Tasawuf

Gundul-Gundul Pacul, Tembang Jenaka Penuh Makna

Written by B.Wiwoho

Dalam Bab Islam di Mata Masyarakat, digambarkan betapa kurang baiknya citra Islam di mata anak-anak priyayi Jawa, termasuk penulis, pada periode tahun 1950-an. Kami merindukan para kyai  bisa ramah, bermain dan bercanda dengan kami anak-anak kecil, seperti halnya para pendeta Kristen dan romo pastor Katolik bermain gembira dengan anak-anak dalam “Sekolah Minggu”. Padahal sementara itu kami sering bermain sambil bernyanyi atau nembang lagu-lagu dolanan, yaitu lagu permainan anak-anak yang konon merupakan ciptaan Walisongo.

Berbeda dengan kenyataan yang penulis alami semasa kecil, tembang dolanan mengisyaratkan bahwa para wali yang menciptakannya, amat peduli terhadap anak-anak. Sedangkan suluk-suluk tembang macapat dengan orkestra gamelan Jawanya yang meditatif-kontemplatif, tak kalah dari musik klasik,  mencerminkan Walisongo yang menciptakannya juga memiliki jiwa nan lembut serta kemampuan dan selera seni-budaya yang tinggi. Sungguh sulit membayangkan betapa luar biasa kemampuan para ulama-ulama awal tersebut, dengan melihat karya-karya peninggalannya yang masih eksis bahkan berkembang sampai sekarang. Demikian pula keberhasilannya mengislamkan penduduk pulau Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, sehingga kini menjadi negara berpenduduk Islam terbesar di dunia. Pasti, mereka memperoleh anugerah hidayah dan kunci-kucil pembuka perbendaharaan ilmu.

Jika Sunan Bonang (lihat berbagai tulisan sebelumnya tentang Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, khususnya Memahami Suluk-Suluk Sunan Bonang), mengarang tembang-tembang suluk yang serius dengan kandungan tasawuf yang kental, Sunan Giri yang justru termasuk “Islam Putihan”, mengarang berbagai tembang dolanan yang jenaka dan riang gembira. Sedangkan Sunan Kalijaga membuat keduanya, suluk yang serius meditatif-kontemplatif maupun yang gembira pengobar semangat. Meskipun tembang dolanan, tetap saja suluk tersebut penuh dengan kandungan dakwah dan filosofi yang tinggi.

Salah satu tembang dolanan yang populer di masyarakat adalah Gundul-Gundul Pacul.

Gundul-gundul pacul-cul, gembelengan

Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan

Wakul ngglempang segane dadi sak ratan

Wakul ngglempang segane dadi sak rattan

Teks versi lain yang sedikit berbeda yaitu:

Gundul-gundul pacul-cul, gelelengan

Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gelelengan

Wakul ngglempang segane dadi sak latar

Wakul ngglempang segane dadi sak latar.

Perbedaan ada di kata gelelengan (baris pertama) dan gembelengan, namun keduanya memiliki arti yang sama. Perbedaan yang lain adalah kata ratan dengan latar. Ratan berarti jalan atau jalanan, sedangkan latar berarti halaman rumah. Tapi ternyata susah juga menterjemahkan syair tembang tersebut, kecuali diartikan lebih dulu kata per kata sebagai berikut: 

–    gundul = kepala yang tidak ada rambutnya sama sekali, biasanya karena dicukur habis.       

–      pacul = cangkul.

–      gelelengan, gembelengan = sikap atau cara berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, menandakan kesombongan.

–      nyunggi = membawasesuatu dengan menaruhnya di atas kepala.

–      wakul = bakul atau tempat nasi.

–      ngglempang = terguling.

–      segane dadi sak ratan/latar = nasinya tumpah tersebar memenuhi jalanan/halaman rumah.

Dengan begitu bisa digambarkan, seseorang yang berkepala gundul tanpa rambut, membawa cangkul dan menyunggi bakul nasi di atas kepalanya, berjalan gembelengan. Akibatnya bakulnya tumpah dan nasinya tersebar mubazir memenuhi jalan. Apa makna dari itu semua? Ada dua hal yang perlu kita lihat terlebih dulu sebelum mengupas kandungan maknanya.

Pertama, sang pencipta yaitu Sunan Kalijaga, adalah putera Adipati Tuban yang kecewa dengan kehidupan  feodal kerajaan Majapahit pada masa itu yang tidak lagi amanah bahkan cenderung menindas rakyat. Para punggawa kerajaan termasuk di lingkungan kadipaten Tuban dianggapnya congkak serta tidak peduli dengan kesulitan hidup rakyat kecil. Karena itu jiwanya berontak dan sering melakukan tindakan yang berlawanan dengan ayahanda dan para punggawanya, sampai kemudian ia berjumpa dan berguru kepada Sunan Bonang.

Kedua, pada saat yang bersamaan, Sunan Kalijaga juga menggubah sendiri dan selanjutnya menyisipkan dalam cerita wayang Mahabarata, kisah jamus kalimasada (dua kalimat syahadat) yang merupakan senjata paling ampuh, hebat tiada tara yang dimiliki oleh Raja Kerajaan Amarta – Prabu Puntadewa. Uniknya, Prabu Puntadewa ini adalah satu-satunya raja yang tidak memakai mahkota serta perlengkapan pakaian kebesaran lainnya yang lazim dikenakan oleh seorang raja. Ia hidup dan berpenampilan sederhana sebagaimana seorang ksatria biasa dengan rambut digelung di atas kepalanya. Muka dan kepalanya pun dilukiskan menunduk sebagai cerminan kerendahan hati. Kecuali pernah melakukan kesalahan dengan berjudi mempertaruhkan kerajaannya sampai kalah dan terusir terlunta-lunta, kehidupan selebihnya suci bersih. Demikian pula hatinya, selalu ikhlas, jujur dan tidak pernah berbohong sehingga karena itu darahnya dikisahkan berwarna putih.

Puntadewa adalah contoh pemimpin yang sudah dan harus mencapai maqam seorang hamba Allah yang hidup sederhana, amanah, jujur, rendah hati, tidak ujub – riya, ikhlas, taat dan tawakal.

Dua hal tersebut nampaknya ada hubungannya dengan makna ajaran yang terkandung dalam tembang Gundul-Gundul Pacul, yaitu seorang pemimpin yang ideal adalah pemimpin tanpa mahkota, ibarat kepala gundul tanpa rambut. Pemimpin yang tak peduli dengan pesona dunia demi mengemban amanah bagi alam dan kehidupan rakyatnya, yang dilambangkan dengan pacul sebagai alat pertanian,  serta kesejahteraan rakyatnya yang dilambangkan dengan bakul berisi nasi.

Pemimpin tidak boleh gembelengan, besar kepala – congkak lagi sombong. Karena kesombongan itu bagaikan mengambil selendang kebesaran Gusti Allah. Jika itu dilakukan, maka hilanglah keberkahan yang menaungi amanah kepemimpinan, sehingga   bakul terguling dan hakekat kesejahteraan tumpah tak berguna bagi rakyat. Mau bagaimana lagi jika nasi sudah tumpah tersebar di jalanan?

Di samping melambangkan rakyat kecil, pacul juga merupakan akronim dari papat kang ucul atau empat hal yang terlepas. Empat hal itu merupakan kunci utama untuk mencapai derajat ketaqwaan, oleh sebab itu harus dikendalikan dan tidak boleh lepas atau ucul. Ini sesuai dengan ajaran Al Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin (Menuju Mukmin Sejati).  Menurut beliau, guna mencapai maqam ini, kita harus menghayati serta mengamalkan tiga hal yaitu takut dengan sebenar-benarnya takut kepada Allah, bakti dan tunduk kepadaNya serta membersihkan hati dari segala dosa. Ketiganya itu bisa kita capai asalkan kita bisa menahan diri dari mengerjakan yang haram, dan juga bisa menahan diri dari mengerjakan perbuatan ataupun menikmati sesuatu yang halal secara berlebihan. Secara tegas Al Ghazali menyatakan, meskipun halal tetapi jika berlebihan, pada hakikatnya adalah haram.

Bagaimana bisa melakukan itu? Sang Pembela Akidah Islam ini mengajarkan agar kita memelihara dan mengendalikan: (1) mata, (2) telinga. (3) mulut dengan lidahnya, (4) hati, (5) perut, dan (6) anggota-anggota tubuh lainnya. Dari enam hal itu yang paling menentukan adalah 5 yang pertama. Namun oleh sebagian ulama, mata dan telinga dianggap sebagai satu kesatuan, terutama jika menyangkut kepemimpinan, sebagaimana surat Al Anfaal ayat 22 yang menyatakan, “Sesungguhnya seburuk-buruk binatang yang melata pada sisi Allah, ialah orang yang pekak dan bisu (tentang kebenaran), mereka tidak mengerti”. Jika mata dan telinga dihitung sebagai kesatuan maka empat hal yang tidak boleh lepas liar tanpa kendali adalah (1) mata dan telinga, (2) mulut dengan lidahnya, (3) perut, (4) hati.

Mata, demikian Al Ghazali, adalah pangkal dari fitnah. Pandangan mata akan mempengaruhi hati. Karena itu pula Sayidina Ali berkata, “Orang yang tidak menguasai matanya, maka hatinya tidak ada harganya”. Demikian juga telinga, berguna untuk mendengarkan pembicaraan dalam kebaikan atau sebaliknya. Pengaruh pendengaran terhadap hati, bisa lebih buruk dari pengaruh makanan terhadap perut.

Mengenai mulut dengan lidahnya, adalah anggota tubuh yang paling binal lagi nakal, yang paling banyak menimbulkan keonaran dan kerusakan, sampai-sampai ulama Malik bin Dinar berpesan, “Jika engkau melihat hatimu membatu, badanmu lemah, rejekimu terhalang maka itu disebabkan oleh ucapanmu yang tidak karuan.

Akan halnya perut, adalah salah satu anggota yang paling payah diperbaiki, paling banyak ongkos dan bimbangnya serta paling besar mudharat dan pengaruhnya. Dari perut bergolak segala tenaga yang timbul pada anggota tubuh lainnya seperti kekuatan dan kelemahan, ketelitian dan kecerobohan. Makanan yang masuk ke perut merupakan benih amal, sedangkan minuman menjadi air yang menyirami benih amal. Makanan yang baik, akan menjadi benih yang baik, yang jika disiram dengan air yang baik akan tumbuh serta berbuah menjadi pohon dengan buah amalnya. Demikian pula sebaliknya.

Tentang hati, adalah yang paling besar bahayanya, paling kuat pengaruhnya, paling lembut urusannya, paling payah memperbaikinya dan paling ruwet ihwalnya. Maka sebagaimana hadis yang sangat populer, “Sesungguhnya dalam jasad manusia  ada segumpal darah yang bila keadaannya baik, maka baik pula seluruh anggotanya. Namun bila rusak, rusak pula seluruh anggota badannya. Gumpalan itu adalah hati”. Karena itu Al Ghazali menasehati, kita harus menjaga hati yang merupakan pokok dari kehidupan manusia. “Kalau engkau merusak hati, maka seluruhnya akan rusak. Dan kalau engkau memperbaiki hati, maka seluruhnya akan baik. Sebab hati itu ibarat pohon. Sedangkan anggota tubuh lainnya hanya bagaikan dahan, cabang dan ranting”.

Selanjutnya ia mengajak kita meneladani kebiasaan para wali yang bisa disayang Allah setelah menjalani empat hal yakni (1) membiasakan perut lapar dengan berpuasa, (2) mengendalikan mulut dengan membiasakan berdiam diri tidak banyak omong, (3) menyendiri dari pergaulan yang tidak karuan dan (4) menahan mata mengurangi tidur malam untuk beribadah.

Itulah Sahabatku, pemahaman dan makna filosofis dari tembang dolanan Gundul – Gundul Pacul, yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga. Sungguh saya merindukan suasana masa kecil, tatkala bermain bersama kawan-kawan dan adik-adik saya, bernyanyi riang gembira seraya memperagakan seseorang menyunggi bakul dan memegang pacul, berjalan dengan sombong gembelengan, tapi pada akhirnya menyesal. Semoga kita khususnya anda Sahabatku para pembaca, dan lebih khusus lagi diri saya sendiri, bisa mengambil hikmah serta menghayati dan mengamalkan makna filosofis dari tembang dolanan ini.

Amin.

 (Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat