Tasawuf

Syahadat dan Shalawat Ala Sunan Kalijaga

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Suluk Singgah-Singgah ini menarik untuk dikaji. Di samping menggambarkan suasana peralihan kepercayaan dan agama, juga menunjukkan kepada kita masyarakat zaman sekarang, bagaimana para wali Allah mengajarkan ketauhidan. Untuk itu mari kita lengkapi empat bait dalam tulisan terdahulu, lengkap menjadi 13  bait sebagai berikut:

Bait 5:

Na kanung kulon sangkannya

Nunggang gajah telale elar singgih

Kullahu marang balikul

Jim setan brekasakan

Amuliha mring tawang-tawang prajamu

Eblise ywa kari karang

Kulhu balik bolak balik.

Bait 6:

Ana kanung lor sangkannya

Nunggang gajah telale elar singgih

Kullahu marang balikul

Jim setan brekasakan

Amuliha mring tawang-tawang prajamu

Eblise ywa kari karang

Kulhu balik bolak balik.

Bait 7:

Ambalik marang angganya

Balik marang badanira pribadi

Balik karsaning Hyang Agung

Lelembut samya nginthar

Tulak sarap samangkya ganti winuwus

Arane sarap den ucap

Sagung kama salah kapti.

Bait 8:

Arane sarap kang lanang

Kulhu putih wadone kulhu kuning

Ywa wuruk sudi maringsun

Lawan maring ki jabang

Sarap wangke sarap wedang sarap awu

Sira kabeh suminggaha

Muliha kamulaneki.

Bait 9:

          Geger setan wetan samya

Anerus jagad kulon playuning dhemit

Ing tengah Bathara Guru

Tinutup Nabi S(u)leman

          Daya setan brekasakan ajur luluh

Ki jabang bayi wus mulya

Liwat siratal mustakim.

          Bait 10:

          Geger setan kidul samya

Anrus jagad kulon playuning dhemit

Ing tengah Bathara Guru

Tinutup Nabi Sleman

Eblis setan brekasakan ajur luluh

Ki jabang bayi wus mulya

Liwat siratal mustakim.

Bait 11:

Ajiku gajah panudya

Kebo dhungkul brama rep sirep sami

Sarap lelara puniku

Asuwung canthung jagad

Tuking mata lire mata manik ingsun

Panahku sapu buwana

Dadekna kusuma adi.

Bait 12:

Tibakna mring jalma lupa

Eling mengko eling embenireki

Rahayu sa’umur ingsun

Pratapan sun wus wikan

Ingsun ngadeg satengahing samodra gung

Palinggihku lintang johar

Sasedya sun pasthi dadi

Bait 13:

Sun langgeng amuja mantra

Pan jaswadi putra ing kodratmanik

Laa ilaaha illaa-llaah

Muhammad Rasulullah

Sallallahu Alaihi wasallam

Waalaekumusalam

Puniku pupuji mami.

Secara umum bait-bait tembang di atas menggambarkan bagaimana segala bentuk kejahatan yang sangat ditakuti masyarakat pada masa itu, terutama yang bersifat gaib, dikalahkan, ditolak atau dikembalikan kepada asal dan pengirimnya. Digambarkan pula gagah perkasa, kehebatan serta kesaktian siapa yang membaca Kidung ini dengan keyakinan teguh. Yang menarik adalah bait kesembilan dan kesepuluh yang hanya berbeda dalam menyebut soal arah, dalam hal ini bait kesembilan menunjuk arah wetan atau timur, sedangkan bait kesepuluh menyebut arah kidul atau selatan. Satu persamaan dalam kedua bait tersebut yakni sama-sama menggambarkan peralihan kepercayaan dengan masih mengakomodasi kepercayaan lama yaitu mengakui adanya dan peranan Betara Guru,  namun sudah memasukkan kepercayaan baru yang merupakan kekuatan pendukung yaitu Nabi Sulaeman, sekaligus juga dimasukkan pemahaman baru yaitu siratal mustakim. Mari kita simak terjemahan bait kesembilan sebagai berikut:  

     Setan-setan yang berasal dari timur geger semuanya     

Lari ke barat ke wilayah para dhemit (jenis makhluk halus lain)

Karena di tengah kita berjaga Betara Guru (Pimpinan para Dewa)

Yang didukung penuh oleh Nabi Sulaeman (nabi para manusia, binatang dan makhluk halus).

Segala daya kekuatan setan yang mengerikan itu hancur luluh

Sang Bayi sudah mulia (bisa berarti bayi sesungguhnya yang di dalam kandungan atau bayi kiasan dari Islam sebagai agama baru di pulau Jawa),

Lewat jalan yang lurus (yang diridhoi).

Lebih jauh lagi, bait ketigabelas atau bait penutup, mengajarkan tentang mantera-mantera yang membuat orang bisa menjadi sakti manderaguna. Mantera yang dipanjatkan secara langgeng, terus-menerus sebagai doa itu tiada lain adalah syahadat dan shalawat yaitu:

Saya akan terus-menerus memanjatkan mantera

Pembungkus putra atas kuasa akal budi

Tiada Tuhan kecuali Allah 

Semoga Gusti Allah menganugerahkan keselamatan dan kesejahteraan untuk Baginda  (Kanjeng Nabi Muhammad).

Dan semoga kalian terselamatkan dari duka nestapa dan kesulitan

Inilah doa andalan saya.

Demikianlah, Suluk Singgah-Singgah yang terdiri dari tigabelas bait  mengajarkan kepada kita cara berdakwah yang lembut. Memang itu memerlukan kesabaran dan kerendahan hati yang luar biasa. Bait ketigabelas Suluk ini menunjukkan adanya suatu tembang atau nyanyian di masa lalu yang mengajarkan orang mengucapkan kalimat syahadat sekaligus shalawat untuk Kanjeng Nabi Muhammad.

Dengan Suluk ini orang-orang Jawa menemukan Gusti Allah dan mengucapkan syahadat tauhid, syahadat rasul, shalawat dan ucapan salam sekaligus, dalam bahasa yang sederhana.  Inilah syahadat dan shalawat ala Sunan Kalijaga, yang melengkapi dakwah para ulama lainnya pada abad XV – XVI, sehingga berhasil mengislamkan sebagian masyarakat Jawa dan Nusantara di daerah-daerah pesisir, yang selanjutnya berkembang menjadi pemeluk Islam terbesar di dunia dewasa ini.

Alhamdulillah. (Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda