Cakrawala

Kultus Individu

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Islam adalah agama tauhid, yang mempercayai hanya ada satu Tuhan dan menolak tuhan-tuhan lain selain Allah. Seorang penganut agama tauhid tak pernah menundukkan diri, apalagi memuja sesama makhluk ciptaan Tuhan secara berlebihan – dikenal dengan istilah kultus individu.

Muhammad s.a.w., menurut ajaran islam, adalah seorang utusan Allah yang membawa wahyu untuk diajarkan  kepada manusia. Dia, seperti disinyalir dalam Al-Quran surah Fushshilat ayat 6, adalah manusia biasa seperti manusia lainnya: hidup di tengah masyarakat, bergaul dengan kerabat, berdagang, menikah, mempunyai anak, dan meninggal.

Selain sebagai utusan Allah, Muhammad juga seorang pemimpin, seorang kepala pemerintahan, yang memerintah menurut aturan dan undang-undang berdasarkan petunjuk dan wahyu dari Allah. Melalui dua kalimat syahadat, setiap muslim di wajibkan untuk percaya dan beriman kepada agama yang di bawa Nabi Muhammad serta menjadikannya sebagai teladan ( uswatun hasanah )

Namun kecintaan dan ketaatan kepada Rasul tidak boleh – bahkan diharamkan- sampai menjurus pada praktik menyembah atau memperlakukannya sebagai Tuhan. Sepanjang sejarah umat manusia, sering ditemukan riwayat tentang pemimpin yang di kultuskan. Dalam Al- Quran misalnya di kisahkan tentang Fir’aun dan Namrudz yang mengaku sebagai tuhan dan di sembah rakyatnya. Dalam sejarah modern, ada orang-orang seperti Hitler di Jerman yang di anggap sebagai turunan Arya & “Uber Alles”, atau Tenno Heikan di Jepang yang di percaya sebagai turunan Dewa Matahari.

Namun sejarah juga mencatat bahwa para pemimpin yang dikultuskan itu meninggal dalam keadaan tragis. Lihat saja Fir’aun yang tenggelam di laut, atau Hitler yang di hukum bunuh karena di tuduh sebagai penjahat perang. Mungkin pengkultusan yang terjadi sejak dulu hingga zaman modern ini sudah menjadi sifat atau naluri manusia Sehingga selalu membuat orang lupa pada akhir tragis, baik yang di alami oleh bangsa maupun pemimpin yang dikultuskan itu.

Bangsa Indonesia, meski telah lebih dari 50 tahun merdeka dan bebas dari penjajahan , meskipun ternyata masih belum terbebas dari mental pengkultusan semacam itu terhadap pemimpinnya. Baik pada era Orde Lama maupun Orde Baru, perlakuan secara berlebihan terhadap dua pemimpin negara dalam masa itu terkadang menjurus pada praktek pengkultusan.

Pada masa Orde Lama, Presiden Soekarno berkuasa secara absolut. Bahkan di angkat menjadi presiden seumur hidup, sambil diberikan berbagai gelar serba agung. Siapa yang berani mengeritik dan tak setuju terhadap kebijakannya, orang itu di penjara. Dalam beberapa hal, ini juga terjadi pada masa Orde Baru di bawah pimpinan presiden Soeharto. Akibatnya, Soekarno an Soeharto di kelilingi oleh orang-orang yang cuma pandai mengambil muka, atau bermental asal bapak senang (ABS). Akhirnya, kita tahu, dengan beberapa perbedaan tertentu, Soekarno dan Soeharto berhasil di gulingkan rakyat dan mahasiswa.

Kuatnya mental kultus Individu di Indonesia hingga kini mungkin anatara lain di sebabkan oleh tradisi dan budaya paternalistik yang diakui masih cukup kuat. Inipun tak dapat di lepaskan dari budaya feodal yang di warisi raja-raja masa lalu. Dalam perspektif agama, ini semua akibat masih rapuhnya pemahaman tauhid pada sebagian umat Islam yang nota bene mayoritas di negeri ini. Ini akan berbahaya, apalagi jika di salahgunakan demi kepentingan politik tertentu, seperti sudah terlihat belakangan ini

Belajar dari pengalaman sejarah, setiap pemimpin yang disanjung dan di kultuskan oleh rakyat niscaya cenderung otoriter, melakukan korupsi dan berbagai tindak pelanggaran. Dia juga akan di kelilingi oleh para pembantunya yang ABS. Akibat lebih jauh adalah rakyat kecil akan terus menderita. Selain itu, sejarah mengajarkan bahwa pemerintahan yang otoriter selalu berakhir yang berakhir tragis.

Mengingat hal-hal tersebut, di era reformasi ini, budaya kultus Individu – tak peduli siapapun Individunya – tampaknya sudah saatnya di hilangkan. Karena itu, khusus bagi umat Islam, pemahaman tentang tauhid perlu lebih ditingkatkan, di sertai dengan tugas amar ma’ruf nahi munkar. Insya Allah, dengan meningkatnya pemahaman tentang tauhid, harkat dan martabat sebagai bangsa serta manusia akan terangkat. Pada akhirnya, bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan terhormat.        

Penulis Rusjdi Hamka, pernah menjadi Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Umum Panji Masyarakat. (Sumber: Panji Masyarakat, 4 Agustus 1999)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda