (Q.36:40). Itu lukisan tentang kosmos. Demikian contoh- contoh untuk Qasimi.

Tapi, sebenarnya, apa salahnya dengan ungkapan-ungkapan “membentangkan bumi” atau kita tambahkan, “Dan kami jadikan langit atap yang terpelihara” (Q. 21:32)? Kita sendiri, di luar Alquran menyebut “bumi terbentang, langit terkembang”, atau “ beralaskan bumi beratapkan langit”, dan yang seperti itu. Bukan salah Alquran, tentu saja, bila para mufasir kuno mengiranya sebagai pemberian pengetahuan eksak tentang alam — seperti semua orang waktu itu mempersepsikan alam secara begitu — lebih dari sebagai pernyataan wahyu yang menumbuhkan dirinya di dalam sastra, hal yang mereka sendiri menyakininya.

Tapi yang sebenarnya terjadi ialah, sebagaimana segala ciptaan allah di alam raya, juga ayat-ayat Alquran tidak luput dari ciri yang sebuah ini: berpasang-pasangan. Ada ayat-ayat muhkam (menjadi sumber hukum, di atau induk, atau parameter), ada yang mutasyabih (samar, menerima banyak tafsiran). Ada yang memantulkan “kekerasan” Tuhan, ada yang justru kelembutannya. Ada yang menyarankan kebebasan manusia, ada yang justru keterbatasannya. Dan seterusnya. Dan dalam hal ayat-ayat kealaman: ada yang bergerak pada dataran persepsi umum, tapi ada pula yang mengimplikasikan kandungan keilmuan modern, termasuk yang, sepanjang menurut Bucaille, “masih merupakan misteri.”

Semua ayat yang kita bicarakan ini, yang hanya menurut persepsi kita sendiri kita bagi tahap demi tahap, masih termasuk golongan pertama. Belum ada yang, misalnya, bicara tentang materi pengetahuan kealaman, meskipun harus kita tekankan bahwa ayat-ayat yang bisa didekati dengan sudut pandang seperti itu bukan kemudian lebih penting dari yang lain. Bila Alquran adalah hudan, petunjuk, maka ia bukanlah kitab ini dan kitab itu, bukan pegangan ilmu ini dan ilmu itu. Tetapi ia selalu bersifat membangkitkan. Yakni memberikan asungan besar, baik untuk perengkuhan keimanan yang lebih sempurna, di dalam penghayatan kemahabesaran Allah yang merambah segala-galanya, maupun ke arah ketinggian ilmu. Wallahu Akbar.***  

Penulis: Syu’bah Asa (Sumber: Panjimas, Agustus 2003)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda